Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 197


__ADS_3

Bandar Udara...


Arsen dengan senyuman khasnya yang begitu meluluh lantahkan hati banyak wanita, kala itu sedang memeluk tubuh seorang wanita dengan sangat erat, tubuh yang akhir-akhir ini memang menjadi tubuh yang paling sering ia peluk, siapa lagi kalau bukan tubuh Yuna, ibu kandungnya sendiri.


Yuna dengan senyuman yang tak kalah manis meski di usianya yang terbilang sudah tidak muda lagi, ikut membalas pelukan hangat sang anak sulung sembari terus mengusap-usap punggungnya.


"Sedih rasanya mama tidak bisa menemanimu kesana, nak." Ucap Yuna lirih.


"Tenang lah ma, biarkan aku mengatasi masalah rumah tanggaku sendiri, mama cukup hanya memberi dukungan dan doa untukku. Itu sudah cukup membantu." Jawab Arsen yang akhirnya perlahan melepaskan tautan tubuh mereka.


"Eemm, baik lah jika kamu sudah memutuskan. Mama akan terus berdoa untukmu, dan ya, satu permintaan mama."


"Apa itu? Apa yang mama maksud adalah oleh-oleh dari Paris? Tas?? Atau sepatu hak tinggi??" Dahi Arsen mulai mengernyit seolah menyelidik.


"Haaaiis pemikiran macam apa itu!" Yuna seketika memukul lengan Arsen.


Membuat Arsen langsung meringis sembari mengusap-usap lengannya. Benzie yang berada di samping Yuna mendadak ikut tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang tetap saja tidak bisa menutupi sifat galaknya meski di tempat umum.


"Mama bahkan tidak memikirkan hal itu sama sekali!" Tambahnya lagi sembari mulai menyedekapkan kedua tangannya di dada.


"Lalu??"


"Permintaan mama sangat sederhana, ketika kamu kembali, maka kamu harus membawa menantu mama ikut bersamamu kembali kesini! Mengerti tidak?!"


Arsen seketika terdiam singkat, lalu ia kembali tersenyum tipis.


"Aku tidak bisa jamin, tapi aku akan berusaha semampuku, melakukan apapun demi bisa memperbaiki semua kekacauan yang ada." Jawab Arsen dengan bijak.


Yuna pun mengangguk. Sementara Benzie yang mendengar jawaban sang anak, mendadak merasa bangga pada putra sulungnya itu. Benzie pun menepuk-nepuk pundak Arsen sembari kembali tersenyum,


"Inilah Arsen yang papa kenal, Pergi lah bung, perbaiki apa yang perlu di perbaiki, dan bawa menantu kami kembali!!"


Arsen mengangguk dan akhirnya mulai memeluk hangat tubuh Benzie yang kini sama tegapnya dengan tubuhnya.


"Terima kasih untuk tidak meninggalkan aku dalam masalah walah sedetik pa, aku tau di balik diam papa, menyimpan sejuta kepedulian dan ke khawatiran padaku. Terima kasih telah bersedia menjadi papaku, papa yang selalu mensupport anaknya dalam kondisi apapun. Menjadi anak dari seorang Benzie Lim, merupakan hal terbaik dalam hidupku."


Benzie, tiba-tiba saja jadi begitu terharu dengan segala ucapan Arsen yang mendadak begitu puitis. Kedua matanya nampak mulai berkaca-kaca ketika membalas pelukan sang putra.


"Kau terlalu berlebihan bung, hentikan ucapanmu! Sebelum,,," Benzie terdiam sejenak, begitu pula dengan Arsen.


"Sebelum papa benar-benar menangis karena merasa haru." Tambahnya lagi yang kembali mengusap punggung anaknya.


Arsen kembali tersenyum dan mulai melepaskan tautan tubuh mereka,


"Baik lah, jaga diri kalian. Dan ingat, tolong jangan beri tahukan kedatanganku pada Rachel dan keluarganya, aku ingin kedatanganku benar-benar menjadi surprise."


Yuna dan Benzie pun mengangguk sembari terus tersenyum. Kini Arsen beralih menuju sang adik perempuan yang sejak tadi hanya terdiam dengan wajah sendunya,

__ADS_1


"Hei kau, ada apa dengan raut wajahmu itu ha? Kenapa terlihat begitu loyo? Seperti kurang gizi saja." Celetuk Arsen sembari mencolek pipi adiknya.


"Kakak benar akan kembali membawa kak Rachel kan? Kakak tidak akan gagal kan??" Tanya Lylia yang terlihat seolah cemas dengan nasib kakaknya di waktu yang akan datang.


Arsen seketika mendengus dan tersenyum lagi.


"Apa kali ini kau sedang mengkhawatirkan aku? Hah, sulit dipercaya!"


Perasaan yang tadinya sedih, entah kenapa mendadak berubah menjadi kesal karena jawaban menyebalkan dari sang kakak satu-satunya itu,


"Ihh kakakkkk!!"


Arsen semakin melebarkan senyumannya, entah kenapa pula, sejak dulu, selalu ada perasaan puas tersendiri bagi Arsen ketika dia telah berhasil membuat Lylia merasa kesal.


"Ayo sini, kemari lah!!" Arsen langsung menarik kepala bagian belakang Lylia dan memasukkan adiknya ke dalam dekapannya.


Dan ini moment langka, moment ketika Arsen memeluk hangat sang adik dan terlihat begitu tulus. Membuat Yuna dan Benzie jadi tercengang sesaat, melihat betapa manisnya pemandangan di hadapan mereka.


"Sayang, tolong cubit tanganku." Bisik Benzie pada Yuna.


"Ada apa?"


"Tolong cubit saja!"


Yuna yang masih tak mengerti pun akhirnya mencubit kuat lengan suaminya.


"Aagh!" Teriak Benzie.


"Tidak, aku hanya sedang memastikan aku ini sedang bermimpi atau tidak." Jawab Benzie sembari terus mengusap-usap lengannya yang terasa sakit.


"Tidak, kamu sedang tidak bermimpi, semuanya nyata." Tegas Yuna yang kembali memandangi kedua anaknya yang sedang berpelukan satu sama lain.


"Tapi kenapa kamu mencubitku dengan begitu kuat sayang, ini benar-benar sakit."


"Mana aku tau, aku kan hanya menuruti ucapanmu."


"Iya, iya. Kenapa jadi kamu yang marah." Keluh Benzie yang mulai memasang wajah cemberut.


Yuna hanya diam dengan kedua bola matanya yang hanya ia putarkan sekali.


"Waktu terus berjalan, dia tidak akan peduli bagaimana kau akan tumbuh kelak, jadi mulai sekarang tolong dewasa lah sedikit. Jadilah pribadi yang lebih bijak, jadi wanita yang anggun dan berhenti menjadi anak manja." Ucap Arsen pada Lylia namun kali ini nadanya terdengar begitu lembut.


"Percaya atau tidak, kakak sayang padamu! Kakak bahkan rela menjadi pembunuh jika kelak kakak mendengar ada lelaki yang berani menyakitimu. Kau paham itu, jadi tolong dengar nasihat kakak kali ini saja, dunia ini keras, maka hanya orang-orang yang kuat lah yang akan bertahan. Mengerti??"


Lylia pun mengangguk pelan dan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak bisa di pungkiri juga, meski sering tidak akur dan terlibat perdebatan, Arsen tetaplah menjadi kakak kandung, tempat kedua mengadu setelah orang tuanya.


"Hati-hati di jalan kak, tolong cepat kembali."

__ADS_1


"Pasti." Arsen pun melepaskan tautan tubuhnya, lalu mengusap-usap ujung kepala adiknya itu.


Suara panggilan dari operator bandara untuk penerbangan internasional pun mulai terdengar.


"Sudah saatnya." Celetuk Arsen.


Setelah berpamitan, akhirnya Arsen pun pergi. Meninggalkan ketiga orang keluarga intinya yang kala itu terus memandangi punggungnya yang semakin jauh berjalan.


Benzie mulai merangkul pundak istrinya, mengusap-usapnya karena istrinya itu mulai terlihat sendu.


"Dia akan berhasilkan?" Tanya Yuna pelan dengan tatapannya yang masih tak berpaling dari punggung Arsen.


"Tentu saja, dia anakku! Sudah pasti dia mewarisi bakatku dalam hal membujuk seorang wanita yang sedang dalam mode marah." Jawab Benzie sembari tersenyum,


Yuna terdiam, seketika ia mulai menoleh ke arah Benzie dengan tatapan yang tak biasa.


"Hei, kenapa memandangiku seperti itu?" Benzie semakin tersenyum.


"Apa maksudmu??"


"Hehehe tidak ada, tapi tidak kah kamu ingat, dulu aku juga pernah menyusulmu, ya meskipun tidak sampai luar negeri, hanya ke desa hehehe. Saat itu kamu awalnya marah dan menolakku, tapi karena rayuan mautku, kamu akhirnya luluh dan sekarang kamu cinta mati padaku, bahkan sudah tidak bisa jauh sedikit pun dariku. Benarkan istriku??" Rayu Benzie sembari mengedipkan dengan genit sebelah matanya.


Yuna pun seketika mencubit perut suaminya, membuat Benzie lagi-lagi harus meringis kesakitan.


"Sakit sayang!!!"


"Biarkan saja! Siapa suruh jadi orang terlalu percaya diri!"


"Ih tidak, aku bicara fakta!"


"Terserah!" Yuna pun langsung berlalu pergi.


Meninggalkan Benzie serta Lylia.


"Haiish, lihat lah mamamu itu, selalu saja suka marah-marah."


Lylia hanya mengangkat kedua pundaknya lalu ikut pergi menyusul langkah ibunya.


"Haish, anak dan ibu sama saja!!"


Bandar udara Charles de Gaulle, Paris...


Suara gesekan antara landasan dan roda pesawat begitu nyaring terdengar, kini pesawat yang di tumpangi oleh Arsen telah mendarat dengan sempurna tanpa kendala di kota tujuannya, Paris.


Hari itu, suasana di bandara cukup padat merayap, bahkan suara dari berbagai langkah kaki dari segala arah santer terdengar mengiringi setiap pergerakan Arsen untuk keluar dari bandara.


Berada 15 jam lebih di dalam pesawat saat perjalanan menuju Paris, cukup membuat kepala Arsen saat ini bergening. Dengan hanya berbekal alamat rumah keluarga Rachel yang dulu pernah Rachel beritahukan pada Arsen ketika mereka masih bersama, akhirnya Arsen pun langsung memesan taksi bandara untuk langsung menuju ke alamat tersebut.

__ADS_1


Rasa rindu yang begitu menderanya kala itu, membuat Arsen jadi tidak sabaran, tergesa-tergesa, ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Rachel istrinya, ingin langsung memeluknya, merasakan aroma tubuh Rachel yang sudah lama ia rindukan.


...Bersambung......


__ADS_2