
Mata Rachel seketika membulat saat pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Arsen.
"Kita bahkan baru beberapa jam menikah, apa kamu sungguh akan menceraikan aku Arsen Lim?" Tanya Rachel lirih.
Arsen sama sekali tidak menjawab, ia hanya menghela nafas kasar sembari mulai memasang sabuk pengamannya. Namun bukan Rachel namanya tidak pandai mengetes perasaan Arsen Lim sesungguhnya.
"Mari kita lihat, apa dia sungguh ingin menceraikan aku secepat ini." Celetuk Rachel dalam hati.
"Emm baiklah jika itu mau mu, sepertinya aku sudah lelah memperjuangkan pernikahan ini sendiri." Ucap Rachel dengan lantang sembari ingin membuka pintu mobil.
Arsen yang mendengar perkataan Rachel masih diam, namun dengan cepat ia langsung menekan tombol yang berada di bagian pintu di dekatnya, hingga membuat seluruh pintu pada mobilnya terkunci otomatis hingga membuat Rachel tak bisa keluar. Berkali-kali Rachel menarik handle pintunya, namun pintu mobil itu tetap tak bisa terbuka.
"Ayo buka pintunya, aku mau keluar, bukankah kamu begitu tidak ingin tinggal bersamaku." Kali ini gantian Rachel yang melotot pada Arsen.
Namun Arsen hanya mendengus, dan langsung menjalankan mobilnya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hal itu akhirnya membuat Rachel diam-diam jadi tersenyum karena ia menyadari, jika Arsen tidak sungguh-sungguh ingin menceraikannya.
"Jelas-jelas kamu tidak ingin berpisah dariku, tapi kenapa masih ingin berlagak ketus." Gumam Rachel dalam hati.
Arsen melajukan mobilnya menuju apartement barunya yang Rachel tau jika apartement yang baru di belinya itu seharusnya adalah untuk dijadikan hadiah pernikahan. Namun sikap dingin Arsen membuat Rachel malas membahasnya saat itu, di tambah pula dengan kondisi badannya yang terasa begitu lelah, membuat mereka jadi saling diam sepanjang jalan.
Di tengah perjalanan, rachel yang akhir-akhir ini memang kurang tidur dan kelelahan, akhirnya bisa tertidur dengan sangat pulas. Hal itu membuat Arsen yang menyadari akan hal itu hanya bisa bergumam kesal dalam hati.
"Wanita ini, bisa-bisanya dia tidur pulas di sini saat aku masih marah padanya."
30 menit berlalu, kini mobil sport yang dikendarai oleh Arsen pun telah terhenti dengan sempurna di parkiran basement. Arsen pun melirik ke arah Rachel, saat itu nampak Rachel yang masih tertidur dengan begitu pulasnya hingga tak menyadari jika mereka sudah sampai.
__ADS_1
Arsen pun perlahan mendekatinya, menatap lekat wajah Rachel yang memang terlihat begitu kelelahan.
"Rasanya masih seperti mimpi, saat mengetahui jika ternyata kamu adalah si pipi bakpao, anak kecil gendut yang begitu menggemaskan, yang tega membiarkan aku bermain seorang diri sejak kepergianmu ke Paris." Arsen mulai tersenyum lirih saat memandangi wajah Rachel yang kini telah menirus.
"Kenapa kamu harus menyamar seperti ini? Kenapa harus membohongiku? Kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal jika kamu adalah si pipi bakpao? Kenapa?" Arsen terus bergumam dalam hatinya menyesali berbuatan Rachel.
Kala itu, Rachel tiba-tiba saja mengubah sedikit posisinya, membuat beberapa helai rambutnya menutupi bagian wajahnya. Arsen yang menyaksikan hal itu, perlahan mulai mendekatkan tangannya ke wajah istrinya itu, ia bermaksud ingin menepis rambut yang akan membuat Rachel terganggu dalam tidurnya.
Namun saat tangan Arsen sudah begitu dekat dengan wajah Rachel, ia seketika menghentikan aksinya dan menghela nafas panjang. Tak lama Rachel pun kembali bergerak dan perlahan mulai membuka matanya, Arsen yang menyadari hal itu pun langsung menarik kembali tangannya dan bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Hah astaga, aku ketiduran, maafkan aku." Ucap Rachel pelan sembari mengucek-ngucak matanya.
Arsen hanya diam dan tak menoleh ke arah Rachel sedikit pun. Rachel yang mulai menyadari jika mobil yang ia naiki telah terhenti, mulai memandangi sekelilingnya.
"Ki, kita sudah sampai?" Tanya Rachel yang langsung menatap Arsen dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Astaga, maaf, aku sungguh tidak menyadarinya. Lagi pula kenapa tidak membangunkan aku?"
"Syukurlah akhirnya kamu bisa bangun sendiri tanpa harus merepotkan aku." Ketus Arsen yang langsung membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar dari mobilnya.
"Karena kamu tertidur, aku harus menghabiskan waktu beberapa menit untuk bisa keluar. Benar-benar buang waktu saja." Ketus Arsen sembari keluar dari mobilnya.
Mendengar ocehan lelaki yang baru menjadi suaminya itu, sontak membuat Rachel memanyunkan bibirnya. Ia pun bergegas keluar dari mobil untuk mengejar langkah Arsen.
"Jika memang membuang waktumu, kenapa tidak kamu tinggalkan saja aku sendiri di dalam mobil ini ." Ujar Rachel yang mulai merasa kesal.
__ADS_1
"Ide bagus, akan ku lakukan jika itu terjadi lagi." Jawab Arsen santai sembari terus melangkah menuju lift.
Arsen terus melangkah cepat untuk menuju unit miliknya, sementara Rachel dengan bibirnya yang masih manyun terus mengikuti langkahnya dari belakang sembari kedua tangannya terlihat sibuk menjinjing sepatu hak tinggi dan gaunnya yang panjang.
"Astaga, benar-benar merepotkan sekali jika harus berjalan cepat dengan menggunakan gaun sepanjang ini." Celetuk Rachel dalam hati yang terus mencoba mengangkat gaun selayarnya.
Ia pun kembali menatap tajam ke arah Arsen yang masih berjalan dengan santai di depannya.
"Marah boleh marah, tapi kenapa sikap romantisnya langsung hilang tak berbekas sedikit pun. Dia bahkan tak berniat membantuku dalam hal ini sama sekali, menyebalkan sekali." Ketus Rachel dalam hati yang merasa geram dengan sikap Arsen namun ia pun tak berani menunjukkan kekesalannya.
Arsen membuka pintu dan langsung melangkah masuk, sementara Rachel, langkahnya dibuat terhenti sejenak saat ia sudah berada tepat di depan pintu.
"Apa kamu ingin terus berdiri disini sepanjang malam?" Tanya Arsen datar.
Rachel kembali melesu saat realita malam pertamanya sangat tak sesuai dengan ekspetasi.
"Apa tidak ada adegan pengantin wanita di gendong oleh pengantin pria untuk di bawa masuk ke dalam kamar seperti di drama yang sering ku tonton??" Gumam Rachel lirih dalam hati.
Mendapati Rachel yang hanya diam dan seolah terus melamun, membuat Arsen kembali kesal dan berniat ingin menutup pintunya tanpa menunggu lagi.
"Emm baiklah kalau begitu." Ujarnya sembari ingin menutup pintu apartementnya dan meninggalkan Rachel yang masih terdiam di depan pintu.
"Eh tu, tunggu." Rachel pun tersentak dari halusinasinya yang indah dan akhirnya ia pun langsung masuk tanpa ada adegan romantis seperti yang di bayangkannya.
Arsen langsung terduduk di sofa dengan masih memasang wajah dingin dan datar seperti biasa. Rachel pun demikian, ia ikut duduk di sofa yang berada tak jauh dari Arsen. Entah kenapa, tiba-tiba saja suasana berubah menjadi sangat canggung bagi mereka berdua, Arsen seolah mati gaya dan tak tau harus berbuat apa, begitu pula dengan Rachel yang sama bingungnya.
__ADS_1
...Bersambung......