
'Prank..." suara cangkir teh yang pecah
'Kenapa cangkirnya pecah? Dan juga kenapa hatiku tidak merasa tenang, merasa khawatir seperti ini karena siapa?' ucap Reina di dalam hatinya dengan perasaan tidak tenang
"Aku harap siapapun yang berada di dalam bahaya baik-baik saja," Gumam Reina sambil membereskan Cangkir teh yang pecah
Di sisi lain ruangan yang begitu besar dan mewah namun memiliki taman yang begitu besar dan berbentuk seperti lorong-lorong labirin di dalam ruangan itu membuat keduanya terkejut.
"Kali ini mari kita bermain, dengan peraturan yang aku tentukan,"
"Di dalam labirin ini, kalian harus menjawab semua pertanyaan yang ditentukan dan kalian harus bisa keluar dari istana ini, aku tidak memberi tau kalian tentang bagaimana caranya menentukan lokasi tempat kalian berada tapi ini adalah dimensi yang berbeda dengan kenyataan jadi ini adalah tempat yang tidak memiliki ujung sama sekali,"
"Waktu kalian adalah tiga jam dari sekarang," ucap Dezria sambil menyeringai dari balik cermin
"Aku tidak menyangka kamu mengeluarkan sihir unikmu hanya untuk menguji orang, apalagi untuk membuka ruangan tidak ada batas ini, kamu benar-benar berniat untuk menguji mereka ya?" ucap Derick sambil memperhatikan dari samping Dezria
"Bukankah ini sedikit menarik jika mereka bisa lolos ujian masuk? otomatis kita harus memberikan ujian yang sedikit menyenangkan melebihi yang diberikan yang lain," ucap Dezria sambil menyeringai
"Tapi apa yang terjadi jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar?" ucap Derick dengan tatapan penasaran
"Mereka akan terjebak atau tidak mereka akan mendapatkan kematian, setiap ruangan akan berubah-ubah posisinya oleh karena itu ini bukanlah hal yang akan mudah di selesaikan," ucap Dezria dengan tatapan dinginnya
"Albern, kita mungkin tidak akan bisa melewati labirin ini apalagi keluar dari istana ini, waktu yang diberikan sangat singkat," ucap James sambil menatap labirin dengan pasrah
"Jika, kita menyerah sekarang maka kita harus mengulangnya lagi dari bawah tapi jika kita ingin berusaha dari sekarang mungkin kita bisa melakukannya walaupun hanya sedikit keberuntungan,"
"Aku rasa sedikit mustahil kita bisa menggunakan sihir untuk memotong dinding labirin yang terbuat dari tanaman ini, sedikit daun yang aku petik saja sudah membuatnya kembali seperti semula," ucap Albern sambil menatap jalan yang tersedia dan berjalan mengikutinya di ikuti oleh James namun tiba-tiba saat mereka berjalan tiba-tiba mereka telah berada di sebuah ruangan dengan keadaan terpisah.
Sebuah ruangan seperti ruangan kerjanya berada di depannya...
__ADS_1
'Ini adalah ruangan kerjaku? Apa mungkin aku sedang melamun?' ucap Albern di dalam hatinya sambil memperhatikan sekitarnya dengan tatapan tajam dan detail untuk memastikan kalau dia benar-benar berada di dalam ruangan kerjanya.
"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu
'Siapa yang datang ke sini?' ucap Albern di dalam hatinya sambil berjalan ke arah pintu
"Albern, aku merindukan dirimu, biasanya kamu yang datang menemui aku pada saat jam-jam seperti ini tapi kamu tidak datang ternyata kamu di sini," ucap seorang perempuan dengan suara yang tidak asing untuk dirinya itu dengan tatapan yang sedikit kesal
'Reina? Kenapa dia ada di sini dan kenapa dia bicara seperti itu?' ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan
"Maafkan aku, aku sedikit sibuk jadinya aku lupa untuk menemui dirimu," ucap Albern dengan tatapan yang lembut kemudian mencium kening Reina seolah-olah dia telah terbiasa melakukan hal yang belum pernah dilakukannya
"Sekarang aku akan menemanimu, jadi apa yang ingin kamu lakukan?" ucap Albern dengan tatapan yang manis
"Kamu lupa ya? hari ini adalah hari untuk melihat pakaian pernikahan kita," ucap Reina dengan tatapan yang kesal
'Aneh... Bagaimana bisa aku lupa dengan pertunangan ku? dan kenapa rasanya aku tidak pernah melakukan ini tapi terbiasa dengan ini? Apakah ini cuma perasaanku saja?' ucap Albern di dalam hatinya dengan penuh pertanyaan
"Yang mulia putra mahkota dan yang mulia putri mahkota ini adalah pakaian yang telah kami rancang khusus untuk pernikahan anda saya harap hasilnya sesuai dengan yang anda harapkan," ucap seorang pelayan butik di toko tersebut sambil menunjukkan gaun yang telah jadi
"Terima kasih, ini gaun yang indah,"
"Dari pola dan jahitannya ini sangat elegan dan cantik, aku tidak sabar untuk bisa memakainya," ucap Reina dengan tatapan yang penuh kebahagiaan
"Kalau kamu ingin bagaimana kalau kita mempercepatnya?" ucap Albern sambil menatap Reina
"Tidak, karena aku tidak ingin menyusahkan orang lain karena kita ingin cepat menikah, lagipula kita akan menikah cepat atau lambat," ucap Reina sambil menggeleng tidak setuju dengan yang di ucapkan Albern
'Dia masih selalu memikirkan orang lain dibandingkan mempertimbangkan keinginan dirinya, memang aku tidak salah memilih dirinya untuk menjadi seorang pendampingku,' ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan terkesima melihat Reina
__ADS_1
"Kenapa kamu menatapku terus? ini jadi sedikit menyeramkan," ucap Reina dengan tatapan merinding
"Itu karena kamu terlihat sangat cantik jadinya aku sampai tidak bosan untuk melihat dirimu," ucap Albern sambil tersenyum tipis melihat Reina
"Sudahi ucapan manismu itu, karena hari sudah hampir gelap," ucap Reina dengan tatapan dingin karena sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan manis dari tunangannya itu
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang ke mansion Halmiton," ucap Albern sambil mengulurkan tangannya kemudian di letakkan tangan Reina di atasnya
"Nanti sebelum pulang kamu harus makan bersama denganku dan keluargaku,"
"Bagaimanapun juga kalau bukan karena mereka yang menyetujui pernikahan kita, kita tidak akan bisa menikah," ucap Reina sambil menatap alun-alun kota di sore hari
"Iya, tentu saja aku akan ikut makan bersama dengan ayah, ibu dan kakak iparku karena mereka nantinya akan menjadi orang tuaku," ucap Albern menatap Reina kemudian menatap langit sore
"Reina, apa kamu tau kadang aku pikir mustahil kita bisa bersama tapi aku tidak menyangka kalau kita bisa sampai tahap akan menikah," ucap Albern dengan tatapan yang serius namun lembut
"Aku rasa begitu, nantinya kita yang akan menjadi orang tua dan merawat anak-anak kita sampai hari tua bahkan kematian datang menemui kita,"
"Kita tidak akan tau seperti apa yang akan terjadi kedepannya tapi selama bersama dirimu aku yakin aku bisa baik-baik saja," ucap Reina sambil tersenyum kecil memandang orang yang ada di sampingnya
"Reina, nantinya kamu ingin memiliki berapa banyak anak?" ucap Albern sambil tersenyum tanpa dosa
"Kita belum menikah jangan berpikir terlalu jauh," ucap Reina dengan tatapan sedikit kesal
"Iya, iya... bahkan apabila nantinya kita tidak bisa memiliki anak tidak akan menjadi masalah besar, karena kita bisa tetap bersama sampai hari tua," ucap Albern sambil tersenyum
Mungkinkah mereka akan menikah? Akankah mereka bahagia? Apakah yang dimaksud oleh Dezria? Bagaimana dengan James? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA
__ADS_1