
Arsen, mendadak seperti berubah menjadi anak kecil saat berada di dalam dekapan Yuna. Ia pun semakin erat memeluk ibunya, dan mulai tersenyum lirih saat mendengar saran dan masukan Yuna.
"Eeemmm ternyata rasanya masih sama." Gumam Arsen pelan.
"Masih sama??"
"Eeemmm." Arsen pun menganggukkan pelan kepalanya.
"Rasa apa yang masih sama?" Dan Yuna nampaknya masih bingung dengan pernyataan Arsen.
"Jujur, sudah sangat lama rasanya aku tidak memeluk mama seperti ini, dan ternyata rasanya masih sama seperti dulu pada saat aku yang selalu memeluk mama, masih terasa sangat nyaman dan terasa hangat." Ungkap Arsen lagi.
Yuna pun seketika dibuat tersenyum, lalu kembali mengusap-usap punggung putra sulungnya yang sudah tidak kecil lagi.
"Yaa, peluk lah mamamu ini seberapa lama pun yang kamu mau sayang, mama disini, untukmu." Jawab Yuna dengan begitu lembut.
"Terima kasih banyak ma, terima kasih sudah ada disini, di sisiku. Entah ilmu magic apa yang mama kuasai sekarang, aku benar-benar jauh merasa lebih baik sekarang, lebih tenang." Ungkap Arsen yang dengan perlahan mulai melepaskan tautan tubuh mereka dan mulai menatap Yuna dengan begitu dalam.
Namun apa yang terjadi, kali ini Yuna malah melototi putra sulungnya itu lalu mulai memukul pahanya.
"Aduh!!" Ringis Arsen sembari mengusap-usap pahanya.
"Kenapa mama malah memukulku??" Tambahnya lagi yang terlihat terkejut bercampur bingung.
"Hei anak nakal, kamu kira mamamu ini seorang dukun? Atau penyihir, begitu? Kenapa harus ada ilmu magic agar bisa membuat anak merasa nyaman bersandar pada ibunya haa?!"
"Oh itu." Arsen akhirnya mengerti hal yang membuat Yuna jadi melototinya dan ia pun kembali tersenyum tipis.
"Hanya begitu saja kenapa langsung marah, bukankah sebelumnya mama begitu lembut padaku, kenapa sekarang jadi kembali galak saat tau aku sudah jauh merasa lebih baik???" Keluh Arsen dengan nada manjanya.
Hal itu membuat Yuna tak kuasa menahan tawanya, ia pun kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah ok, mama tidak akan melototimu lagi."
"Boleh aku peluk lagi?" Arsen dengan senyumannya kembali menjulurkan kedua tangannya.
"Sini sayangg." Yuna dengan begitu tulus langsung memeluk tubuh tegap anaknya lagi.
Hari ini, Arsen kecil terasa kembali dalam pelukan Yuna, hanya berbeda di ukuran tubuh saja. Karena Arsen yang dulu tubuhnya berada sepenuhnya dalam pelukan Yuna, namun kini keadaannya berbalik, justru tubuh Yuna lah yang masuk dalam dekapan tubuh Arsen yang tegap.
"Lalu setelah ini, apa kamu masih ingin terus terpuruk seperti ini nak?"
"Entah lah ma, aku masih merasa jika hidupku sudah tidak punya tujuan lagi saat ini."
__ADS_1
"Tidak sayang! Mungkin kemarin kamu memang tidak punya tujuan, tapi mulai saat ini, kamu sudah punya tujuan."
"Kepergian Rachel seolah meruntuhkan duniaku dalam sekejab, lalu apalagi yang harus ku tuju saat duniaku saja telah runtuh?"
"Tujuanmu adalah Paris!" Jawab Yuna tegas.
Arsen pun seketika terdiam, ia kembali melepaskan pelukannya secara perlahan, lalu mulai menatap wajah Yuna dengan tatapan yang tak biasa.
"Ingat, apa yang tadi mama katakan? Jika masih ada perasaan cinta, walau sedikit, maka rumah tangga kalian masih layak untuk dipertahankan, perpisahan kalian saat ini hanyalah karena ego, dan ego jika terus menerus diikuti, maka lambat laun ia akan menghancurkan. Apa kamu rela hidupku di taklukan hanya dengan ego??" Yuna berbalik menatap wajah putranya dengan tatapan penuh penekanan.
Arsen masih terdiam, dan itu hanya berlaku pada mulutnya, tapi tidak pada otaknya yang terus menerus berfikir, mencerna segala ucapan Yuna yang dia rasa memang ada benarnya.
"Percuma ma, bisa jadi kedatanganku kesana sudah tidak di harapkan lagi olehnya. Dan bisa jadi, dia sudah hidup senang disana bersama orang-orang bule disekitarnya." Arsen pun terlihat mulai menundukkan kepalanya dan dibarengi pula dengan sebuah senyuman lirih yang terpancar di wajah sendunya.
"Jadi, hal itukah yang membuatmu ragu untuk datang menyusulnya ke Paris?"
"Ya, mungkin itu salah satunya ma. Mengingat, dia yang dengan mudah pergi meninggalkanku begitu saja, hanya meninggalkan sepucuk surat yang surat itu pun tidak membuat perasaan dan hidupku jadi jauh lebih baik."
"Itu tidak benar sayang, Rachel pun sama terpuruknya denganmu." Jelas Yuna sembari memegang lengan Arsen.
"Omong kosong apa lagi ini." Arsen kembali tersenyum lirih sembari mendengus.
"Haaais," Yuna pun ikut mendengus, sembari sebelah tepi bibirnya terlihat terangkat.
"Bisa-bisanya kamu tidak percaya pada orang yang telah mengandungmu selama sembilan bulan ini." Gerutu Yuna sembari mulai mengotak atik ponselnya.
"Mama mau apa?" Tanya Arsen bingung.
"Ini, lihat dan baca sendiri!!" Yuna menyerahkan ponselnya yang kala itu sedang memperlihatkan isi pesan antara dirinya dan Shea.
"Pada saat perjalanan kesini, mama menyempatkan diri berbalas pesan pada mertuamu." jelas Yuna lagi.
Arsen dengan cepat meraih ponsel itu, kini sorot matanya terlihat begitu fokus menatap layar terpaku yang ada di hadapannya. Berselang beberapa detik saja, sebuah senyuman yang nampak ranum mulai pelan-pelan muncul dari wajah sendu itu.
Yuna, kala itu ia terus menatap wajah anaknya, ia pun ikut tersenyum kala melihat senyuman yang dengan sedikit ragu-ragu muncul di wajah Arsen.
"Bagaimana sekarang? Apa masih belum yakin juga?" Tanya Yuna sembari meraih kembali ponsel pintar miliknya.
"Jadi..."
"Yaaa, dia pun terpuruk saat jauh darimu."
"Tapi kenapa dia memilih pergi meninggalkan aku?"
__ADS_1
"Yaa begitu lah memang sifat alami seorang wanita Arsen Lim, terkadang apa yang dilakukan seorang wanita, keputusan yang ia ambil, kadang sama sekali tidak sejalan dengan apa yang dirasakannya. Dengan adanya berita dan masalah yang Rachel ciptakan, maka Rachel merasa jika ia sudah sangat tidak pantas lagi untukmu, dan itulah sebabnya dia pergi. Dia pergi karena sudah merasa tidak pantas untukmu, bukan karena sudah tidak mencintaimu."
"Baiklah ma." Arsen pun menghela nafas berat.
"Baiklah?? Eemm baiklah apa? Apa kamu setuju?" Yuna pun semakin mengembangkan senyumannya.
"Baiklah, akan aku pikirkan lagi nanti." Jawab Arsen yang kemudian langsung bangkit dari duduknya.
Senyuman Yuna yang awalnya sudah begitu merekah bak bunga mawar di pagi hari, kini mendadak kembali menciut dan layu.
"Heii Arsen Lim, kenapa malah masih ingin membuang-buang waktu untuk memikirkannya???" Keluh Yuna yang ikut bangkit dan mengikuti langkah Arsen.
Di tengah langkah cepatnya untuk menyusul langkah lebar Arsen, tak sengaja pula kaki Yuna menendang sebuah botol kosong yang kala itu tengah bergelimpangan di lantai.
Membuat langkah keduanya mendadak terhenti saat mendengar bunyi botol kaca yang terdengar begitu nyaring. Arsen langsung menoleh cepat ke arah Yuna dan memandangi botol minuman yang bergelinding di lantai.
"Arsen Lim, kenapa apartement ini berubah jadi begitu menyeramkan sekarang??"
"Maaf soal ini ma, mama tau akhir-akhir ini pikiranku begitu kalut, semangat hidup pun telah tiada."
Yuna pun menghal nafas panjang.
"Baiklah, biarkan mama yang menghandle ini semua."
Yuna kembali pada ponsel pintarnya, lalu menelpon pegawai kebersihan yang ada di apartement itu.
"Baiklah, tolong kirim beberapa orang ya, karena ku yakin pegawai kebersihan tidak akan sanggup jika hanya sendiri." Ucap Yuna sembari tersenyum pada seseorang di balik telpon.
"Ah baiklah, aku tunggu sekarang, terima kasih."
Arsen yang jelas mendengar hal itu hanya diam, tidak merespon dan kembali duduk di meja bar sembari menuang kembali wine ke dalam gelas.
Sisi lain di kota Paris...
Seperti biasa, Rachel masih terlihat sama, terlihat lesu, kehilangan semangat juangnya, seolah dunia yang sebenarnya indah ini, sama sekali tidak lagi menarik baginya. Pagi itu udara Paris sangat dingis, dengan memakai sweter rajut tebalnya yang memiliki leher tinggi, Rachel pun duduk termenung di balkon kamarnya. Lamunannya kali ini juga masih sama, masih seputar tentang meratapi nasibnya, tenggelam dalam rasa penyesalannya yang semakin sesakkan dada.
Sebenarnya, sejak semalam Rachel mulai merasakan tidak enak badan, tapi sepertinya pagi ini, puncak dari rasa sakitnya pada bagian ulu hati. Rachel mulai meringis, ia kembali bangkit dan ingin melangkah menuju ranjang, namun nyatanya, semakin ia menghentakkan kakinya di lantai, semakin sakit pula ulu hatinya.
"Sepertinya ini asam lambung." Gumam Rachel dalam hati.
Tak tahan menahan sakit, ia pun bergegas menelpon seorang pelayan terdekatnya dan memintanya untuk membawanya ke rumah sakit.
...Bersambung......
__ADS_1