
Tak lama Arsen pun akhirnya ikut keluar dari ruangannya untuk menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Di loby, terlihat Rachel yang sedang duduk menunggu Arsen di sebuah sofa yang berada di sudut loby yang cukup luas itu.
Melihat kedatangan Arsen yang baru keluar dari lift, Rachel pun langsung bersigap bangkit dari duduknya, perasaan gugup pun kembali melanda dirinya tatkala melihat Arsen yang berjalan ke arahnya.
"Ayo." Ucap Arsen saat menghampiri Rachel sembari mengancingkan jasnya.
Namun, sorot mata Rachel saat itu tak sengaja melirik ke arah dasi Arsen yang terlihat sedikit miring.
"Tunggu." Ucap Rachel.
"Ada apa?" Arsen pun kembali menatapnya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Maaf sebelumnya." Ucap Rachel begitu pelan sembari langsung melangkah mendekati Arsen dan langsung membenarkan posisi dasinya.
Saat itu Arsen hanya terdiam memandangi wajah lembut Rachel yang kala itu begitu dekat dengannya. Arsen pun seketika dibuat begitu terpana serta terharu saat mendapati perlakuan seperti itu dari seorang wanita. Karena jujur saja, selama ia berpacaran dengan Laura sebelumnya, belum pernah ia mendapatkan perhatian walau sekecil apapun dari Laura, yang ia dapatkan saat itu justru hanya tuntutan dan tuntutan dari Laura.
"Kita akan bertemu dengan klien penting, bagaimana bisa kamu tidak merapikan penampilan terlebih dulu." Ucap Rachel dengan lembut sambil terus merapikan tatanan dasi Arsen.
Mendengar hal itu pun seketika membuat Arsen tersenyum namun dengan sorot matanya yang tak lekang menatap kekasih barunya itu sembari menjawab,
"Dalam hal ini aku tidak akan khawatir lagi, karena kekasihku ini, begitu perhatian pada penampilanku." Jawab Arsen yang kembali tersenyum simpul dengan suaranya yang begitu pelan.
Rachel pun seketika terdiam, matanya dengan refleks menatap mata Arsen yang juga masih menatapnya dengan begitu lekat. Sesaat kedua mata mereka kembali beradu, namun cepat-cepat Rachel memalingkan kembali pandangannya ke arah dasi Arsen karena jantungnya terasa semakin berguncang kala itu.
Saat itu pula, tanpa mereka sadari sudah banyak pasang mata yang terus memandangi mereka berdua, para staff yang bersliweran di loby itu pun dibuat tercengang saat melihat Rachel sang Sekretaris begitu berani berjarak begitu dekat dengan atasannya yang tak lain Arsen.
Beberapa di antaranya ada pula yang berbisik dan bertanya-tanya pada sesama rekannya tentang bagaimana Rachel berani melakukan hal itu pada CEO mereka. Rachel yang akhirnya menyadari ada banyak orang yang menontoni mereka pun langsung melepaskan tautan tangannya pada dasi Arsen.
"Su, sudah." Ucap Rachel kemudian yang langsung kembali membuat jarak pada Arsen.
"Sudah? Benarkah?" Arsen pun seolah kembali memeriksa dasinya.
"Emm" Rachel pun mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun langsung pergi menuju sebuah restaurant bintang lima yang terletak di pusat kota. Memerlukan waktu 15 menit saja, mobil yang membawa mereka pun kini telah terhenti sempurna di area parkir. Saat itu Arsen turun lebih dulu, sementara Rachel yang menyadari Arsen telah turun dari mobil, ia pun bergegas mengambil bedak dari dalam tasnya untuk memoles kembali wajahnya agar tetap terlihat fresh.
"Oh ya ampun, ya ampun, sejak pagi wajah ini terus di buat memerah karena gugup dan malu, tidak ada salahnya jika aku kembali memolesnya sedikit." Gumam Rachel seorang diri.
Namun begitu terkejutnya Rachel saat mendapati Arsen yang secara tiba-tiba dan tak terduga membukakan pintu mobil untuknya. Rachel pun langsung terperanjat hingga bedak yang dipegangnya langsung terjatuh.
"Apa-apaan?" Tanya Arsen yang langsung mengernyitkan dahi menatapnya.
"Ak, aku hanya..." Rachel pun kembali gelagapan.
"Oh aku tau, kamu begitu bersemangat merapikan dandananmu karena ingin bertemu dengan Antony Yue?" Tanya Arsen yang langsung menatapnya sinis.
"Hah?! Tidak!" Tegas Rachel yang langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa kamu sengaja ingin membuat mata genit Antony itu semakin melototimu? Ha?"
"Astaga, sama sekali tidak." Jawab Rachel dengan bibirnya yang mulai mengerucut.
"Emm awas saja." Arsen pun akhirnya langsung beranjak lebih dulu.
"Huhuhu bedak mahalku." Gumam Rachel lirih sembari langsung membuang tempat bedak itu ke tong sampah yang berada tak jauh dari mobil Arsen.
"Lelaki itu, tidak kah dia sadar jika wajahku terus memerah seperti kepiting rebus akibat gugup karena godaan dari dia?! Dan tidak kah dia sadar jika aku ingin selalu terlihat cantik hanya di depan dia?" Gerutu Rachel yang menggeram seorang diri sembari memandangi Arsen yang terus melangkah semakin jauh darinya.
"Kenapa dia malah berfikir aku berdandan untuk Antony? Huh benar-benar menyebalkan kau Arsen Lim." Tambah Rachel lagi.
"Hei, kenapa masih berdiri disitu? Apa kamu sungguh begitu gerogi ingin kembali berhadapan dengan Antony?" Tanya Arsen yang kembali berbalik badan ke arah Rachel.
"Iya, iya ini juga aku mau masuk." Jawab Rachel dengan wajahnya yang terus cemberut.
Mereka pun duduk di tempat yang memang sudah di booking sendiri oleh Rachel selaku Sekretaris yang memang di tugaskan untuk mempersiapkan segalanya.
Sepuluh menit menunggu kedatangan Antony benar-benar telah membuat Arsen merasa cukup jengah, di tambah pula belakangan ini Arsen memang begitu merasa kesal pada Antony yang berani menggoda Rachel di hadapannya bahkan mengajak Rachel makan malam.
__ADS_1
"Benar-benar tidak profesional! CEO macam apa dia yang berani membuatku menunggu seperti ini?!" Ketus Arsen setelah melirik ke arah jam tangannya.
"Sabarlah, mungkin jalanan macet." Rachel pun mencoba menenangkan Arsen.
"Ya, terus saja membelanya." Arsen pun seketika mendengus.
"Aku tidak membelanya, aku hanya...."
"Sssttt, sudah lah! Jangan bahas lelaki itu di depanku." Potong Arsen.
Hal itu pun seketika membuat Rachel terdiam dengan tatapannya yang sinis sembari terus menggeram dalam hati.
"Huh lelaki ini, benar-benar membuatku naik darah saja, bukankah dia yang lebih dulu membahas Antony?!" Gumam Rachel dalam hati.
Tak lama Antony dan asistennya pun terlihat memasuki pintu utama restaurant itu, seorang pelayan pun terlihat langsung mengarahkan mereka ke meja tempat dimana Arsen dan Rachel telah duduk menunggu.
"Maaf telah membuat kalian menunggu, karena aku juga baru selesai memimpin rapat di kantor." Jelas Antony yang langsung duduk di sisi kiri Rachel.
Namun begitu Antony duduk, ia pun langsung mengendus pelan aroma yang dihasilkan dari parfum Rachel.
"Oh ya tuhan, sepertinya aku kenal aroma ini hehe. Sepertinya pilihanku tidak salah ya, aroma parfum ini sangat menyegarkan, apalagi saat kamu yang memakainya nona Bella, terlihat sangat pantas." Ucap Antony yang tersenyum tenang.
Namun berbeda halnya dengan Arsen yang mendengarnya, matanya langsung membulat, ia pun langsung menatap tajam ke arah Antony.
"Apa-apaan ini? Apa maksudnya?" Tanya Arsen dalam hati.
Sementara Rachel yang menyadari ekspresi Arsen kala itu sontak langsung dibuat gelagapan dan hanya bisa tersenyum kikuk.
"Astaga mati lah aku, bagaimana jika Arsen marah jika tau aroma ini, adalah hasil dari parfum pemberian Antony?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai mengusap-usap tengkuknya.
"Apakah ini juga sebuah jawaban jika kamu menyukai parfum pemberianku nona Bella?" Tanya Antony lagi sembari semakin melebarkan senyumannya menatap Bella.
"Hehe iya, terima kasih sebelumnya tuan muda." Jawab Rachel yang terpaksa tertawa kecil meskipun dalam hatinya mulai gemetaran karena tau setelah ini Arsen pasti akan marah padanya.
__ADS_1
...Bersambung......