
"Nona, Sebelum pergi keluar tuan, nyonya dan tuan muda sudah menunggu di ruang makan," ucap Olivia sambil menyisir rambut
"Iya aku mengerti," ucap Reina sambil menganggukkan kepalanya
"Nona, selesai," ucap Olivia sambil menatap nonanya yang sudah begitu cantik dan rapi
"Terima kasih, Olivia," ucap Reina sambil tersenyum
"Sama-sama nona," ucap Reina sambil tersenyum
"Reina, makan bersama yok," ucap Dalbert sambil membuka pintu kamar Reina
"Kakak, ketuk pintu dulu sebelum buka pintunya tidak sopan," ucap Reina sambil mengerutkan keningnya
"Iya, iya, maafkan kakak lain kali akan kakak ketuk dulu pintunya sebelum membuka pintunya," ucap Dalbert sambil berjalan masuk ke kamar Reina
"Kamu kenapa begitu rapi dan berdandan seperti itu? ini kan dirumah biasanya kamu hampir hanya berpakaian baju tidur dan muka yang berantakan tidur dimana saja," ucap Dalbert sambil menatap penampilan adiknya
"Aku nanti mau pergi bersama seorang teman untuk ke toko buku," ucap Reina sambil tersenyum
"Toko buku?" tanya Dalbert sambil mengangkat alisnya
"Iya, dia bilang dia ingin mengajakku ke toko buku karena dia ingin ke toko buku," ucap Reina sambil memiringkan kepalanya
"Hoh begitu, kalau begitu kita sarapan dulu ya my lady," ucap Dalbert sambil mengulurkan tangannya
'Kakak habis makan racun apa? sampai dia mengatakan seperti itu?' ucap Reina dengan di dalam hatinya dengan tatapan terkejut menatap kakaknya yang keren
"Kakak apa sih tiba-tiba mengatakan seperti itu?" tanya Reina dengan muka memerah menatap sang kakak yang mengulurkan tangannya
"Kamu sekarang sudah seperti seorang lady sih jadi kakak iseng saja," ucap Dalbert sambil tertawa kecil
"Kakak," ucap Reina dengan muka ngambek
"Sudah, sudah, ayo kita sekarang pergi ke ruang makan untuk sarapan," ucap Dalbert sambil mengulurkan tangannya lagi
"Baiklah," ucap Reina sambil menyerahkan tangannya ke uluran tangan itu
Di lorong...
"Kakak, apa kakak tidak ingin memiliki pasangan hidup?" tanya Reina sambil menatap Dalbert
__ADS_1
"Kakak tidak ingin cepat-cepat menikah dibandingkan itu kakak punya kamu lebih dari cukup," ucap Dalbert sambil tersenyum
"Orang seperti kita sangat sulit untuk menemukan pasangan yang menerima kita apa adanya,"
"Dan Reina, kita adalah keluarga yang saling mendukung oleh karena itu kakak tidak terlalu banyak berharap untuk menemukan pasangan yang mau menerima kakak, kakak cuma mengharap kebahagiaan dirimu,"
"Jangan terlalu banyak berkorban untuk keluarga dan jangan suka menyembunyikan masalah yang terjadi sendirian, atau tidak itu akan membuat dirimu stress," timpalnya lagi sambil menatap ke arah lorong
'Kakak, begitu memikirkan diriku aku pikir kakak, hanya berpikir kalau aku adalah beban keluarga, tapi aku rasa aku lah yang menganggap diriku sendiri beban keluarga,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap kakak ya
"Aku mengerti kakak, akan aku usahakan," ucap Reina sambil tersenyum lembut
Di depan pintu ruangan yang begitu besar...
"Ayo kita masuk sekarang Reina," ucap Dalbert sambil membuka pintu dan menatap ke arah Reina
"Akhirnya kalian berdua sampai di ruang makan," ucap sang ibu sambil tersenyum
"Maafkan kami ayah, ibu, kami begitu lama," ucap Reina sambil memberikan hormat kepada kedua orang tuanya
"Maafkan kami telah membuat menunggu lama," ucap Dalbert sambil memberikan hormatnya juga kepada kedua orang tua nya yang duduk di depan mereka
"Sudahlah, kalian berdua mau sampai kapan berdiri?" tanya sang ayah sambil mulai makan sarapannya
"Reina, kamu hari ini terlihat sangat rapi, mau pergi kemana?" tanya sang ibu sambil menatap penampilan anaknya yang tidak biasanya
"Aku ingin pergi bersama seorang temanku Bu," ucap Reina sambil tersenyum
"Teman?" tanya sang ibu dengan tatapan kebingungan
"Kamu punya teman?" tanya sang ayah dengan tatapan bingung
"Kenapa ayah dan ibu menatapku seperti itu? memangnya aku terlihat orang yang tidak memiliki teman?" tanya Reina dengan tatapan suram
"Kamu terlihat seperti itu karena kalau tidak ke perpustakaan, taman, ruang keluarga, ruang kerja ," ucap Dalbert sambil mengangkat gelas
"KAKAK KENAPA JUGA IKUTAN," ucap Reina dengan tatapan kesal
"Yah, kenyataannya seperti itu," ucap Dalbert sambil menatap Reina sedangkan kedua orang tuanya hanya mengangguk setuju terhadap perkataan Dalbert
"Kalau begitu, siapa teman yang mau pergi bersamamu?" tanya sang ibu sambil menaikan alisnya
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya lancang masuk secara tiba-tiba,"
"Tapi, tuan Duke Derick datang ke kediaman Marquees dan beliau sedang berada di ruang tamu sekarang, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya seorang kesatria sambil membisikan ke arah tuan Marques
"APA?" teriak tuan Marques dengan tatapan terkejut
"Apa yang di lakukan oleh seorang Duke Derick di pagi seperti ini?" tanya tuan Marques dengan tatapan bingung
semua orang yang berada di ruang makan terkejut kecuali Reina, dia makan dengan tenang karena dia sudah tau tujuannya.
'Cepat sekali dia datang ke sini,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menyantap makanan penutup dengan santai
"Kalau begitu, tanyakan kepada tuan Duke Derick, apa dia ingin sarapan bersama atau tidak," ucap tuan Marques dengan tatapan panik dan bingung
"Baik tuan," ucap sang ksatria kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan
"Ayah, pernah melakukan sesuatu hingga seorang Duke datang kemari di saat liburan?" tanya Dalbert sambil menikmati makanannya
"Seharusnya tidak ada, lagipula bukankah kamu yang dekat dengan Duke?" tanya sang ayah dengan tatapan tajam
"Humm... memang kami dekat, tapi aku sama sekali tidak memiliki janji dengannya hari ini," ucap Dalbert dengan tatapan yang datar
"Tuan, tuan Duke Derick bilang dia akan menunggu hingga sarapan selesai, " ucap sang ksatria
"Baiklah, kalau begitu kita hanya perlu makan pelan-pelan," ucap sang Marques dengan tenang
'Kenapa mereka begitu santai? padahal keluarga kita pangkat bangsawannya lebih rendah dibandingkan dengan keluarga duke dan kalau mereka tau keluarga Halmiton atau lebih tepatnya aku mati di tangan sang Duke itu, pasti mereka akan langsung panik,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap keluarganya
"Reina, kamu dari tadi tidak banyak berbicara? apa kamu masih takut dengan tatapan Duke Derick?" tanya Dalbert sambil melihat adiknya yang melamun
"Tidak, kakak aku, sudah tidak takut lagi dan bagaimana mungkin aku selamanya takut dengan tatapan Duke karena aku berkerja di dewan kesiswaan jadi aku harus memberanikan diriku untuk berbicara dan menerimanya," ucap Reina dengan tatapan pasrah
"Kamu ada benarnya, kakak harap semua pekerjaanmu selesai dengan baik," ucap Dalbert sambil tersenyum kecil
"Iya kakak, aku pasti akan melakukan yang terbaik," ucap Reina dengan percaya diri
"Apa kamu tidak bertanya-tanya Reina kenapa Duke Derick ada di sini?" tanya Dalbert dengan tatapan curiga
"Humm... tuan Duke Derick mengirimkan aku surat dan dia mengajakku ke toko buku hari ini jadi aku tidak akan menanyakan apapun," ucap Reina tanpa ada rasa bersalah
"APA KAMU BILANG?" teriak kedua orang tuanya dan kakaknya yang sedang minum dengan tatapan yang sangat terkejut
__ADS_1
Kenapa Reina bisa mengucapkan tanpa rasa bersalah? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
REINKARNASI REINA