
"Bermain apanya? para boneka-boneka itu sedang terluka sangat tidak menyenangkan di lihat dan di mainkan jika dia terluka,"
"Kalian hanya akan membuatnya cepat mati dan tuan pemimpin akan memberikan hukuman yang berat nantinya jika itu terjadi," ucap seorang laki-laki yang membuka pintu ruangan itu
"Blake, kamu sudah datang,"
"Aku pikir kamu tidak akan muncul lagi karena hanya fokus dengan penaklukan negeri kecil di Utara yang dingin,"
"Jadi apa kamu selesai menghancurkan negeri Utara yang dingin itu?"
"Aku harap kamu tidak menganggap posisimu adalah sebuah kursi yang kosong," ucap seorang laki-laki yang duduk di dekat jendela
"Kamu pikir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan itu? dan hanya duduk di kursi?"
"Aku rasa kamu lupa walaupun aku berada di posisi yang rendah tapi aku masih memiliki kartu di tanganku,"
"Jangan pernah menganggap kalau aku lebih muda kamu bisa memperlakukan aku seperti orang yang lemah," ucap Blake dengan tatapan dingin
"Baiklah, jika kamu sudah menyelesaikannya,"
"Aku harap kamu membawa buktinya dengan tiga kepala orang Utara,"
"Karena aku menaruh harapan yang besar kepada dirimu jadi berikan sesuai dengan harapan," ucap Derick sambil mengangkat cangkir teh dan menatapnya dengan tatapan dingin
"Baik guru, semuanya ada di cincin penyimpanan ini," ucap Blake sambil melepas sebuah cincin dan melemparkan ke arah Derick dan kemudian di tangkap olehnya
"Hoh, kerja bagus Blake,"
"Nanti akan aku laporkan kepada tuan pemimpin,"
"Dan nanti aku kembalikan cincin ini kepadamu," ucap Derick sambil menatap cincin penyimpanan itu
"Jadi kita sekarang diam saja begitu?
"Tidak melakukan apapun?"
"Ah.... membosankan," ucap seorang perempuan itu dengan tatapan kebosanan
"Nikmatilah selagi masih memiliki waktu santai,"
"Nantinya kamu harus mengeluarkan sihir yang menguras tenaga," ucap Derick sambil tersenyum
Di sisi ruangan perawatan...
"Hah... kenapa bisa kamu latihan sampai terluka seperti ini Albern?" ucap Reina dengan tatapan khawatir
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil dibandingkan itu kamu akan melewatkan pelajaran selanjutnya,"
"Apa kamu tidak khawatir kalau nantinya nilaimu jatuh?" ucap Albern sambil tersenyum tipis
"Kenapa kamu hanya khawatir dengan nilaiku?"
"Seharusnya kamu khawatirkan dirimu yang terluka sekarang dan menganggap remeh kalau luka yang besar ini hanya luka kecil,"
"Tentang nilaiku akan jatuh nantinya atau tidak,"
"Kamu tidak perlu khawatirkan apapun karena aku telah meminta izin dengan kakak untuk tidak mengikuti pelajaran walaupun aku harus melakukan usaha yang ekstra," ucap Reina dengan tatapan suram
'Karena aku izin menjaga Albern maka aku harus mengikuti jam tambahan yang diberikan kakak,'
'Entah perasaan aku saja atau memang kakak sangat senang aku mengikuti pelajaran tambahan ini,'
'Ini membuatku sedikit merinding karena senyumannya,' ucap Reina di dalam hatinya dengan perasaan yang berusaha tegar
"Baiklah, maafkan aku merepotkan dirimu,"
"Dan terima kasih Reina, aku memohon bantuanmu untuk menjagaku," ucap Albern sambil tersenyum lembut
"Ah iya, Albern aku besok mungkin tidak bisa menjagamu karena besok aku ingin bertemu dengan ketua dewan kesiswaan,"
"Tapi tenang saja nanti aku akan meminta tolong kepada temanmu untuk menjaga dirimu atau aku akan meminta tolong adikmu untuk menjaga dirimu," ucap Reina dengan tatapan yang tajam
"Ditambah lagi, memangnya kalau aku sendirian nantinya apa yang akan terjadi?"
"Reina, akademi ini telah di lindungi oleh sihir pelindung, jadi siapapun yang berniat buruk kepada akademi akan langsung ketahuan atau tidak bisa masuk ke dalam akademi,"
"Jadi tenang saja," ucap Albern sambil tersenyum
"Hah..."
"Keras kepalamu masih saja tidak berubah Albern,"
"Perempuan mana pun mungkin harus berusaha keras untuk menghentikan keras kepalamu dengan sudah payah nantinya jika menikah denganmu,"
"Tapi aku yakin siapapun yang menikah dengan dirimu pasti akan selalu membuat dirimu tersenyum nantinya," ucap Reina dengan tatapan yang memiliki arti dalam
"Reina, aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu,"
"Bagaimana jika aku bilang aku masih mencintai dirimu?"
"Dan aku akan selalu berharap kamu berada di sisiku sampai rambut ini menjadi putih dan wajah yang sudah terlihat setiap kerutan itu?" ucap Albern dengan tatapan serius di dampingi oleh angin-angin yang berhembus masuk melalui jendela itu mengisi keheningan antara keduanya
__ADS_1
"Kamu pasti bercanda denganku Albern?"
"Karena kita adalah teman mana mungkin kita bisa bersama," ucap Reina dengan tawa yang kaku
'Mungkinkah kembalinya aku ke masa lalu membuatnya kehilangan perasaan dengan diriku tapi ini adalah tanggung yang harus aku terima setelah aku kembali untuk memperbaiki takdir ini,' ucap Albern di dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya
"Tentu saja aku hanya bercanda, tapi aku juga berharap akan jawaban darimu bila nantinya kamu menganggap ini adalah pertanyaan yang serius Reina," ucap Albern dengan tatapan yang terluka
"Albern, aku akan keluar sebentar untuk mengambil buku-buku di perpustakaan karena sekarang adalah waktu dari janji yang aku janjikan," ucap Reina dengan senyuman kaku kemudian keluar ruangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa
'Aku tidak tau harus menjawab apa tetapi aku merasa kalau jawabanku barusan adalah jawaban yang seharusnya tidak aku katakan dan hati ini juga entah sejak kapan merasa begitu sesak dan berdegup kencang,'
'Aku mungkin harus segera memeriksakan diriku,'
'Albern, pastinya juga akan bertemu dengan tokoh utama novel ini, aku yakin dia pastinya akan bahagia bersamanya,'
'Jadi aku tidak harus memikirkan apapun sekarang ini,' ucap Reina di dalam hatinya sambil berjalan ke perpustakaan
Di dalanrm ruangan itu...
"Hah..."
"Jika aku mengingat kembali begitu banyak hal buruk yang aku lakukan ketika aku membenci Reina karena aku melupakan dirinya,"
"Penolakannya kali ini dan semua yang tertulis di buku kecilnya itu mungkin adalah takdir yang selalu mengikat tubuhku untuk melakukan hal yang tertulis dan mengesampingkan perasaanku padanya,"
"Layaknya boneka yang harus berekspresi ketika di perintahkan,"
"Bahkan boneka pun mungkin masih lebih baik daripada diriku aku rasa," Gumam Albern dengan tatapan penyesalan
"Terlambat yah sudah terlambat,"
"Buat apa meratapi hal yang telah terlambat di saat sekarang?"
"Apa kamu pikir hidup di dalam penyesalan akan membuat dirimu lebih baik?"
"Jika kamu benar bisa membuat penyesalan itu menjadi lebih baik hanya dengan merenungkannya maka tinggalkanlah dunia tempat yang kamu tinggali sekarang,"
"Kesempatan kedua memang pastinya tidak akan persis seperti kesempatan pertama karena kamu memiliki ingatan tentang setiap kejadian yang kamu lakukan sebelum kamu diberikan kesempatan kedua di kehidupan baru ini,"
"Kamulah yang memutuskannya," ucap seorang laki-laki yang masuk ke dalam ruangan tanpa suara langkah kaki seperti angin yang masuk begitu saja
"Kenapa kamu ada di sini?" ucap Albern dengan tatapan kebingungan
Akankah kata yang di anggap candaan itu nantinya menjadi kenyataan? Apakah Reina nantinya bisa mendapatkan yang dia inginkan? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
REINKARNASI REINA