
Dahi Rachel mulai mengkerut saat mendengar adanya persyaratan yang harus disetujui oleh Rachel, bahkan perasaan tak enak pun perlahan mulai hadir dalam sanubarinya.
"Maaf Mr. Fredy, persyaratan apa yang anda maksud?" Tanya Rachel sembari mengernyitkan dahinya.
"Hahaha tenanglah nona Bella, persyaratanku sama sekali bukanlah mengarah ke hal-hal yang tidak senonoh." Jelas Mr. Fredy sembari tertawa kecil.
Hal itu pun membuat Rachel ikut tersenyum tipis, setidaknya saat itu ia bisa sedikit bernafas dengan lega, namun dia tetap begitu penasaran tentang persyaratan yang di maksud oleh rekan bisnisnya itu.
"Lalu persyaratan apa yang anda maksud?" Tanya Rachel lagi.
"Untuk mengawali kerja sama, aku biasanya selalu mengajak rekan kerjaku untuk minum bersama, karena dengan begitu bisa membuatku lebih merasa senang dan bisa lebih percaya pada rekan-rekan baruku." Jelas Mr. Fredy dengan tenang.
Mata Rachel pun seketika membulat sempurna saat mendengar kata "minum bersama"
Bagaimana tidak, mengingat Rachel yang tidak biasa minum minuman beralkohol, bahkan ia pun tidak berminat sama sekali meminumnya.
"Mi, minum bersama?!" Tanya Rachel lagi.
"Ya, minum bir dan wine nona."
Mendengar itu seketika Rachel pun langsung tersenyum kikuk, dalam hatinya ia merasa begitu takut dan gelisah, namun ia tetap berusaha untuk tetap tenang di hadapan kliennya.
"Ta, tapi bagaimana kalau aku menolaknya Mr ?"
"Sejauh ini tidak ada klien yang berani menolak permintaanku nona. Lagi pula, klien mana yang sanggup menolak saat aku hanya meminta mereka untuk minum wine bersama? Bukankah itu akan terdengar konyol? Hahaha." Mr. Fredy pun tertawa lagi.
Rachel pun terdiam dengan tangannya yang mulai meremas-remas roknya sendiri. Rachel semakin merasa tak karuan, dia benar-benar di terpa rasa bingung. Dia begitu takut, dia takut jika tidak mengabulkan keinginan Mr. Fredy, maka kontrak kerja sama terancam batal dan Arsen pasti akan semakin kecewa dan marah padanya, begitu lah yang ada di dalam benaknya. Tapi di sisi lain dia juga takut minum alkohol, apalagi saat itu dia hanya seorang diri.
"Bagaimana nona Bella? Apa anda setuju?"
"Emmm sa, saya..." Rachel terlihat masih kebingungan untuk memberi keputusan.
__ADS_1
"Jangan takut nona Bella, anda bukanlah wanita satu-satunya yang akan minum bersama Mr. Fredy dan yang lainnya, saya juga akan ikut minum." Ucap sekretaris Mr. Fredy dengan ramah.
"Hehehe good girl." Ucap Mr. Fredy yang tertawa sembari menepuk pundak wanita cantik yang menjadi sekretarisnya itu.
Rachel terus berfikir keras dan mulai mempertimbangkan segala keputusan yang mau ia ambil dengan segala resiko yang ada. Akhirnya sampai lah Rachel pada keputusan yang telah di pikirkannya dengan matang, dengan sekali tarikan nafas panjang, ia pun akhirnya menjawab.
"Baiklah, tidak masalah." Jawab Rachel kemudian sembari tersenyum tipis.
Mr, Fredy pun seketika tersenyum, ia langsung mengisyaratkan pada asistennya untuk segera memesan minuman. Tak lama, sebotol wine berkualitas pun di hidangkan di meja mereka, tak ketinggalan pula satu jar bir putih pun menjadi pelengkap acara minum-minum yang di adakan oleh Mr. Fredy tersebut.
Asisten Mr. Fredy nampaknya sudah begitu paham dengan kebiasaan bosnya, ia pun langsung menuangkan wine ke dalam gelas. Tak main-main, asistennya langsung menuang wine itu hingga memenuhi gelasnya, membuat mata Rachel lagi-lagi melotot memandanginya.
Rachel memang tidak pernah minum, namun bukan berarti ia tak pernah melihat teman-temannya minum apalagi wine.
"Ma, maaf, tapi bukankah biasanya hanya perlu menuangkan sedikit wine saja ke dalam gelas?" Tanya Rachel mencoba mengoreksi.
"Hehehe mungkin cara minum wine yang kita tau memang seperti itu, tapi Mr. Fredy punya kebiasaan minum wine yang sangat unik dan berbeda." Jelas sang asisten sembari tersenyum.
Menyadari hal itu, Sekretaris Mr. Fredy yang duduk di samping Rachel pun mulai berbisik kepadanya.
"Mr. Fredy selalu menggabungkan satu sloky bir ke dalam gelas wine itu, maka sebab itu wine nya harus terisi penuh agar sloky bir bisa tenggelam di dalam gelas itu." Jelas sang Sekretaris.
Membuat Rachel hanya bisa menelan ludahnya sembari memandangi gelas wine itu.
"Hehehe, benar-benar kebiasaan minum yang sangat unik, aku bahkan baru melihatnya hari ini." Celetuk Rachel pelan sembari mulai mengusap-usap tengkuknya.
"Satu hal lagi, Mr. Fredy sangat kuat minum, jadi anda juga harus terlihat kuat minum di hadapannya, itu akan membuatnya merasa senang. Jika sudah berhasil membuatnya senang dan kagum, maka dia akan begitu royal pada perusahaan kalian, semudah itu saja." Jelas Sekretarisnya lagi.
"Ya ya ya, benar-benar mudah ya." Ucap Rachel pelan sembari menggeram di dalam hati.
Jantung Rachel pun semakin di buat berdegub cepat, perasaannya mulai semakin tak karuan saat melihat asisten Mr. Fredy mulai menuangkan wine untuk Rachel. Sama halnya dengan Mr. Fredy, mau tak mau, Rachel harus mengikuti cara minum kliennya itu.
__ADS_1
"Dan ini minuman untuk anda nona." Ucap sang asisten sembari memberi sentuhan terakhir pada minuman Rachel, yaitu memasukkan satu sloky bir putih ke dalam gelas wine nya.
Sloky bir yang baru di masukkan itu pun perlahan mulai masuk dan tenggelam hingga ke dasar gelas, benar-benar sebuah pemandangan yang sangat estetik bagi Mr. Fredy.
"Baiklah, mari kita bersulang, bersulang untuk di mulainya hubungan kerja sama kita dengan perusahaan Blue Light Group yang sangat terkemuka ini." Ucap Mr. Fredy sembari mulai mengangkat gelasnya.
Mau tak mau, Rachel dengan tangannya yang sedikit gemetaran pun mulai ikut mengangkat gelasnya.
"Bersulang." Ucap mereka semua.
Rachel menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia benar-benar meminum minumannya. Dahinya pun jadi begitu mengkerut saat mulai menenggak minuman yang terasa begitu aneh baginya itu.
"Habisss." Ucap Mr. Fredy sembari meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja dengan bangganya.
Tak lama di susul pula dengan asisten dan Sekretaris pribadinya yang juga telah berhasil menghabiskan gelasnya. Saat itu hanya tersisa Rachel yang baru meneguk setengah minumannya. Ia dengan nafas yang terengah-engah pun meletakkan gelasnya, namun hal itu langsung di sambut dengan tatapan berbeda dari Mr. Fredy.
"Nona, habiskan minumanmi, jika tidak ingin membuat Mr. Fredy kecewa." Bisik sang Sekretaris.
"Ta, tapi aku tidak sanggup, ini benar-benar aneh." Ucap Rachel lirih sembari menggelengkan kepalanya.
"Nasib kontrak kerja sama ini ada di tangan anda sekarang, anda yang menentukan."
Mendengar itu Rachel pun kembali terdiam sembari memandangi sisa minumannya, akhirnya ia pun perlahan meraih kembali gelasnya.
"Baiklah, akan aku habiskan." Ucapnya.
"Ya, habiskan, habiskan, habiskan.." Ucap mereka semua seolah sedang menyemangati Rachel.
Rachel pun kembali menarik nafas, ia benar-benar seolah sedang mempersiapkan dirinya, ia pun menutup kedua mata dan akhirnya langsung meneguk minuman itu hingga kandas.
...Bersambung......
__ADS_1