Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Episode 97


__ADS_3

"Hum... aku ingin meminta tolong kepada yang lain untuk menemaniku tapi yang lain sedang sibuk, di sini juga tidak banyak ranting-ranting yang memungkinkan untuk di bakar," Gumam Reina sambil melihat hutan di sekelilingnya dan mengambil ranting-ranting kayu


"Hah... apa Elena benar-benar tidak sebaik yang di tulis di buku ya?" Gumamnya lagi sambil menatap langit yang hampir gelap


"Sudah hampir gelap aku harus segera bergegas kembali," ucap Reina sambil berjalan secepat yang dia bisa


"Srek... Srek..." suara dari balik semak-semak


"Suara apa itu?" gumam lirih Reina dengan pelan sambil berjalan mundur perlahan-lahan


"Reina ada dimana? aku tidak melihatnya dimana-mana," ucap Absyara sambil melihat semua anggota yang anda


"Reina? aku tidak melihatnya tadi terakhir aku lihat dia berbicara dengan Elena," ucap Yuria sambil menunjuk Elena


"Elena, katakan dimana Reina?" tanya Albern dengan tatapan dingin dan tajam


"Aku hanya memintanya untuk mencari kayu bakar di hutan untuk dibakar," ucap Elena dengan lembut dan tatapan polos


"Kamu menyuruhnya sendiri untuk pergi ke hutan?" tanya Absyuri dengan tatapan tajam


"Iya, memangnya kenapa? dia tidak mungkin takutkan ke hutan sendirian?" ucap Elena dengan tatapan tanpa rasa bersalah


"Kamu membiarkan dia pergi sendiri!? Apa kamu masih punya otak? bahkan anjing saja tidak tega meninggalkan tuannya kamu malah membiarkan partner perjalananmu dan partner tugas praktikmu pergi sendirian? memang kamu benar-benar tidak berpikir ya," ucap Yuria dengan blak-blakan tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan apa yang telah dia ucapkan karena tidak tahan melihat tingkah laku yang di perbuat oleh Elena


"Yuria, kamu tidak boleh berbicara seperti itu dan tenang kita harus berharap Reina baik-baik saja," ucap Shun sambil menenangkan Yuria


"Ah, air apa ini menetes?" ucap Absyuri sambil menatap ke atas


"Tentu saja hujan, apa kalian akan berada di sana?" ucap Asmodeus yang duduk di dalam tenda dari awal

__ADS_1


"Aku akan mencari Reina, kalian semua berada di sini, aku memiliki perasaan buruk tentang Reina dan hujan ini," ucap Albern sambil berlari ke arah hutan


'Aku harus cepat lari? bagaimana bisa di hutan ada goblin, semoga saja dengan sihir hitam ku yang membuatnya semua inderanya tumpul bisa membuatku lari jauh,' ucap Reina di dalam hatinya sambil berlari menjauh dari goblin yang mengejarnya


'Itu Reina... tapi kenapa dia berlari?' ucap Albern di dalam hatinya saat melihat Reina sudah tidak jauh lagi dari pandangannya


"Reina, apa kamu baik-baik saja?" ucap Albern yang menghampiri Reina


"Aku... Hosh... hosh... ta...di me... li...hat a..da gob..lin di sa...na," ucap Reina sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal


"Tenang aku ada disini sekarang aku pasti akan melindungi dirimu," ucap Albern sambil memeluk Reina kedalam dekapannya


"Kali ini aku tidak akan membuatmu terluka sedikitpun Reina," ucap Albern sambil menatap dua ekor monster hijau dan seekor monster yang sangat besar dengan mata. satu di kepalanya berada di belakang Reina tidak lama kemudian Albern langsung mengeluarkan pedangnya dan berdiri di depan Reina


"Reina, bisakah kamu mencari kelemahannya?" tanya Albern yang berdiri di depan Reina dengan posisi siaga


Dia membawa pedang, kamu bisa saja terluka kalau melawannya pertarungan jarak dekat karena goblin terkenal dengan serangan brutal oleh karena itu lebih baik melawannya dengan jarak jauh dan orc dia memiliki kelemahan di matanya tapi dia pintar,"


"Pakai panah misalnya? apa kamu memilikinya? dia juga takut dengan api, aku sedikit bisa menggunakan sihir api jadi aku akan membantumu, Albern," tanya Reina sambil menatap Albern


"Aku tidak punya panah tapi Reina kamu punya belati lagi kan?" ucap Albern sambil menoleh ke arah Reina.


"Iya aku punya, gunakan belati milikmu sebagai pengganti panah bisa? aku akan memancingnya," ucap Albern sambil menatap Reina dengan penuh tatapan kepercayaan


"Baiklah," ucap Reina sambil menganggukkan kepalanya dengan sihir tingkat rendah yang lumanyan dikuasainya dia mulai bersiap-siap dengan mengikatkan bahan yang mudah terbakar dengan belati yang dimiliknya untuk membunuh golbin dan orc


Albern mulai memancing para golbin dan orc dia mengalihkan perhatian dengan sihir yang di milikinya, kemudian


"Syut...." suara belati melesat dengan kecepatan tinggi di bantu dengan sihir namun ternyata sihir api yang di lancarkan padam walaupun begitu para golbin mati menyisahkan orc sedangkan belati yang di lemparkan terakhir ternyata tidak tepat mengenai matanya.

__ADS_1


'Belatiku habis,' ucap Reina di dalam hatinya dengan perasaan panik dan ketakutan


"Reina, kita lari dari sini," ucap Albern sambil menarik tangan Reina untuk ikut berlari sampai di depan mereka ada sebuah gua namun tidak di sangka orc itu mengejar mereka di belakang mereka berdua, membuat Albern mendapatkan ide yang lumayan ekstrim


"Reina, kamu masuk ke dalam gua itu dulu, aku akan menyusul dirimu," ucap Albern kemudian berhenti berlari dan berdiri di depan gua sedangkan Reina yang tidak mengetahui apa yang di rencakan oleh Albern masuk ke dalam gua.


"ALBERN BERHATI-HATILAH," teriak Reina dari dalam gua dengan perasaan khawatir dan tangan yang dingin menyelimuti dirinya


Albern yang mendengarkan ucapan dari Reina membuatnya sedikit tersenyum dan melanjutkan rencana yang terpikirkan olehnya


'Reina, maafkan aku jika aku harus mengobarkan diriku untuk menyelamatkan dirimu,' ucap Albern di dalam hatinya sambil menatap orc yang sudah dekat dengannya, dan menyerangnya hingga membuat lengannya patah kemudian menggunakan sihir miliknya untuk membuat longsor.


Dengan cepat longsor dari atas gua turun Reina yang melihat Albern melakukan itu langsung menggunakan sihir hitamnya untuk menahan tanah yang jatuh dan mengambil Albern yang terluka parah serta sudah hampir di telan oleh tanah yang jatuh di depan mata Reina. Albern terselamatkan namun dengan luka dalam dan lengan patah hanya tersisa harapan dari mereka untuk bisa keluar dari gua itu.


"Reina, kamu syukurlah kamu selamat dan kenapa kamu menyelamatkan aku?" ucap Albern yang sudah sekarat sedangkan Reina hanya mengobatinya dengan ramuan obat yang dimilikinya walaupun dia tau kalau itu tidak bisa menyembuhkan luka dalam Albern tapi bisa menyembuhkan lengannya yang patah


"Kenapa kamu masih bisa berbicara seperti itu?" ucap Reina dengan air mata yang menetes di pipi Albern yang terbaring di pahanya


"Reina, aku pernah bilang kan aku mencintaimu selalu, tapi aku tidak pernah bisa memberikan bukti untuk menyakinkan dirimu, jadi aku rasa ini adalah caraku untuk menyakinkan dirimu walaupun nyawaku taruhannya mati karena diriku menyelamatkan dirimu bukanlah sesuatu yang kamu sesali," ucap Albern sambil mengusap air matanya


"Kamu bodoh... selalu mengatakan seperti itu... ini salahku selalu egois denganmu," ucap Reina sambil menatap Albern masih dengan air mata yang mengalir


"Reina, kamu kalau terus menangis dan pakaian basah itu kamu bisa sakit, dan egois milikmu membuatku mencintai dirimu apa adanya serta juga maaf kalau aku selalu menyakiti mu tanpa tau kalau aku benar-benar menyakiti dirimu," ucap Albern sambil memandangi Reina


"Aku akan selalu menunggu perasaan milikmu Reina," ucapnya lagi sambil tersenyum


Apakah ini akan menjadi akhir Albern? Apakah Reina akan mengetahui perasaan miliknya? Apakah yang terjadi selanjutnya?


REINKARNASI REINA

__ADS_1


__ADS_2