Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Episode 58


__ADS_3

"Terima kasih telah berbelanja di toko buku kami," ucap pelayan Toko itu


"Cling... Cling..." suara pintu yang terbuka Reina dan Albern keluar dari toko buku itu


"Terima kasih Albern, sudah mau membayarkan semua bukuku nanti uangnya aku ganti ya," ucap Reina sambil tersenyum membawa beberapa buku yang di belinya sedangkan sisanya akan di kirimkan ke kediaman marquess


"Aku yang mengajakmu keluar sudah tugasku sebagai seorang laki-laki membayar semua yang dinginkan seorang lady, tidak mungkin lady membayar semua belanjaannya dan aku juga yang mengajaknya pergi bersama tidak sopan sekali nantinya mukaku harus taruh di mana?" ucap Albern dengan tatapan dinginnya


"Tapi aku pikir semua bukunya mau kamu kirimkan ke kediaman marquess, apa yang membuatmu membawa beberapa buku ke akademi?" tanya Albern sambil menatap buku yang berada di genggaman Reina


"Ehehe... Baiklah sekali lagi terima kasih Albern, karena aku akan sangat bosan tanpa melakukan apa pun oleh karena itu aku akan membawa beberapa buku ke akademi setelah selesai nantinya aku akan mengirimkan buku ini ke rumah" ucap Reina sambil tersenyum


"Oh begitu, sekarang kita pergi ke toko alat tulis," ucap Albern sambil menunjuk sebuah toko tua


"Albern, cuma perasaan aku saja atau memang kamu tau semua toko tua, toko yang berada di jalan yang sepi bahkan aku saja tidak tau," ucap Reina dengan tatapan penuh pertanyaan


"Penasaran? R.A.H.A.S.I.A" ucap Albern sambil membuka pintu toko alat tulis itu


"Cling... Cling... Cling..." suara pintu toko terbuka

__ADS_1


Sebuah pemandangan yang sangat unik dan indah dari sebuah toko membuat Reina terkesima, seolah-olah toko itu berada di tempat yang berbeda


"Kenapa kamu diam di sana Reina?" tanya Albern sambil menoleh ke arah Reina


"Ini... tempat yang sangat unik, aku tidak tau toko seperti ini benar-benar ada," ucap Reina dengan mata yang tidak berkedip karena tempat itu seolah-olah dibuat untuk kunjungan wisata


"Tentu saja ada, dulu ayahku selalu kesini untuk memesan alat tulis dan begitu juga aku sekarang kesini," ucap Albern sambil melihat-lihat alat tulis yang ingin dia beli


"Kalau begitu ini adalah toko untuk keluarga kerajaan?" tanya Reina sambil melihat ke sekeliling ruangan


"Tentu saja tidak nona, toko ini bisa di kunjungi oleh siapa pun hanya saja toko ini terlihat sangat tua sehingga orang mengira toko ini sudah tertinggal zaman," ucap seorang kakek tua yang kemungkinan adalah penjaga toko tersebut


Reina langsung menoleh ke asal suara "Begitu ya," ucap Reina sambil menganggukkan kepala


"Ayah ya dia seperti biasa sibuk dan sangat mengganggu anaknya untuk cepat menikah katanya kalau nanti aku menikah ayah ingin pergi ke tempat yang jauh bersama ibu untuk menikmati hari tua, sungguh orang tua yang merepotkan, bagaimana dengan kakek?" ucap Albern dengan tatapan suram mengingat percakapan orang tuanya


"Hohoho... bagaimana dengan kedua adikmu?" tanya kakek tua itu sambil tertawa kecil


"Mereka baik-baik saja, hanya saja mereka sekarang ikut dalam perebutan taktha dan pastinya para orang tua yang busuk dan bergelar kotor itu membisikan nada yang membutakan keluargaku," ucap Albern dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan benci

__ADS_1


"Kakek berharap kamu dan saudaramu tidak melakukan pertumpahan darah," ucap kakek tua itu dengan senyuman pahit


Reina yang berada di tengah percakapan itu merasa bingung dengan topik yang mereka berdua bicarakan.


"Reina, maafkan aku menganggapmu seperti angin, perkenalkan ini adalah kakekku, dia seorang penyihir terkenal sekarang sudah pensiun sih, toko ini adalah milik kakek buyutku karena kakekku sudah pensiun dari taktha dan jabatannya dia memutuskan untuk hidup jadi rakyat biasa," ucap Albern sambil memandang kakeknya


'Ternyata toko ini milik yang mulia raja terdahulu dan aku malah tidak memberikan hormat kepadanya, apa aku bisa mati di sini nanti?' teriakan hati Reina dengan keringat dingin


"Maafkan aku yang mulia tidak memberikan hormat kepada anda," ucap Reina dengan perasaan takut dan keringat dingin sambil memberikan hormat


"Sudah, sudah aku sudah pensiun dari pekerjaan itu sekarang aku hanya seorang kakek tua yang menikmati waktu tuanya," ucap kakek itu sambil menyeringai


"Jadi, siapa perempuan ini? calon istrimu?" ucap kakek itu sambil menatap Reina dengan tatapan penuh penasaran


"Ah.. itu... aku adalah..." ucap Reina dengan perasan gelisah


'Apa aku harus jujur kalau aku tunangannya? atau aku tidak akan mengakuinya?' ucap Reina dengan gelisah di dalam hatinya namun dengan senyuman profesional di depan dua orang berkuasa di hadapannya


Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya? Apa Reina akan mengatakan yang sejujurnya tentang hubungannya?

__ADS_1


Bagaimana rekasi sang kakek?


REINKARNASI REINA


__ADS_2