
Saat itu, Arsen dan Rachel sejenak menjadi saling diam serta saling menatap satu sama lain. Mata Arsen begitu lekat menatap wajah istrinya yang pagi itu nampak begitu natural, berawal dari menatap kedua bola mata Rachel yang indah, kini tatapan mata Arsen perlahan mulai turun menuju bibir Rachel yang terlihat merah merekah bak buah delima.
"Ke.. kenapa, kamu harus selalu keramas?" Tanya Arsen yang jadi begitu gugup.
Mendengar pertanyaan Arsen sontak membuat Rachel mendengus dan terkekeh singkat.
"Ku pikir kamu akan bertanya 'kenapa kamu selalu menggangguku?' begitu, tapi kenapa justru membahas rambutku?"
Hal itu seketika membuat Arsen tersentak, lalu bergegas untuk bangkit dan menjauh dari Rachel.
"Kenapa menjauhiku? Apa kamu takut tergoda ya jika lama-lama menatapku seperti tadi?" Goda Rachel yang akhirnya ikut bangkit sembari tersenyum.
"Dari dulu rasa percaya dirimu yang berlebih nampaknya tidak pernah pudar ya!!" Ketus Arsen sembari mendengus.
"Emmm benarkah?" Rachel pun kembali menatap Arsen dengan tatapan yang berbeda sembari perlahan kembali mendekatinya.
"Ka, kamu mau apa?" Tanya Arsen yang kembali gelagapan saat menyadari Rachel yang kembali ingin mendekat ke arahnya.
"Benarkah kamu tidak tergoda?" Tanya Rachel lagi dengan suaranya yang semakin pelan seperti setengah berbisik sembari langsung duduk begitu saja di pangkuan Arsen.
"He, hei, apa yang kamu lakukan?!" Mata Arsen seketika melebar.
Namun hal itu justru membuat Rachel hanya tertawa, kala itu penampilan Rachel terlihat cukup berantakan akibat kejadian Arsen yang menariknya tadi, sebelah bahunya kini terpampang jelas, di tambah rambutnya yang ia biarkan sedikit berantakan, justru menambah kesan seksinya pagi itu. Hal itu lagi-lagi membuat Arsen harus menelan ludah, keringat dingin pun perlahan mulai menyucur, saat menahan sesuatu yang sedang bergejolak di bawah sana, lebih tepatnya lagi, sesuatu yang saat itu terhimpit oleh tubuh Rachel.
Rachel pun tersenyum, lalu mulai mengalungkan tangannya ke leher Arsen, anehnya saat itu Arsen sama sekali tak melakukan penolakan, ia justru terpaku, dengan sorot matanya yang tak henti-henti memandangi wajah Rachel. Rachel dengan lembut mulai merapikan rambut Arsen yang terlihat berantakan.
"Rambutmu mulai panjang." Ucapnya lembut.
__ADS_1
Setelahnya, ia pun beralih menuju pipi Arsen dan terus membelainya dengan begitu lembut.
"Aku sama sekali tidak keberatan jika harus terus menerus menggodamu seperti ini, asal itu bisa sedikit demi sedikit meredakan amarahmu, maka akan tetap ku lakukan. Lagi pula aku tidak akan merasa menjadi wanita murahan karena melakukannya pada suamiku sendiri." Ungkapan Rachel terdengar begitu tulus dengan sorot matanya yang berubah jadi sendu.
"Meski saat-saat pertama menjadi sepasang suami istri tidak seindah dan seromantis yang terbayang, tapi aku tetap bahagai. Aku bahagia karena kamu, tetap mau menikah denganku." Tambahnya lagi yang semakin mendekatkan wajahnya pada Arsen.
"I love you more than you know:" bisiknya yang kemudian dengan gerakan begitu pelan, mulai mengecup lembut bibir Arsen.
Arsen kembali membulatkan matanya, namun lagi-lagi ia sama sekali tak kuasa melakukan penolakan dengan hal itu, bahkan is justru menikmatinya. Ia dalam diamnya, ternyata begitu menikmati saat bibir hangat Rachel mulai menyentuh bibirnya.
Rachel melepas sejenak tautan bibir mereka, lalu kembali menatap lekat wajah Arsen yang kala itu masih berdiam diri, akhirnya ia kembali tersenyum dan mencium lagi bibir Arsen dengan lebih dalam, mengecup bibir bagian atas dan bawah secara bergantian, lalu mulai memainkannya dengan lembut. Membuat Arsen tanpa sadar mulai memindahkan tangannya ke pinggang Rachel dan mulai meremas kemeja yang di pakai Rachel saat itu.
Kini pendirian Arsen yang terlihat kokoh seolah ambruk begitu saja, ia benar-benar merasa tidak sanggup untuk menahannya lagi, matanya mulai terpejam menikmati permainan bibir Rachel yang seolah tidak putus asa memainkan bibirnya yang masih tidak melakukan perlawanan, hingga akhirnya Arsen pun seolah bersiap ingin segera membalas ciuman itu. Tapi oh tapi, nampaknya hal itu harus tertunda saat bel apartement mereka tiba-tiba saja terdengar begitu menggema, membuat Rachel dan Arsen seketika terperanjat secara bersamaan. Rachel pun segera bangkit dari tubuh Arsen sembari mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jarinya.
Sementara Arsen, harus berkali-kali mengatur nafas dan deru jantungnya yang berdegub begitu cepat dengan raut wajah yang begitu kikuk dan kaku, seolah sedang menahan sesuatu.
Arsen pun mulai melangkah menuju pintu,
"Kira-kira siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" Tanya Rachel yang membuntutinya dari belakang.
Arsen yang baru saja memegang handle pintu, sontak melirik tajam ke arah Rachel yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ada apa? Kenapa tidak langsung membuka pintunya?" Tanya Rachel bingung,
"Apa kamu sungguh ingin memamerkan sebagian tubuhmu pada orang di balik pintu ini?!" Ketus Arsen yang kembali memandangi penampilan Rachel dari ujung rambut hingga kaki.
"Tentu saja tidak. Kenapa berkata seperti itu?" Rachel seketika memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Tentu saja ia, jika kamu berniat ingin menemuinya dengan penampilan seperti ini."
Penampilan Rachel kali itu memang sungguh terlihat sedikit terbuka bahkan terkesan vulgar. Bagaimana tidak, rambutnya yang basah dibiarkan sedikit berantakan, lalu memakai kemeja gombrong yang berbahan sedikit transparan, yang hanya memiliki panjang sepaha saat dikenakan oleh Rachel, di tambah bagian dada dan bahu yang terbuka cukup jelas, semua hal itu sudah cukup bisa membuat semua lelaki yang memandangnya 1000% akan tergoda, di tambah lagi Rachel memiliki kulit yang begitu putih dan mulus hingga membuatnya semakin terlihat menggoda.
Rachel pun kembali memandangi penampilannya hingga ujung kaki, seketika ia pun langsung tersenyum kikuk.
"Benar juga, aku lupa." Jawabnya sembari mulai mengusap-usap tengkuknya.
"Lalu tunggu apa lagi? Ayo masuk ke kamar!" Tegas Arsen yang terlihat mulai protective pada istrinya.
"Iya, iya, tubuhku ini hanya milikmu, tenang saja tidak perlu marah-marah begitu. Tidak ada yang bisa melihatnya apalagi mengambilnya. Yakan?" Goda Rachel yang tersenyum dan bergegas masuk kembali ke kamar.
"Haaiish, benar-benar!" Arsen pun hanya bisa menggeram seorang diri saat terus menerus di goda oleh Rachel.
Memastikan jika penampilannya tak lagi berantakan, akhirnya Arsen membuka pintunya, dan begitu terkejut saat Alex secara tiba-tiba muncul dari sisi kanan dinding.
"Good morning pengantin baru." Ucap Alex saat muncul secara tiba-tiba hingga membuat Arsen cukup terkejut.
"Astaga, uncle?!" Mata Arsen dibuat kembali mendelik.
"Untuk apa pagi-pagi sekali sudah menggangguku ha? Bukankah aku sudah menyerahkan seluruh urusan kantor pada uncle?!" Arsen pun mulai mengecakkan pinggangnya dengan matanya yang masih membulat.
" Ha, apa uncle sungguh mengganggu? Emm, memangnya kalian sedang apa pagi-pagi begini ha?" Alex yang tersenyum lebar mulai menggoyang-goyangkan alisnya saat memandangi Arse.
"Ti,, tidak, tidak ada melakukan apa-apa." Jawab Arsen gugup.
"Astaga, masih saja mencoba menutupinya dari uncle mu ini ya hahaha. Bagi pengantin baru memang sudah sangat wajar jika ingin terus melakukannya berulang-ulang tanpa ingat waktu dan tempat hahaha. Ah astaga, kenapa jadi aku yang mulai berkeringat dingin saat membayangkannya ya." Alex yang terus cengengesan mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
...Bersambung......