Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Episode 51


__ADS_3

"Ah... tenangnya, James sebenernya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," ucap Reina sambil berjalan ke arah James


"Kenapa kakakku tiba-tiba menitipkan diriku kepadamu?" tanya Reina dengan tatapan penasaran


"Entahlah, dia sangat tidak mempercayai Albern mungkin jadinya seperti itu," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain


"Aku tidak tau apa yang di sembunyikan oleh kakakku, aku hanya merasa aku ingin membantunya jika ada yang bisa aku bantu," ucap Reina dengan tatapan suram


'Mungkin ini kesempatanku untuk bertanya masalah rahasia Keluarganya,' ucap James di dalam hatinya sambil menyeringai


"Reina, keluargamu sangatlah luar biasa jadi pasti kakakmu akan baik-baik saja, dan apa boleh aku juga menanyakan sesuatu?" ucap James sambil tersenyum lembut


"Kenapa keluargamu tidak pernah berkunjung ke Katedral? Apa keluargamu tidak terlalu percaya dengan yang namanya Dewa?" tanya James sambil tersenyum kecil


"Hummm... entah lah, kakak bilang karena keluarga kami netral tentu saja itu tidak terlalu di perlukan," ucap Reina dengan sambil melipat kedua tangannya


'Mana mungkin ada alasan seperti itu, itu pasti hanya akal-akalan Dalbert,' ucap James di dalam hati dengan tatapan datar dan kecewa


"Oh seperti itu," jawabnya dengan nada datar


Reina dan James belajar di dalam ruangan khusus milik perpustakaan sampai sore sedangkan Albern dan Blake berada di luar perpustakaan menunggu keduanya keluar


"Kalian berdua masih disini?" tanya Reina sambil berjalan menuju Albern dan Blake


"Tentu saja, aku dan Blake akan menunggumu keluar nanti kamu kenapa-kenapa sama James gimana? aku antar pulang ke asrama ya," ucap Albern dengan tatapan dingin


'Albern, sepertinya berada di mood yang buruk ya aku seharusnya tidak banyak mengusir paksa tadi,' ucap Reina di dalam hati sambil memandang


"Heran aku, buat apa aku ngeganggu anak orang di rebus kalau enggak yah buat makan hewan peliharaan kakaknya entar," Gumam James dengan tatapan kesal


"Blake, kamu bagiamana nanti?" tanya Reina dengan tatapan kebingungan


"tenang nanti aku bisa kok pulang bersama James, benarkan James?" ucap Blake dengan tatapan tajam dan mencekam


'Kenapa orang kalau punya kekuasaan seenaknya nekan bawahannya ini, aku pengen pensiun aja,' ucap James di dalam hatinya sambil menahan tangisannya

__ADS_1


"Iya kan JAMES," ucap Blake sambil menekan nama James


"Iya... iya... iya..." ucap James sambil tersenyum paksa


"Sudah dengarkan ayo," ucap Albern sambil menarik tangan Reina


"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Reina sambil menoleh kearah James dan Blake


"Ck, kalau bukan karena taruhan aku mana mungkin akan mengalah kepada Albern," ucap Blake dengan tatapan yang kesal


"Kalian bertaruh?" tanya James dengan tatapan kebingungan


"Iya begitu, 1 bulan lagi akan ada kompetisi berburu yang bisa sekelompok dengan Reina pastinya adalah siswa dengan nilai tertinggi di ujian Minggu depan, oleh karena itu aku harus mendapatkan nilai tertinggi," ucap Blake dengan tatapan dingin


"Kalian berdua berebut Reina nanti kalau Reina tau kalian menjadikannya sebagai bahan taruhan kalian, dia tidak akan sekelompok dengan kalian ditambah lagi Derick juga menyukai Reina walaupun tidak kelihatan suka, bukankah itu percuma?" ucap James sambil menaikkan bahunya dan menggelengkan kepala


"Tentu saja tidak percuma, kamu lihat saja nanti," ucap Blake sambil tersenyum dingin dan berjalan ke arah lain


"Mereka berdua sama-sama bermuka dua, capek aku tinggal di tempat ini kapan aku punya pacar juga?" Gumam James dengan tatapan lelah


"Kenapa mendadak mengajakku pulang?" tanya Reina dengan kebingungan


"Kamu selalu menghindari aku, tentu saja aku ingin tau alasannya," ucap Albern dengan tatapan dingin


"Humm... kamu ingat kan pada saat kita kecil kita memiliki perjanjian kontrak?" ucap Reina sambil menatap ke arah jalan yang di depan tanpa memandang Albern


"Aku ingat, kamu mengajukan kontrak pertunangan kepadaku dan aku setuju," ucap Albern sambil memandang Reina


"Jadi, aku rasa ini saatnya kamu mencari kepastian penggantiku gadis itu dia selalu dekat kan denganmu?" ucap Reina sambil tersenyum pahit dan menggigit bibirnya


"Dan juga rumor mengatakan bahwa kal-" ucap Reina terpotong


"REINA," teriak Albern sambil menarik Reina dan memeluknya


"KAMU KENAPA TIDAK PEKA DENGAN PERASAAN TULUS YANG AKU MILIKI REINA?SAMPAI KAPANPUN AKU HANYA AKAN SELALU DAN SELALU MEMPERHATIKAN DIRIMU TAPI KENAPA KAMU SELALU BERHATI ES?" teriak Albern sambil memeluk Reina dengan erat seakan-akan takut akan kehilangan tunangannya satu-satunya itu

__ADS_1


"AKU SELAMA INI SELALU MENUNGGU DIRIMU DAN SEKARANG REINA AKU PUN AKAN TERUS MENUNGGU DIRIMU SIAP? AKU MOHON KEPADAMU JANGAN MENINGGALKAN AKU OK?" teriak Albern yang tiba-tiba meneteskan air matanya karena tidak tau apalagi yang akan di lakukannya kepada tunangannya yang selalu menghindari dirinya


'Apa benar aku harus membuka perasaan ini? Ketika melihat dia menangis d' ucap Reina di dalam hatinya sambil mengigit bibirnya dengan perasaan gelisah


"Aku tidak akan memaksa dirimu jika tidak bersedia untuk menerima perasaanku, aku tau aku selalu memaksamu untuk menjadi milikku dan mungkin aku merasa kalau jiwamu tidak ada untuk diriku melainkan hanya fisikmu yang begitu cukup dekat dengan diriku setiap kamu mengatakan pengganti, pengganti dan pengganti dirimu," ucap Albern dengan suara yang berat dan sesak


"Apa kamu tau Reina, perasaanku selalu tercabik-cabik dan sangat sakit mendengarkan dirimu mengatakan bahwa dirimu pengganti layaknya sebuah boneka, kamu bukanlah sebuah pion di dalam dunia politik, bukan juga seorang pengganti sementara untuk mendampingi aku, kamu adalah kamu Reina hanya dirimu tidak akan ada pengganti dirimu kamu tidak perlu bersikap seperti boneka," ucap Albern dengan nafas yang berat dan sesak didadanya sambil memeluk erat Reina


Reina yang mendengarkan ucapan Albern yang begitu tulus untuk dirinya meneteskan air mata.


'Kenapa air mataku keluar dan kenapa perasaan sakit yang membelenggu ini sangat menyakitkan? mungkin tidak ada salahnya menerima takdir ini untuk sementara?' ucap Reina di dalam hatinya


"Terima kasih Albern aku sangat menghargai perasaanmu, aku mungkin akan mencoba menerima," ucap Reina sambil tersenyum kecil dengan air mata yang mengalir


"Reina, apa kamu tidak bercanda kan?" tanya Albern sambil menatap Reina


"Dimatamu aku salah terus ya? Aku menghindar kamu marah aku serius kamu kira aku bercanda, aku akan membuka perlahan-lahan untuk perasan ini, mau menunggu aku lagi?" ucap Reina sambil tersenyum kecil


"Mana mungkin, Reina selalu benar kok dan kalau kamu minta untuk menunggu pastinya perasaanmu boleh saja jika itu mau kekasihku, tapi kenapa kamu ikut menangis juga jadi jelek?" ucap Albern sambil mengusap air mata Reina dengan jempolnya


" Biarkan saja, sejak kapan aku bilang mau jadi kekasihmu? kemana sifat dingin kamu itu? kenapa jadi cengeng?" ucap Reina dengan tatapan kebingungan


"Jadi kamu menolak aku? Karena kamu sering menghindari diriku dan selalu tidak bisa menjadi dirimu sendiri, kamu membuatku jadi sedikit ramah dan baik sedangkan dirimu selalu bersikap seolah ini bukan kebahagiaan milikmu, tentu saja aku hanya menatapmu diam selama bertahun-tahun berharap kamu benar-benar tidak berpikir buruknya dirimu sendiri tapi sepertinya tidak berhasil jadi karena aku tidak tahan lagi harus sampai kapan aku menahannya makanya aku yang berbicara langsung kepadamu," ucap Albern sambil tersenyum kecil


'Padahal aku hanya berpikir untuk menghindari dirinya dan merubah kematianku tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia akan begitu memikirkan diriku lebih dari diriku sendiri, takdir begitu lucu, begitu aku menerima dirinya artinya nanti aku siap dengan kematianku,' ucap Reina sambil tersenyum pahit


"Kalau begitu besok aku akan menunggumu di gerbang sekolah," ucap Albern sambil mencium kening Reina


Reina yang dari tadi melamun tiba-tiba tersadarkan dengan ciuman yang dilakukan oleh Albern hingga membuat pipinya merah merona


"Jangan melakukan seenaknya, itu sama sekali tidak sopan terhadap seorang lady" ucap Reina dengan pipi merah merona


"Maafkan aku, aku hanya sedikit senang dan lucu melihat dirimu yang terbuka kepadaku," ucap Albern sambil menatap Reina


Apakah takdir Reina akan berubah sepenuhnya? Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimanakah dengan takdir yang telah tertulis di atas kertas itu?

__ADS_1


REINKARNASI REINA


__ADS_2