
"Uhuk!" suara orang berdahem di depan Albern dan Reina
"Kalian berdua, bisakah tidak melakukan seperti itu lagi di depan umum," ucap Dalbert dengan tatapan dingin dan tajam
"Jangan memarahi Reina, aku yang melakukannya lebih dulu," ucap Albern berjalan ke depan Reina
'Anak ini makin lama semakin berani ya menentang aku, kalau aku mau pakai sihir untuk menekan dia pun tidak bisa karena sedang berada di pesta lebih baik sekarang aku pasrahkan saja,' ucap Dalbert di dalam hatinya sambil memandangi tatapan Albern yang begitu berani
"Aku ingin memarahinya atau tidak bukan urusanmu yang mulia Putra mahkota, Reina adalah adik perempuanku dan anda bertindak seenaknya karena anda pikir anda adalah tunangannya dan sudah bebas melakukan hal kecil seperti itu,"
"Aku tidak yakin, apa adikku nanti masih bisa mempertahankan harga dirinya sebelum menikah jika bersamamu dari sekarang,"
"Aku akan berlaku adil walaupun dia adalah keluargaku, jadi aku harap anda mempertahankan sikap sopan santun anda kepada adikku jika kamu melakukan perbuatan yang menjatuhkan harga diri adikku ke dasar jurang yang paling dalam aku pastikan bukan hanya adik perempuanku yang akan aku buat tinggal jauh dari kota tapi kekaisaran juga akan aku hancurkan,"
"Camkan itu dengan baik yang mulia," ucap Dalbert dengan tatapan dingin dan tajam
'Kakak, kenapa bicara seperti itu kepada seorang yang akan naik ke takhtanya? tapi kakak mengatakannya demi diriku aku juga tidak bisa mengalahkan dirinya,' ucap Reina di dalam hatinya dengan penuh kebimbangan
"Dalbert..." ucap seseorang yang berjalan ke arah balkon
'Sebentar aku tidak salah dengar? Hadeh seharusnya aku ada di sisinya dan aku ingat kalau dia adalah orang yang selalu mengancam orang dengan kekuatan miliknya dan sekarang dia telah melakukannya lagi,' ucap Derick dengan perasaan khawatir
"Aku mengerti dan aku pasti akan menghormati pasanganku sebagaimana mestinya, aku tidak akan memaksa Reina, aku juga tidak akan melakukan sesuatu di luar keinginan dirinya apalagi mengatasnamakan cinta," ucap Albern dengan tatapan serius sambil menggenggam tangan Reina
"Dalbert, kamu ternyata disini aku mencarimu ke seluruh bangunan," ucap Derick sambil berjalan ke arah mereka dengan tersenyum
"Dalbert, ini sudah dua kali kamu mengancam seorang putra mahkota, jangan terlalu sering menggunakan kekuasaan dan kekuatanmu untuk menekannya, kamu tau kan kita belum menyiapkan pasukan dengan baik dan juga kita bisa di anggap sebagai pengkhianat karena mengatakan ini jadi jangan sampai ini terdengar ke telinga para orang tua itu," Bisiknya di telinga Dalbert
"Aku tau, apa yang aku lakukan dan ini juga sudah aku pikirkan, jadi kenapa kamu kemari?" ucap Derick sambil menoleh ke arah Derick
__ADS_1
"Aku kemari ingin mengajakmu berbicara tentang rencana negara yang kamu katakan pada saat itu," ucap Dalbert sambil menggenggam tangan Dalbert menariknya pergi dari sana
"Kalian nikmati saja waktu kalian berdua dan Reina terima kasih atas waktunya beberapa hari yang lalu,"
"Aku akan mengajakmu lain kali ke sana lagi kapan-kapan," ucap Derick sambil tersenyum tersenyum
"Iya senang aku bisa membantu dirimu, aku akan sangat menantikannya lagi," ucap Reina sambil melambaikan tangannya
'Derick, bagaimana bisa dekat dengan Reina dan apa yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu saat bersama?'
'Lagi-lagi perasaan sakit dan kesal ini muncul begitu saja,' ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan dingin
"Jangan melakukan hal yang aneh-aneh lagi, jika kalian melakukannya, yang mulia saya pastikan anda tidak bisa menemui Reina sampai masuk sekolah tiba," ucap Dalbert dengan tatapan tajam ke arah Albern
'Kenapa aku melihatnya seperti anjing kecil yang menggonggong ya takut kalau nonanya di culik oleh orang jahat,' ucap Derick sambil menatap kelakuan Dalbert
"Saya berjanji tidak akan melakukan hal-hal aneh dan menjatuhkan harga diri seorang lady," ucap Albern sambil memberikan hormat kepada Dalbert
'Albern, memberikan hormatnya kepada Dalbert bukankah itu artinya kakak adalah orang yang lebih tinggi dibandingkan seorang putra mahkota,' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan terkejut
"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Derick sambil menarik tangan Dalbert pergi menjauh dari balkon
"Albern, maafkan ucapan kakak yang bertindak semena-mena ya, cara bicara kakak memang kasar tapi kakak adalah orang baik kok,"
"Kakak mengatakan itu juga karena memang kakak adalah orang yang selalu asal berbicara tanpa di pikirkan terlebih dahulu dan... kakak... kakak... juga..." ucap Reina dengan panik
"Kenapa kamu begitu panik?"
"Hah... tidak perlu di pikirkan, aku harusnya jadi seorang laki-laki yang bisa menjaga harga diri seorang lady seperti dirimu dan harus bisa memberikan yang terbaik untuk lady adalah tugas laki-laki," ucap Albern sambil tersenyum dan memegang tangan Reina
__ADS_1
"Jadi, kamu melakukannya karena itu adalah tugas? bukan karena cintamu kepadaku?" tanya Reina dengan tatapan dingin
'Kenapa aku berbicara selalu salah ya? Kenapa juga pertanyaannya menjebak seperti itu?' ucap Albern di dalam hatinya dengan kebingungan karena jika dia salah menjawab maka dia akan menginjak jebakan yang tidak terduga
"Reina, aku mencintaimu oleh karena itu tugasku tidak karena itu aku melakukan dengan tulus, aku akan melakukan apapun untuk dirimu dan maksudku tugas itu tidak akan selesai sampai maut menjemputmu," ucap Albern sambil menatap Reina
"Jadi? kenapa pembicaranmu sangat berbelit-belit seperti itu? Apa artinya aku sama dengan tugas negara? kalau begitu aku cuma pekerjaan begitu?" tanyanya lagi sambil mengernyitkan dahi
'Kenapa Reina semakin banyak bertanya, aku memang tidak pandai mengenai perempuan tapi jika aku menjawab dengan asal maka rencanakan selama ini untuk mendapatkan dirinya sia-sia,' ucap Albern di dalam hatinya dengan kebingungan
"Albern," ucap seorang gadis dari balik pintu balkon dengan lembut
"Albern, aku sudah menduga kalau kita akan bisa bertemu lagi di sini, sudah lama tidak melihatmu," ucap gadis itu sambil merangkul lengan Albern tanpa aba-aba atau izin
"Nona Elena, bisakah anda menerapkan sopan santun anda di luar akademi," ucap Reina dengan tatapan dingin
"Anda seharusnya tau karena anda adalah orang yang berdarah biru, bertindak seenaknya dengan merangkul lengan seseorang seenaknya kamu pikir ini adalah mainan?"
"Memanggil nama orang dengan pangkat yang lebih tinggi di luar akademi adalah suatu keharusan dan sikap anda yang buruk bagaimana orang seperti anda bisa bertahan di dunia bangsawan seperti ini," ucap Reina dengan tatapan dingin
"Aku... aku hanya ingin menyapa Albern, karena terlalu bersemangat aku lupa kalau sedang tidak berada di akademi dan juga kita berdua adalah teman dekat kenapa harus memanggil gelar?" ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca
"Reina, Kenapa kamu selalu menggertak aku? Aku bahkan tidak tau salahku ada dimana, tapi kamu selalu saja mencari-cari kesalahanku,"
"Hiks... Albern kamu lihat orang yang kamu anggap tunangan bersikap kasar seperti itu," ucap Elena sambil mengusap air matanya
"Elena, kamu terlalu berlebihan Reina sama sekali tidak menggertak dirimu," ucap Albern sambil melepaskan tangannya yang di rangkul
"Albern, kamu lebih membela dirinya di bandingkan diriku?" ucap Elena sambil mengusap air matanya yang mengalir
__ADS_1
Apakah Reina akan tetap bersabar? Apakah Albern akan bertindak bijaksana? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA