
"Reina, aku mengerti yang kamu ceritakan,"
"Kalau begitu, kamu hanya perlu bersikap tenang saja,"
"Karena kalau kamu terlihat ketakutan atau gugup maka kamu akan benar-benar dianggap sebagai pelakunya, walaupun memang benar kamu tidak melakukan perbuatan itu," ucap Blake dengan tatapan yang khawatir namun lembut dan memegangi tangan Reina untuk memenangkan sekaligus meyakinkan Reina untuk tidak panik
"Terima kasih Blake, berkat dirimu aku sedikit tenang," ucap Reina sambil tersenyum lembut ke arah laki-laki itu
"Sama-sama, kalau kamu masih membutuhkan sesuatu,"
"Katakan kepadaku, akan aku bantu sebisaku untuk membantu dirimu Reina," ucap Blake dengan tatapan lembut
"Aku sedang tidak memerlukan sesuatu, ini sudah cukup tapi jika diperbolehkan untuk menghubungi orang tuaku dan kakakku,"
"Karena aku ingin menyampaikan masalah yang terjadi ini kepada mereka, walaupun aku tidak ingin menyusahkan mereka tapi masalah ini pastinya cepat lambat akan sampai kepada mereka terutama kepada kakak karena kakak adalah salah satu guru di akademi ini,"
"Dia pasti akan tau tentang masalah ini dengan cepat, oleh karena itu aku ingin menceritakan kejadian sebenarnya sebelum informasi yang tidak benar itu menyebar secara langsung ke telinga kakak dan sampai ke luar akademi," ucap Reina dengan senyuman pahitnya
"Apa kamu yakin orang tuamu akan percaya dengan cerita yang kamu ceritakan?" ucap Blake dengan tatapan khawatir takut Reina malah diberikan hukuman oleh keluarganya karena dianggap berbohong
"Mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu sejak aku masih kecil sampai aku sekarang mereka tidak pernah menghukum aku atau memarahiku dengan kasar malah mereka melakukan hal yang sebaliknya kepadaku,"
"Aku sungguh bersyukur bisa terlahir di keluarga ini, karena itu aku yakin mereka akan mengerti dan percaya dengan cerita yang aku ceritakan ini," ucap Reina sambil menggelengkan tidak setuju
'Reina, yang tertulis di novel sangat kejam dan cemburu dengan segala milik orang lain miliki, dia juga selalu haus dengan kasih sayang,'
'Dia rela melakukan semua perbuatan yang kejam hanya demi membuat orang yang dia cintai hanya berbuat untuk dirinya namun malah orang yang dia cintai membunuhnya begitu saja,'
'Bahkan pada saat terakhirnya dia hanya akan tersenyum dan mengatakan kata-kata yang manis untuk orang yang dia cintai dengan penuh senyuman,'
'Betapa tragisnya cinta yang dipaksakan untuk dirinya itu,'
'Tapi berbeda dengan yang aku lihat sekarang ini,'
'Reina, saat ini sangat tegar dan begitu sabar menghadapi semua masalah yang dialami,'
'Begitu mirip dengan dirinya di kehidupanku sebelumnya tapi ini adalah Reina Elice Halmiton bukan
__ADS_1
'Dia begitu penuh dengan kelembutan dan tegar dalam menghadapi masalah seperti Naomi,'
'Tapi orang yang berada di depanku adalah Reina, walaupun mereka orang yang berbeda,'
'Aku ingin menyelamatkan dirinya dan membantunya,' ucap Blake di dalam hatinya dengan tenggelam dalam lamunannya itu
"Reina, biarkan aku yang membatu dirimu untuk menemui kakak laki-lakimu,"
"Karena di luar sedang banyak pembicaraan tentang dirimu maka aku yang akan membawa kakakmu ke sini untuk berbicara berdua dengan dirimu bagaimana?" ucap Blake dengan tatapan lembutnya
'Blake selalu menolongku seperti ini, aku jadi merasa selalu berhutang budi kepada dirinya,' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan yang sedikit terbebani
"Aku tau dengan apa yang kamu pikirkan Reina,"
"Kamu tidak perlu menganggap ini adalah hutang budi karena aku yang ingin menolong dirimu dengan tulus tanpa mengharapkan apapun dari dirimu,"
"Tapi jika kamu masih keberatan, setelah sidang selesai,"
"Kamu bisa menemaniku untuk pergi ke alun-alun kota untuk bersenang-senang,"
"Hanya kita berdua, bagaimana Reina?" ucap Blake dengan tatapan yang lembut dan penuh perhatian
"Itu semua tertulis di wajahmu dan juga kamu," ucap Blake dengan tatapan yang lembut dan mengelus kepala Reina dengan lembut
"Jangan di elus-elus kepalaku,"
"Rambutku bisa berantakan," ucap Reina dengan tatapan tajam ke arah Blake
"Maafkan aku, karena rambutmu terlihat begitu lembut makanya aku menyentuhnya tanpa aku sadari,"
"Maafkan aku jika itu ternyata adalah harta yang paling berharga untuk perempuan dan aku malah mengacaukannya seenaknya," ucap Blake dengan tatapan yang sedih supaya Reina memaafkan dirinya
"Tidak apa-apa, hanya saja mengingat rambut ini sedikit sulit untuk di ikat jadinya aku tidak ingin rambut ini dengan mudah di rusak begitu saja," ucap Reina dengan tatapan yang serius
"Baiklah kalau begitu aku mengerti,"
"Kamu tenang saja, kedepannya tidak akan melakukan hal yang sama," ucap Blake dengan senyuman yang kaku karena merasa bersalah
__ADS_1
"Kalau begitu, sekarang aku akan mencari keberadaan kakakmu dulu," ucap Blake sambil berjalan ke arah pintu
"Baiklah, hati-hati Blake," ucap Reina dengan anggukan pelan
Setelah Laki-laki itu keluar dari ruangan meninggalkan Reina sendirian di dalam ruangan itu...
"Rasanya sejauh ini takdir mempermainkan takdir hidupku," Gumam Reina sambil menatap ke luar jendela
Di sisi lain ruangan yang di isi oleh kedua orang yang sedang berbicara...
"Tentu saja, aku sangat tidak keberatan dengan ini," ucap Albern dengan tatapan dan senyuman yang dingin
"Karena aku masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan,"
"Aku pergi dulu nona Elena, sampai bertemu besok," ucap Albern sambil berjalan ke arah pintu kemudian keluar dari ruangan itu
Di luar ruangan perawatan itu...
"Jadi bagaimana? Kamu telah mendapatkan sesuatu," ucap laki-laki yang menunggu di dekat pintu itu sambil menaikan kacamatanya
"Nanti kita bicarakan, ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara di sini," ucap Albern berjalan tanpa menghentikan langkahnya untuk berbicara dengan laki-laki berkacamata itu
"Baiklah, aku harap ini sedikit membatu," ucap laki-laki itu dengan helaan nafas panjang
"Albern dan Asisten James," Panggil seseorang dari jauh berjalan ke arah mereka karena panggilan itu mereka berdua menghentikan langkah kaki itu
"Yuria, jangan berteriak-teriak di lorong akademi, kamu tau kan nama dewan kesiswaan sedang dalam kondisi yang buruk jadi bertingkah lah dengan baik," ucap Laki-laki yang mengikuti dirinya dari belakang itu dengan tatapan lelah karena kelakuan perempuan yang tidak pernah diam sekalipun
"Kami telah mendengarkan berita tentang yang terjadi dengan Reina,"
"Apa dia baik-baik saja? Walaupun kami berdua bukan teman yang dekat dengannya tapi rasanya kami ingin melakukan sesuatu yang terbaik untuk menghibur dirinya,"
"Dan juga rasanya dia terlihat familiar dengan orang yang pernah aku temui tapi aku merasa tidak pernah bertemu dengan dirinya," ucap Yuria dengan tatapan yang serius sambil mengingat-ingat kembali tentang apa saja yang telah terjadi
'Mereka merasakan kalau Reina adalah orang familiar untuk mereka berdua,' ucap Albern di dalam hatinya sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya
Mungkinkah Reina bisa menyelesaikan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi olehnya? Apakah yang akan dilakukan oleh Albern selanjutnya? pasir seperti apa yang terus menerus turun kebawah?
__ADS_1
REINKARNASI REINA