
"Haruskah kita turun tangan secara langsung James anggap sebagai olahraga begitu," ucap laki-laki itu sambil tersenyum
"Albern, aku rasa sudah lama kita tidak kembali ke ibukota kamu semakin bersikap tidak baik-baik saja," ucap James sambil menaikkan kacamatanya
"Lagipula aku belum diminta untuk memerintah dengan serius wilayah Erlan jadi aku tidak punya banyak pekerjaan dibandingkan dengan Blake yang sedang dalam proses persiapan takhta dan Deus yang sedang membantai para pendeta-pendeta yang melakukan penculikan anak dan dijadikan eksperimen," ucap Albern sambil tersenyum
"Memang benar yang kamu katakan, kalau begitu aku pergi ke wilayah Baron dulu,"
"Karena aku harus menyiapkan acara pertunanganku," ucap James sambil berjalan ke arah pintu
"Sampaikan pesanku kepada keluarga Baron," ucap Albern sambil menulis surat untuk perempuan yang dia sayangi
Di kediaman Halmiton...
"Nona,"
"Anda tidak boleh bermalas-malasan seperti itu," ucap Olivia sambil membawakan cemilan untuk nonanya yang sedang berbaring di atas kasur dengan bermalas-malasan
"Olivia, aku baru pulang beberapa hari yang lalu awalnya kamu terharu dan khawatir kepadaku sekarang kamu kembali untuk memarahiku,"
"Kamu begitu cepat berubah, seperti cuaca," ucap Reina yang masih membaca buku dengan berbaring di atas tempat tidurnya
"Nona, saya terkadang bingung kenapa anda bisa memiliki orang yang menyukai anda padahal anda tiduran terus dibandingkan putri bangsawan yang banyak berusaha," ucap Olivia dengan tatapan air mata yang tidak keluar
"Mungkin ini yang disebut dengan daya tarik seorang lady," ucap Reina yang kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju ke arah meja yang telah di sediakan cemilan itu
'Hadeh...'
'Kepalaku sakit menghadapi nona muda keluarga ini,' ucap Olivia di dalam hatinya dengan tatapan lelah
"Ah iya, aku ingin bertanya kepadamu Olivia,"
"Apa boleh?" ucap Reina sambil menatap Olivia dengan tatapan yang serius
"Boleh saja selama saya masih bisa menjawabnya, apa yang ingin di tanyakan?" ucap Olivia dengan tatapan kebingungan
"Berapa umurmu sekarang, Olivia?" ucap Reina dengan tatapan penasaran
"Umurku sudah 29 tahun nona, memangnya kenapa?" ucap Olivia dengan tatapan kebingungan
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memutuskan untuk mencari pasangan atau menikah Olivia?" tanya Reina dengan tatapan serius
"Kenapa nona menanyakan hal seperti itu secara tiba-tiba?" ucap Olivia dengan tatapan curiga
"Karena biasanya orang-orang telah menikah di umur seperti itu bahkan mungkin lebih muda dari itu karena menurut mereka hal seperti itu lebih baik tidak ditunda,"
"Tapi kamu sendiri belum menikah di usia seperti ini aku jadi penasaran alasannya apa?" ucap Reina dengan tatapan penasaran
"Aku tidak berpikir untuk menikah cepat-cepat karena aku belum merasakan cinta sekalipun, ditambah lagi saya harus menjaga keluarga Halmiton,"
"Jadi menurut saya menikah itu bisa nanti kalau ada orang yang benar-benar tulus mencintai kalau tidak yah sudah biarkan saja dulu," ucap Olivia sambil tersenyum tipis
"Bagaimana kalau kamu sampai tua nanti tidak bisa menemukan pasanganmu? Bukankah itu adalah hal yang menyedihkan?" ucap Reina sambil menatap teh yang berada di cangkirnya
"Kenapa nona begitu memaksaku untuk menikah dan miliki pasangan? Apakah anda tau ini sedikit mencurigakan?" ucap Olivia dengan tatapan yang curiga
"Aku tulus tau ingin kamu bahagia, karena aku juga mungkin akan menikah jadi aku pikir kamu juga harus bahagia," ucap Reina sambil tersenyum tipis
"Bagaimana kalau kita mengadakan kencan buta? nanti akan aku minta kakak atau ayah untuk mengaturnya,"
"Kamu harus ikut kencan buta ini Olivia," ucap Reina dengan tatapan serius
"Baiklah, lakukan saja sesuai yang nona muda inginkan karena aku yakin nona pasti akan terus mendesak aku untuk ikut ke dalam kencan buta atau pertunangan paksa ini,"
"Aku yakin nona tidak akan menyerah untuk menjodohkan aku," ucap Olivia dengan tatapan lelah
"Baguslah kalau kamu berpikiran seperti itu, kamu tenang saja,"
"Karena aku akan memilihkan laki-laki yang pantas untuk dirimu," ucap Reina dengan anggukan kepala bangga
"Tok... tok... tok..." Suara ketukan pintu yang membuat pembicaraan mereka berdua terhenti
"Nona, saya harus mengecek siapa yang ada di balik pintu jadi tunggu di sini," ucap Olivia yang kemudian berjalan ke depan pintu dan mengecek orang dari balik pintu itu
"Ada surat untuk nona Reina, jadi aku yang mengantarkannya," ucap laki-laki itu dengan tatapan dingin
"Hoh, kenapa kamu yang mengantarkannya dari sekian banyak orang yang ada di rumah ini tapi tidak biasanya dirimu yang memegang surat itu,"
"Bukankah biasanya kamu mengekor tuan muda Dalbert, Luke?" ucap Olivia dengan senyuman tipis
__ADS_1
"Aku kebetulan saja tadi melihat tumpukan surat yang ada di dekat meja, aku sempat mengira semua surat itu adalah surat Master tapi ternyata pada saat aku mengantarnya kepada Master,"
"Master mengatakan kalau ada beberapa surat yang ternyata milik nona Reina, jadi aku mengantarnya ke sini," ucap Luke dengan tatapan serius
"Oh begitu, Terima kasih karena kamu telah susah payah mengantarkan surat ini ke sini," ucap Olivia dengan tatapan dingin sambil menerima surat yang diberikan
"Olivia, aku tidak sengaja mendengar kalau kamu akan kencan buat, apa itu benar?" tanya Luke dengan tatapan penasaran
"Itu benar, memangnya kenapa? kamu ingin bilang kalau aku sudah terlalu tua untuk ikut hal semacam itu?" ucap Olivia dengan tatapan tajam
"Tidak aku hanya bertanya, aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu, hanya saja aku tidak menyangka kalau kamu ingin ikut seperti itu," ucap Luke dengan tatapan dingin
"Baiklah, kalau begitu aku ingin menyampaikan surat ini kepada nonaku,"
"Jadi cepatlah pergi dan mengekor tuan muda," ucap Olivia dengan tatapan dingin dan menutup pintu
'Bagaimana bisa ada perempuan yang bersikap begitu dingin dan kasar seperti itu?' ucap Luke di dalam hatinya dengan tatapan dingin
"Kenapa kamu begitu lama? Apakah ada sesuatu yang darurat?" ucap Reina dengan tatapan kebingungan
"Tidak ada tapi..."
"Nona, ada surat untuk anda, sepertinya dari calon tunangan anda," ucap Olivia sambil menatap stempel yang tertera di atas surat itu
"Hummm..."
"Berikan kepadaku, biarkan aku yang membacanya secara langsung," ucap Reina sambil meletakkan cangkir tehnya
"Apakah perlu saya ambilkan pena dan kertas?" ucap Olivia sambil memberikan surat itu
"Tolong ya, aku ingin langsung membalasnya karena aku tau dia pasti menunggu balasan," ucap Reina sambil tersenyum tipis
"Baiklah," ucap Olivia yang kemudian diambilnya pena dan kertas yang diberikan kepada Reina
"Ah iya, kembali ke percakapan kita tadi jadi kamu ingin kapan kencan butanya Olivia?" ucap Reina dengan tatapan penasaran dan bersemangat
Apakah Olivia benar-benar akan ikut kencan buta? Siapakah orang yang akan berada di kencan butanya nanti? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA
__ADS_1