Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 116


__ADS_3

Arsen ikut tersenyum mendengar jawaban dari Rachel,


"Sekarang aku ingin dengar langsung dari mulutmu, tanpa paksaan, tanpa ancaman, apa kamu sungguh mencintaiku?" Tanya Arsen.


Tidak seperti biasanya yang selalu malu-malu saat bersangkutan dengan masalah perasaan, setelah di lamar secara langsung oleh Arsen, Kini Rachel telah memiliki tingkat percaya diri yang lebih tinggi.


"Ya, aku mencintaimu Arsen Lim." Jawab Rachel yang kembali tersenyum sembari meneteskan air mata bahagianya lagi.


"Bahkan kali ini aku akan jujur satu hal padamu."


"Jujur satu hal?" Dahi Arsen pun mulai mengernyit.


"Iya." Jawab Rachel mengangguk.


"Apa itu? Apa selama ini ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Aku mau jujur, jadi sebenarnya,,, sebenarnya aku..." Rachel nampaknya mulai sedikit gugup serta ragu.


"Kamu apa?" Arsen yang nampak tak sabar langsung memegang kedua pundak Rachel.


Rachel pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia mulai mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia simpan.


"Tapi apa kamu mau berjanji, jika aku mengatakan kebenaran ini padamu, kamu tidak akan marah padaku dan merusak moment indah ini."


"Tergantung pada kebenaran apa yang kamu sembunyikan selama ini." Jawab Arsen santai.


Membuat Rachel seketika langsung memanyunkan bibirnya.


"Ya sudah kalau begitu aku tidak jadi mengatakannya." Jawabnya sembari kedua tangannya mulai bersedekap di dada.


Melihat ekspresi Rachel yang begitu menggemaskan membuat Arsen kembali tersenyum.


"Tolong jangan rusak kecantikanmu dengan bibir manyunmu itu." Ucap Arsen yang tersenyum sembari mencolek dagu Rachel.


"Baiklah, aku berjanji tidak akan marah. Sekarang katakan, kebenaran apa yang selama ini kamu tutupi dariku?" Tambah Arsen lagi.


Akhirnya Rachel pun kembali tersenyum.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya aku,, aku sudah menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu di Paris." Ucap Rachel ragu-ragu.


"Apa?!" Mata Arsen pun seketika di buat mendelik saat mendengarnya.


"Iya, jadi setelah kamu menolongku dan temanku malam itu, aku sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang, entah kenapa wajahmu selalu terbayang di benakku. Dan pertemuan kita yang selanjutnya, itu memang aku yang sengaja mencarimu lagi, aku sengaja menunggu tak jauh dari hotelmu, berharap kita akan bertemu lagi, dan nyatanya takdir memang begitu baik padaku." Jelas Rachel sembari tersenyum malu.


"Dan kemunculanmu disini, apa ada hubungannya dengan ini semua?" Tanya Arsen memastikan.


Dengan pelan Rachel pun mengangguk.


"Tapi, bagaimana kamu tau aku disini? Maksudku di kota ini, karena seingatku, kita tidak pernah berbincang terlalu dalam waktu itu."


"Aku melihatmu di siaran tv internasional waktu itu, dan akhirnya memutuskan untuk datang kesini agar bisa kembali bertemu denganmu, aku ingin membuatmu sadar jika Laura memang bukanlah wanita yang baik. Aku berkata begini karena dia pernah datang ke butikku, eh maksudku ke butik tempatku bekerja waktu di Paris, aku mendengar percakapan dia dengan temannya, dia hanya ingin memoroti hartamu saja Arsen Lim." jelas Rachel dengan matanya yang masih berkaca.


Setelah mendengarnya, Arsen pun semakin melebarkan senyumannya dan seketika langsung memeluk erat tubuh Rachel tanpa aba-aba.


"Terima kasih, berkatmu, kegalauanku tak begitu terasa. Dan kita tidak perlu membahasnya lagi." Bisik Arsen sembari semakin mengeratkan pelukannya pada Rachel.


Rachel pun mengangguk patuh dan membalas kembali pelukan hangat calon suaminya.


Malam itu, Rachel merasa begitu bahagia, bagaimana tidak, usahanya yang rela terbang jauh-jauh dari Paris demi mendekati Arsen dan mencuri hatinya sama sekali tidak sia-sia. Namun ia seolah lupa, jika satu lagi rahasia besarnya masih belum terbongkar, dia bahkan tidak terfikir sama sekali bagaimana efeknya nanti jika Arsen mengetahui hal itu.


"Kamu tunggu di loby ya, aku ke toilet sebentar." Ucap Arsen dengan lembut.


Lagi-lagi Rachel hanya mengangguk patuh, ia pun mulai melangkah keluar menuju loby, sepanjang langkahnya yang seolah terlihat sangat bersemangat, ia terus saja memandangi cincin berlian yang kini telah melingkar di jari manisnya. Hingga tanpa sengaja, ia pun menabrak tubuh tegap seseorang hingga membuatnya terkejut.


"Maaf, maafkan aku." Ucap Rachel panik.


"Bella." Ucap lelaki itu dengan matanya yang mendelik.


Hal itu membuat Rachel semakin terkejut saat mendapati seseorang yang ia tabrak tak lain adalah Antony Yue.


"Tony, kamu juga disini?"


"Ya, aku ada pertemuan di ruang VVIP bersama rekan-rekanku. Dan kamu?" Tanya Antony sembari memandangi penampilan Rachel dari ujung kaki hingga rambut.


"Dia benar-benar sangat cantik saat berdandan seperti ini." Gumam Antony dalam hati.

__ADS_1


"Oh aku,,," Jawab Rachel yang sedikit kikuk sembari melirik ke arah pintu toilet.


"Nampaknya makan malammu begitu formal ya, terlihat dari dandananmu yang sangat tidak biasa, kamu terlihat begitu anggun malam ini. Memangnya kamu makan bersama siapa?"


Belum sempat Rachel menjawab pertanyaan Antony, tiba-tiba saja Arsen muncul di samping Rachel dan langsung menggandeng mesra pinggangnya.


"Dia bersamaku." Jawab Arsen sembari tersenyum tipis.


Mata Antony pun dibuat sedikit membesar saat melihat tangan Arsen yang tanpa ragu berada di pinggang Rachel. Sementara Rachel yang malu hanya bisa tersenyum kikuk.


"Oh astaga, aku hampir lupa. Ya ya ya, aku lupa jika kalian berdua sudah resmi berpacaran ya hehe." Ucap Antony yang masih bersikap tenang sembari tertawa kecil.


"Kau salah, aku dan Bella bukan hanya berpacaran sekarang."


"Lalu?" Antony mulai mengernyitkan dahinya.


"Aku baru saja melamarnya, dan kami akan segera menikah." Jawab Arsen sembari mengangkat sebelah tangan Rachel ke hadapan Antony yang bermaksud menunjukkan cincin lamarannya.


Hal itu pun sontak membuat Antony terkejut, ia sama sekali tidak menyangka jika pergerakan Arsen begitu cepat untuk menuju ke tahap yang lebih serius.


"Bella, benarkah itu?" Tanya Antony yang menatap lekat ke arah Rachel.


"Benar." Jawab Rachel yang sedikit merasa tak enak hati pada Antony yang sudah sangat baik padanya.


"Kau dengar itu? apa jawaban darinya kini membuatmu puas?" Arsen pun semakin melebarkan senyuman kepuasan di hadapan Antony.


Kali ini Arsen benar-benar berhasil membuat Antony bungkam seribu bahasa, dan itu sangat membuatnya merasa sedikit lega. Dia merasa setidaknya saat ini Antony tidak akan berani lagi mendekati calon istrinya.


"Sudah lah jangan begitu, ayo antar aku pulang." Bisik Rachel yang semakin merasa tak enak hati.


Arsen pun mengangguk sembari tersenyum.


"Baiklah tuan muda Antony yang terhormat, senang bisa bertemu denganmu disini, tapi sayangnya malam ini kita tidak bisa berbincang terlalu lama, karena calon istriku sudah sangat lelah dan ingin aku mengantarnya pulang. Selamat malam." Arsen pun merangkul Rachel dan langsung berlalu pergi dari hadapan Antony.


Meninggalkan Antony yang masih diam terpaku memandangi kepergian mereka dengan perasaan yang masih syok.


"Boleh juga kau Arsen Lim," Gumam Antony sembari memandangi kepergian mereka.

__ADS_1


"Tapi tidak apa, bukankah yang menikah saja masih bisa bercerai, apalagi yang belum resmi menikah." Tambah Antony lagi sembari tersenyum tipis dan akhirnya ia pun kembali melanjutkan langkahnya.


...Bersambung......


__ADS_2