Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 111


__ADS_3

Rachel yang terus mengomel seketika dibuat terdiam seribu bahasa saat mulutnya di bungkam dengan bibir lembut Arsen. Matanya pun kembali membulat, tubuhnya seolah mematung hingga tak kuasa bergerak kala itu. Namun hanya beberapa menit kedua bibir mereka menyatu, Arsen pun perlahan melepaskan tautan bibir mereka, lalu dengan lembut mengusap bibir Rachel dengan ibu jarinya, tatapannya kala itu terasa begitu lekat menatap kedua mata Rachel.


"Cerewet sekali." Ucap Arsen dengan begitu pelan.


Saat itu Rachel masih diam terpaku menatap Arsen yang juga masih menatapnya.


"Dengar! Mulai hari ini, tidak ada barang, dalam bentuk apapun itu, yang boleh kamu terima dari lelaki manapun selain dariku. Mengerti?" Tegas Arsen dengan suara setengah berbisik.


Tanpa sadar Rachel pun mengangguk patuh layaknya seseorang yang sedang terkena hipnotis, ya lebih tepatnya seseorang yang sedang terkena hipnotis cinta.


"Kamu terlihat cantik saat patuh begini." Arsen pun tersenyum sembari mengusap lembut pipi Rachel.


Membuat pipi Rachel semakin memerah, hingga ia yang awalnya terus mengomel, kini seketika berubah menjadi wanita manis nan penurut.


"Ya sudah, ayo turun." Ucap Arsen yang akhirnya mengajak Rachel untuk turun dari mobil.


Mereka pun kembali memasuki gedung kantor utama saat waktu sudah menunjukkan pukul 15:00 petang. Dalam setiap langkah menuju ruangannya, pikiran Arsen masih merasa tak tenang semenjak ia tau jika Antony meracikkan parfum khusus untuk Rachel. Karena ia sedikit banyaknya tau bagaimana sepak terjang Antony dalam urusan asmara. Meskipun ia terkesan ramah pada semua wanita, namun sepengetahuan Arsen, belum pernah ada berita tentangnya yang berkaitan dengan wanita. Tidak pernah terdengar berita ia yang secara special membawa seorang wanita masuk ke ranah pribadinya apalagi sampai menciptakan aroma khusus untuk seorang wanita yaitu Rachel.


"Ada apa?" Tanya Rachel yang menyadari sikap aneh Arsen.


"Kamu masuk lah ke ruanganmu duluan."


"Kamu mau kemana?" Rachel pun mulai mengernyitkan dahinya.


"Aku mau pergi sebentar, ada sesuatu yang mendadak harus aku selesaikan."


"Oh begitu, baiklah." Jawab Rachel dengan wajahnya yang nampak sedikit di tekuk.


"Tenang lah, aku tidak mungkin berbuat sesuatu yang akan membuatmu cemburu." Ucap Arsen sembari tersenyum tipis.


"Emm baiklah, aku percaya." Rachel pun akhirnya ikut tersenyum dan membiarkan Arsen pergi.


Sembari melangkah menuju area parkir, Arsen pun memilih untuk menelpon Alex.


"Uncle,"


"Ya Arsen, ada apa?" Jawab Alex.


"Antony Yue, CEO dari Starlight Corp yang sekarang menjadi partner perusahaan kita. Aku ingin Uncle mencari tau keberadaannya saat ini dan langsung beritahu padaku secepatnya."

__ADS_1


"Oh ok baik,"


Arsen pun langsung mengakhiri panggilannya, lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil. Koneksi yang dimiliki Alex dalam hal mencari sebuah informasi sungguh tak perlu diragukan lagi, hal itu terbukti dari hanya memerlukan waktu lima menit saja, semua informasi yang dibutuhkan Arsen pun telah ia dapatkan.


Arsen pun langsung menancapkan gas menuju ke lokasi dimana Antony berada saat itu. Menempuh waktu tiga puluh menit lamanya, kini mobil yang di tunggangi oleh Arsen pun telah terhenti di sebuah area khusus tempat bermain golf.


Arsen pun melangkah dengan tenang menuju hole tempat dimana Antony bermain golf. Saat itu Antony terlihat sedang bersama klien bisnisnya yang lain. Kedatangan Arsen sore itu seolah begitu tepat waktu, bagaimana tidak, saat itu Antony dan kliennya baru saja selesai bermain golf dan bersiap untuk keluar dari lapangan.


Menyadari keberadaan Arsen yang sudah berdiri di hadapannya, membuat Antony seketika menghentikan langkahnya dan menatap Arsen dengan tatapan yang tak biasa.


"Baiklah tuan muda, senang bisa berdiskusi sambil bermain golf bersama anda. Kalau begitu saya permisi duluan." Ucap kliennya.


Antony pun tersenyum dan langsung mengangguk. Setelah kliennya pergi, ia pun memerintahkan asistennya untuk menunggunya di mobil. Lalu dengan langkah tenang ia pun mulai kembali melangkah menghampiri Arsen.


"Wah, hal penting seperti apa yang bisa membawa seorang tuan muda Arsen Lim repot-repot datang menemuiku disini." Celetuk Antony sembari tersenyum.


Mendengar hal itu membuat Arsen hanya mendengus dan tersenyum sinis.


"Bisa luangkan sedikit waktu untuk bicara?" Tanya Arsen dengan datar.


"Wow hahaha tentu." Antony pun langsung menuntun Arsen untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka.


"Tidak perlu repot." Arsen pun ikut duduk.


"Emm baiklah, ada apa?"


"Langsung ke intinya saja, apa sebenarnya tujuanmu pada Bella?"


"Oh hahaha astaga, nampaknya Bella sudah masuk ke dalam daftar obrolan penting bagimu ya hingga membuatmu begitu repot datang kesini untuk menanyakan hal ini." Antony pun akhirnya terkekeh geli.


Namun tidak dengan Arsen yang masih terus menatapnya dengan tatapan yang begitu datar.


"Repot-repot mengantarnya pulang, mengajak dinner, hingga yang terakhir membawanya masuk ke dalam ruangan pribadimu dan meracikkan sebuah parfum khusus untuknya. Tentu hal-hal seperti itu tidak akan kau lakukan jika tanpa ada maksud dan tujuan tertentu." Ungkap Arsen sembari mulai memicingkan matanya.


"Wah, sepertinya kau begitu hapal setiap detailnya ya hahaha." Antony kembali tertawa.


"Tidak usah banyak berkelit, katakan saja apa maksud dan tujuanmu padanya?" Tanya Arsen lagi masih dengan wajah datar tanpa ekspresinya.


Antony pun berhenti tertawa dan mulai menatap Arsen dengan tatapan yang nampak serius.

__ADS_1


"Apapun itu, ku jamin tidak akan menyakitinya. Jadi kau tidak perlu khawatir." Jawab Antony tersenyum.


"Kenapa kau begitu yakin tidak akan menyakitinya?"


"Karena aku menyukainya." Jawab Antony dengan tenang.


Mendengar pernyataan Antony, sontak membuat darah Arsen mendadak terasa seakan begitu mendidih, matanya pun seketika membesar, hingga tanpa ia sadari kedua tangannya mulai mengepal.


"Aku pun tau kau juga menaruh hati padanya, itu terlihat jelas dari sorot matamu. Meskipun sekarang kau telah menjadi partner penting dalam bisnisku, namun itu tidak akan membuatku sungkan dalam urusan pribadi. dan aku sama sekali tidak keberatan jika harus bersaing secara sehat denganmu untuk mendapatkan hatinya."


Mendengar pernyataan Antony lagi-lagi membuat Arsen seketika mendengus dan tersenyum sinis.


"Hah, bersaing untuk mendapatkan hatinya?"


"Ya, kenapa tidak? Dan saranku, kau tidak perlu merasa minder jika harus bersaing lagi denganku, meskipun ku yakin kau pun tau siapa pemenangnya nanti." Ucap Antony dengan begitu percaya diri.


Mendengar hal itu sontak membuat Arsen tertawa geli sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hanya karena pernah kalah balapan denganmu, tentu tidak akan membuatku jadi minder. Justru kali ini aku sangat percaya diri." Ucap Arsen tersenyum dan kemudian bangkit dari duduknya.


Melihat reaksi Arsen yang terlihat begitu tenang dan senang, membuat Antony menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Oh ya, sepertinya aku lupa memberitahumu tentang satu hal penting ini." Ucap Arsen yang semakin tersenyum sembari mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam saki celana.


Antony masih diam, menatapnya dengan sikap tenang.


"Aku dan Bella, telah resmi berpacaran sejak beberapa hari yang lalu." Tambah Arsen yang semakin melebarkan senyumannya.


Membuat mata Antony seketika melebar, ia begitu terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Arsen.


"Ku harap kau tidak syok mendengarnya." Arsen yang terus tersenyum pun menepuk-nepuk pelan pundak Antony secara singkat dan kemudian langsung melangkah pergi begitu saja.


Meninggalkan Antony yang masih terduduk dan hanya bisa terdiam memandangi langkah Arsen yang beranjak pergi meninggalkannya.


"Oh ya, satu lagi." Ucap Arsen yang kembali berbalik badan ke arah Antony.


"Ku harap kau bisa jaga batasanmu terhadap kekasihku." Arsen pun kembali memunculkan senyuman kepuasannya dan kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan Antony.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2