Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Episode 92


__ADS_3

"Jadi ini yang harus di panjat? tinggi sekali pantas saja tadi Derick meninggalkan kita semua di tengah jalan," ucap Shun dengan tatapan terkejut dan bingung


"apa tidak bisa menggunakan sihir teleportasi?" tanya Reina sambil menatap yang lain


"Tidak bisa, disini tidak bisa menggunakan sihir karena ini masih area larangan menggunakan sihir otomatis sihir tidak bisa di gunakan bahkan alat sihir sekalipun," ucap Blake sambil menatap tebing yang tinggi


'Dia laki-laki yang lumanyan licik karena tidak ingin memanjat bersama malah berhenti di tengah jalan dan meninggalkan kami,' ucap Reina di dalam hatinya


"Kita sudah sampai di tengah hutan dan titik pertemuan, peta ini akan membantu kalian selama seminggu," ucap Derick sambil menyerahkan sebuah peta dan persediaan yang di perlukan untuk mereka


"Eh, tidak sampai pusat hutan?" tanya Shun dengan tatapan kebingungan


"Tentu saja tidak, aku adalah panitia jadi aku tidak ikut memanjat dan disini tugasku sebagai pembimbing kalian sudah selesai," ucap Derick sambil menyeringai


"Tasmu bawa sendiri ya Deus," ucap Derick sambil melempar tas Asmodeus seenaknya


"Ck," decak Asmodeus sambil menangkap tas yang di lempar Derick


"Terima kasih atas peta dan persediaan yang kami perlukan," ucap Albern dengan tatapan dingin


"Selanjutnya kalian harus memanjat untuk mencapai titik tujuan ya, selamat berjuang," ucap Derick sambil tersenyum dan melambaikan tangannya


''Hah mengingatnya saja sudah membuatku kesal, apalagi harus memanjat tebing tanpa bisa menggunakan sihir,' ucap Reina di dalam hatinya dengan kesal


"Tebing merupakan salah satu tempat yang lumayan berbahaya jika di panjat, jadi aku akan duluan ke atas tanpa alat dan membawa talinya supaya kalian bisa memanjat menggunakan tali, dan perempuan akan naik terakhir bagaimana?" ucap Absyara sambil mengambil tali untuk mereka memanjat


"Kamu bisa memanjat tanpa alat?" tanya Yuria dengan tatapan tidak yakin


"Tentu saja aku bisa bahkan Absyuri saja bisa melakukannya juga, tapi karena aku adalah laki-laki mana mungkin aku membiarkan saudariku dulu naik karena ini adalah tempat yang lumanyan berbahaya," ucap Absyara sambil tersenyum


"Tapi apa benar-benar kita harus memanjat tebing ini karena terlihat licin dan tinggi? Bagaimana kalau jatuh kita bahkan tidak bisa menggunakan sihir untuk naik jadi kalau tergelincir jatuh bukankan akan mati?" ucap Elena sambil menyeringai dan melipat kedua tangannya

__ADS_1


"Itu memang benar tapi jika aku memberikan tali bantu dari atas kalian bisa naik ke atas dengan mudah dan juga ada aku dan adik perempuanku yang bisa membantu kalian jadi aku akan naik duluan dan adikku akan terakhir naik karena harus mengawasi kalian semua dari belakang aku juga akan membawa 2 tali supaya kalian mudah untuk naik ke atas," ucap Absyara mulai mendaki ke atas tebing


"Percayakan kepada kami berdua, kami dulu sering sekali latihan bersama guru kami untuk memanjat tebing tanpa sihir jadi kami sudah terbiasa," ucap Absyuri dengan tatapan bangga


'Yah benar sih tidak sia-sia tapi daripada guru lebih tepatnya memang tuan pemimpin yang datang mengajari kami dengan ketat dan sadis bahkan aku sampai ratusan kali patah tulang gara-gara jatuh dari tebing, memikirkannya lagi saja membuat aku kebal sakit,' ucap Absyara sambil memanjat bebatuan yang licin


Kakak, hati-hati ya," teriak Absyuri sambil tersenyum


'Iya doakan kakakmu ini tidak patah tulang lagi ketika memanjat tebing yang licin,' ucap Anda di dalam hatinya sambil menangis terharu


'Padahal ini tebing yang licin, aku jadi khawatir dengan Absyara,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap ke atas tebing dengan tangan dingin dan berkeringat


"Reina, tenang saja dia pasti bisa naik dengan selamat, kakakmu percaya dengan dia bukan? kamu juga harus percaya kalau dia bisa," bisik Albern di telinga Reina sambil menggenggam tangan Reina dengan tujuan membuatnya tenang


Tanpa berbicara dengan Albern, Reina hanya merasa di tenangkan dan menganggukkan kepalanya.


'Absyara, kamu tetap di atas saja jangan turun apalagi mengulurkan tali itu dulu, karena aku hanya ingin Reina mengandalkan diriku sekarang,' ucap Albern di dalam hatinya dengan perasaan bahagia namun tatapan dingin di luar


'Rencana aku akan berjalan sempurna, sebentar lagi dan aku pastikan Reina jadi milikku seorang,' ucapnya lagi di dalam hatinya sambil tersenyum licik


"Reina, mukamu terlihat pucat ada apa? dan ini minumlah dulu supaya tenang," ucap Blake sambil menyerahkan botol air


"Ah... maaf sudah membuat dirimu khawatir Blake tapi aku benar-benar baik-baik saja dan terima kasih airnya,' ucap Reina sambil mengambil air yang di tangan Blake namun di ambil paksa oleh Albern kemudian langsung meminum air yang di ambilnya dengan paksa


"Aku haus, maafkan aku, dan ini air minumku saja gantinya Reina," ucap Albern dengan tatapan dingin dan menyerahkan air miliknya


"Albern, kamu tidak sopan tau dan tidak boleh mengambil air minum yang di berikan secara paksa seperti itu, jika kamu haus kamu bisa mengambilnya dengan izin dulu kan?" ucap Reina dengan kesal dan marah kepada Albern


"Hoh? kamu kan tidak tau air apa yang diberikan oleh Blake bisa saja air itu beracun atau apa kan? dan suka-suka aku ingin minum air siapa kan kamu marah-marah seperti ini hanya masalah hal kecil bukankah terlalu kekanak-kanakan Reina," ucap Albern dengan tatapan dingin dan berusaha tenang menatap Blake yang menyeringai secara diam-diam


"Tapi Blake itu saudaramu dan juga Blake adalah temanku dia selalu membantuku kamu tidak boleh bersikap kasar seperti itu," ucap Reina sambil mengerutkan dahinya menatap Albern

__ADS_1


"Sudahlah Reina, aku tidak mempermasalahkan masalah air minum ini, lagipula yang di katakan Albern ada benarnya terkadang kamu memang harus berhati-hati terhadap orang di sekitarmu karena kamu tidak tau niat buruk mereka seperti apa dan Albern mungkin karena dia haus jadi dia terburu-buru," ucap Blake sambil tersenyum lembut


"Aku mengerti terima kasih Blake, kamu memang baik dan lembut andaikan Albern seperti dirimu baik hati dan lembut," ucap Reina sambil menganggukkan kepalanya dan pasrah


'Ck, padahal aku adalah tunangannya tapi dia malah memuji dan membandingkan aku dengan laki-laki lain,' ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan marah dan kesal


'Reina, aku bingung kamu polos atau apa tapi tolong jangan membuat suasana menjadi panas,' ucap Yuria di dalam hatinya sambil menatap ketiga orang di depannya yang bertengkar dengan panas


"Kalau begitu, aku pergi saja,"ucap Albern dengan kesal dan dingin


'Dia seperti anak kecil yang suka marah, aku heran kenapa dia seperti itu? masa iya dia cemburu dengan Blake? mereka kan saudara," ucap Reina dalam hatinya dengan tatapan kebingungan menatap Albern yang pergi meninggalkan dirinya dan Blake


'Reina, itu perempuan bodoh dia bahkan membuat Albern marah kepadanya, ini adalah kesempatan untukku dekat dengan Albern,' ucap Elena sambil menyeringai


"Albern, ini air minumku untukmu, kamu bisa memenangkan emosimu dengan air minum," ucap Elena sambil menyerahkan botol air minum


"Hah? Aku tidak perlu urus saja urusanmu sendiri," ucap Albern dengan tatapan tajam dan dingin membuat Elena ketakutan


"Kalau begitu, maafkan aku," ucap Elena dengan tatapan kaku


'Lebih baik aku pergi suasana hatinya sangat buruk,' ucap Elena di dalam hatinya dengan perasaan sedikit takut


"Aku pergi dulu," ucap Elena di dalam hatinya kemudian pergi


"Dia selalu saja kalau marah tidak suka di ganggu," Gumam Reina sambil menatap Albern


"Reina, kamu terus menatap ke arah Albern kenapa?" tanya Blake yang melihat arah tatapan Reina menatap Albern


Kenapa Reina terus memandangi Albern? Apakah Albern benar-benar cemburu? Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


REINKARNASI REINA

__ADS_1


__ADS_2