
Sesampainya di atas Albern menarik kursi untuk Reina duduk.
"Terima kasih Albern," ucap Reina sambil tersenyum dan duduk di kursi yang tadinya di tarik
"Iya sama-sama," ucap Albern sambil duduk di kursinya
"Aku tidak tau ada tempat sebagus ini di jalanan yang sepi ini," ucap Reina sambil menatap sekelilingnya
"Tentu saja, kalau mau kesini kapan-kapan aku temani kalau kamu pergi sendirian nanti kakakmu akan marah dan tidak akan mengizinkan kamu keluar rumah lagi," ucap Albern sambil tersenyum
"Ini makanannya, terima kasih telah menunggu," ucap pelayan itu sambil menyodorkan makanan yang di atas nampan kemudian pergi
"Selamat makan," ucap Albern dan Reina secara serentak kemudian menikmati makanan mereka
"Supnya enak, aku tidak menyangka ada makanan seenak ini," ucap Reina sambil menatap Albern
"Sudah aku bilang kan? ini adalah tempat favorit aku," ucap Albern sambil menyeringai
"Iya, setelah ini mau pergi kemana?" tanyanya dengan penasaran
"Alat tulis untuk ujian nanti sudah kamu beli?" tanya Albern sambil menyeruput kuah sup
"Eh? emangnya harus?" tanya Reina dengan tatapan kebingungan
__ADS_1
"Jadi kamu belum beli sama sekali?" tanya Albern sambil menatap Reina
"Belum, aku tidak tau sama sekali kalau itu perlu," ucap Reina dengan suram
"Kalau begitu nanti kita pergi ke toko alat tulis," ucap Albern sambil memandang Reina
"Reina," panggil Albern sambil beranjak berdiri dan berjalan mendekat ke arah Reina. Albern mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaan pipi Reina didekat bibir sedangkan Reina yang di dekati tidak bisa berpikir apapun seolah-olah otaknya kosong
"Masih ada, sebutir nasi di dekat bibirmu tadi," ucap Albern yang menjilat sebutir nasi yang di ambilnya
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan sebutir nasi," timpalnya lagi
Melihat Albern yang melakukan itu kepadanya dia hanya diam dan tidak bisa berpikir dengan jernih, perlahan-lahan pipinya mulai memerah dan panas.
Dengan perasaan khawatir Albern mendekatkan keningnya dengan kening Reina. "Kenapa tubuhmu semakin panas Reina? Kamu yakin tidak sakit?" tanya Albern dengan khawatir
"AKU PERGI SEBENTAR..." ucap Reina dengan panik sambil berlari menuruni tangga ke lantai satu
"Kenapa sih dia sangat imut dan lucu seperti kelinci kecil?" Gumam Albern dengan tatapan lembut dan pipi merah merona menatap Reina yang pergi tiba-tiba
'ALBERN GILA... MUKANYA KENAPA BEGITU DEKAT DENGANKU, AKU INGIN TERIAK TAPI SEDANG DI LUAR PERASAANKU JADI NAIK TURUN DAN PANAS," teriak Reina di dalam hatinya dengan muka yang masih merah seperti kepiting rebus
'TENANGLAH AKU TAPI MANA MUNGKIN, BISA TENANG AKU MUKA YANG BEGITU DEKAT SENYUMAN YANG BEGITU SEKSI,' teriak Reina lagi di dalam hatinya
__ADS_1
'REINA TENANG OK TENANG KAMU HARUS TENANG MENGHADAPI ALBERN,' teriaknya lagi sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan setelah itu dia naik ke atas ke tempat Albern menunggunya
"Kenapa pergi mendadak? Kamu yakin baik-baik saja Reina?" tanya Albern dengan tatapan pura-pura kebingungan
'Baik-baik saja matamu, menurutmu jantungku berdetak dengan cepat dan mukaku panas terlihat baik,' ucap Reina didalam hatinya dengan kesal namun tetap tenang
"Tidak kenapa-kenapa hanya saja aku ingin pergi ke toilet sebentar tadi," ucap Reina sambil tersenyum profesional
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita pergi ke toko alat tulis?" tanya Albern dengan tatapan dingin
"Kalau begitu sekalian pergi ke toko buku ya," ucap Reina sambil berjalan menuruni tangga
"Kenapa kamu jadi yang request tempat?" tanya Albern dengan tatapan bingung
"Ada beberapa buku yang ingin aku beli boleh ya kita mampir sebentar ke sana nanti?" ucap Reina dengan tatapan memelas
"Baiklah- baiklah nanti kita ke sana," ucap Albern sambil tersenyum tipis
"Aku akan membayar sebentar, kamu tunggu aku dibelakang aku jangan keluar dari pintu dulu ya jalan di sini sepi kamu nanti kenapa-kenapa bagaimana?" ucap Albern sambil menatap Reina dengan tatapan tajam
Bagaimana kisah percintaan kedua jiwa yang terikat takdir ini? Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
REINKARNASI REINA
__ADS_1