Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Bab 159 Nanti kamu bisa sakit


__ADS_3

"Albern, apakah kamu sedang mencari sesuatu?" ucap Derick dengan tatapan penasaran


"Tidak, aku tidak mencari sesuatu, aku hanya ingin melihat-lihat seperti apa ruangan ini sebenarnya," ucap Albern dengan tatapan dingin


"Kalau di lihat-lihat masih ada satu orang yang belum terlihat,"


"Ketua, apakah siswa baru yang berdiri di acara penyambutan kemarin tidak akan hadir?" ucap Shun sambil menghitung semua siswa yang hadir


"Iya, dia tidak akan hadir kalau dia ingin hadir aku rasa seharusnya dia sudah berada di sini sejak beberapa menit yang lalu, memang sangat di sayangkan siswa dengan prestasi luar biasa tidak hadir di sini untuk menjadi salah satu wajah keteladanan dari dewan kesiswaan tapi aku juga tidak bisa memaksa dirinya untuk ikut bergabung,"


"Tapi ada satu siswa lagi yang akan bergabung, dia tidak akan datang hari ini mungkin besok dia akan hadir atau lusa nanti, karena dia baru masuk ke akademi hari ini," ucap Derick sambil menatap jam saku miliknya


'Jadi begitu ya dia tidak akan hadir karena telah memutuskan pertunangan denganku lagi tapi tidak masalah, aku yakin nanti aku bisa menyapa dirinya dengan cara yang tidak lagi terikat dengan dirinya,' ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan yang percaya diri


"Tes, tes..." suara air yang menetes dari balik jendela


"Diluar sepertinya hujan ya,"


"Sangat jarang terjadi hujan di akademi, kesihan sekali para siswa lainnya yang tidak membawa payung mereka pasti kehujanan sampai besok banyak yang akan tidak masuk," ucap Yuria sambil menatap ke luar jendela


'Hujan? Kalau di pikir-pikir apakah hujan ini karena aku yang datang mengubah masa lalu?" ucap Albern di dalam hatinya dengan tatapan terkejut melihat hujan yang ada di luar


Di dekat lorong taman...


"Ah... hujan,"


"Aku tidak membawa payung, dari akademi kalau menggunakan sihir untuk teleportasi nantinya aku bisa pingsan karena kelelahan,"


"Aku rasa memang harus menunggu hujan sampai berhenti di sini," ucap Reina dengan tatapan suram melihat hujan yang begitu lebat turun


'Musim seperti ini memangnya hujan bisa turun ya, aku rasa ini adalah hal yang tidak terduga,'


'Lebih baik aku baca buku yang aku pinjam dari perpustakaan sambil menunggu hujan selesai,' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan bosan kemudian duduk di kursi


Beberapa jam kemudian...


"Akhirnya rapatnya selesai, aku tidak menyangka pertemuan pertama kita sudah begitu lama di dalam ruangan itu,"


"Hujan ini seperti hujan yang abadi, padahal sudah lama turunnya tapi tidak berhenti dari tadi,"


"Apakah kamu bawa payung Albern?" ucap James sambil meregangkan otot-otot tubuhnya

__ADS_1


"Aku selalu membawanya tapi cuma satu," ucap Albern dengan tatapan dingin


"Kalau begitu, ajak aku berteduh di payung milikmu ya," ucap James dengan tatapan memelas


"Berikan alasan yang masuk akal jika aku ingin mengajakmu pulang bersama dengan payung yang aku miliki," ucap Albern yang menatap James kemudian menatap ke arah seorang gadis yang sedang membaca buku di kursi yang tidak jauh darinya


"Baiklah, ambil langsung payung ini dan cepatlah pergi pulang ke asrama," ucap Albern kemudian memberikan payung miliknya dengan sukarela kemudian pergi untuk menghampiri gadis yang duduk di kursi itu


'Kenaoa dia mendadak jadi baik?' ucap James dengan tatapan kebingungan kemudian melihat ke arah depannya


'Ternyata seperti itu,'


'Pertemanan ini lebih tipis dibandingkan perasaan cinta ya, cinta itu membuatnya jadi orang yang lebih bodoh dibandingkan aku,' ucap James dengan tatapan datar kemudian pergi ke arah sebaliknya untuk pulang


'Dia Sepertinya sangat fokus hingga tidak sadar kalau aku telah berada di sampingnya,' ucap Albern yang berdiri di samping gadis yang tengah fokus membaca buku


"Akhirnya selesai, aku tidak menyangka ada novel yang begitu menyenangkan di perpustakaan," ucap Reina sambil menutup buku kemudian terkejut


"Maafkan saya karena tidak menyambut Anda, yang mulia," ucap Reina dengan perasaan bersalah


"Tidak apa-apa, aku memang sengaja diam karena kamu terlihat sangat fokus dengan buku yang dibaca," ucap Albern sambil tersenyum


"Iya begitulah, nona Halmiton bisakah aku meminta satu permintaan kepadamu?" ucap Albern dengan tatapan serius


"Boleh, selama aku bisa melakukannya, memangnya kenapa?" ucap Reina dengan tatapan kebingungan


"Kalau begitu, tolong panggil aku dengan namaku,"


"Jangan panggil aku dengan sebutan yang mulia putra mahkota, aku harap kamu bisa karena sekarang kita berada di akademi,"


"Aku tidak ingin status di gunakan di dalam akademi ini," ucap Albern dengan tatapan yang penuh perhatian ke arah Reina


"Begitu ya, kalau begitu tolong jangan panggil aku juga dengan panggilan nona Halmiton, Albern," ucap Reina sambil tersenyum setelah terkejut mendengarkan perkataan orang yang ada di depannya


"Baiklah, Reina," ucap Albern yang mendadak tercengang kemudian tersenyum dengan lembut ke arah Reina


'Kenapa dia sekilas terlihat tampan?'


'Dan senyuman itu bagaimana bisa begitu membuatnya semakin tampan?' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan yang dalam


'Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan?'

__ADS_1


'Pasti karena hujan otakku jadi tumpul,' ucap Reina sambil berusaha menenangkan dirinya dengan menepuk pipinya yang baru saja terpesona


"Reina, ada apa kamu diam?" ucap Albern dengan tatapan yang kebingungan


"Ah, tidak apa-apa,"


"Albern, duduklah di sini, kamu pasti lelah kan?" ucap Reina sambil tersenyum kaku


"Baiklah, terima kasih," ucap Albern kemudian berjalan ke arah sebelah kursi Reina yang kosong


"Reina, kenapa kamu belum juga pulang? Sebentar lagi matahari akan tenggelam," ucap Albern sambil menatap Reina dengan perasaan khawatir namun tetap tenang


"Aku tadinya juga mau pulang ke asrama tapi karena hujan dan aku tidak membawa payung maka aku menunggu hujannya berhenti,"


"Aku pikir hujannya hanya sebentar jadinya aku menunggunya tapi sampai sekarang ternyata hujannya masih belum berhenti," ucap Reina dengan helaan nafas panjang


'Terima kasih hujan berkatmu aku bisa bertemu dengan Reina dan berbincang dengannya sedikit lama,' ucap Albern di dalam hatinya dengan perasaan yang senang


"Kalau begitu mau aku temani untuk menunggu sampai hujannya berhenti? aku juga tidak bawa payung karena aku pikir hari ini akan cerah," ucap Albern sambil tersenyum


"Tapi nantinya aku malah merepotkan dirimu," ucap Reina dengan tatapan khawatir


"Tidak apa-apa, kamu tidak merepotkan apapun kok," ucap Albern sambil tersenyum


'Aku rasa hanya menunggu hujan berhenti bersamanya, tidaklah masalah,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap hujan yang masih saja tidak berhenti


"Baiklah, terima kasih Albern," ucap Reina dengan senyuman lembut


"Hachim..." suara bersin Reina


"Ugh... sepertinya cuacanya sedikit dingin ya," ucap Reina sambil melipat kedua tangannya


"Sama-sama, kamu pasti kedinginan dari tadi di sini," ucap Albern yang melepaskan jas dari seragam itu dan meletakkan jas itu di punggung Reina


"Pakailah itu jangan lepaskan, karena nanti kamu bisa sakit."


'Ah... Albern kenapa bisa bertindak selembut ini?' ucap Reina di dalam hatinya sambil memegang erat jas yang di pakainya


Apakah hujan yang abadi ini akan berhenti? Mungkinkah cinta itu bersemi? Seperti apakah kisah Reina dengan Albern selanjutnya?


REINKARNASI REINA

__ADS_1


__ADS_2