Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Episode 81


__ADS_3

"Hah... akhirnya selesai sarapan, sekarang aku harus mengerjakan pekerjaanku sebagai seorang putri bangsawan,"


"Kapan aku bisa beristirahat dengan tenang?" Gumam Reina sambil berjalan menuju meja kerja


"Ini kan surat dari kekaisaran, aku lebih baik membacanya sekarang daripada nanti ada apa-apa," ucap Reina sambil membuka surat itu


Yang terhormat nona Reina Alice Halmiton,


Apa kabarmu? Aku harap kamu sehat selalu


Aku memang tidak mahir dalam menulis surat seperti ini. Tetapi nona Reina jika nona berkenan saya ingin mengundang nona dalam pesta teh Minggu depan.


tertanda Albern Haracia Lavina


"Eh? tidak biasanya dia mengirimkan surat undangan minum teh dulu saja dia selalu ke mansion, pesta teh ya... humm... pergi tidak ya?" Gumam Reina sambil menatap surat itu


"REINA..." teriak sang kakak sambil membuka pintu


"Kakak, bisakah kakak ketuk pintunya sebelum masuk ke dalam ruangan? kakak sudah dewasa masih saja suka masuk semena-mena," ucap Reina dengan tatapan kesal melihat kakaknya yang berjalan masuk


"Maafkan kakak, karena ada yang ingin kakak sampaikan kepadamu," ucap Dalbert sambil tersenyum


"Ah surat dan cap itu dari kekaisaran ya?" tanya Dalbert sambil menatap ke arah surat itu


"Iya, kak jadi apa yang ingin kakak sampaikan sampai lupa mengetuk pintu," ucap Reina sambil menatap kakaknya dengan tatapan penasaran


"Kamu masih belum memiliki pasangan kan untuk pergi ke pesta nanti?" tanya sang kakak sambil tersenyum


"Ah iya, terus?" tanya Reina dengan tatapan kebingungan


"Jadi partner kakak saja pergi ke pesta dansa nanti, Kamu mau kan Reina? Kamu kan tau kakak tidak memiliki siapapun untuk di ajak ke pesta dansa,"


"Kemudian Reina, kakak sangat kesepian kalau pergi sendirian,"  ucap sang kakak dengan tatapan memelas

__ADS_1


'Apa benar dia seorang kakak yang tertulis di novel dingin dan suka menatap Reina dengan tajam bahkan tidak berperasaan?' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan datar


"Humm... baiklah aku juga tidak menerima undangan ajakan dari siapapun, pergi dengan kakak adalah yang terbaik," ucap Reina sambil tersenyum


"Reina, itu surat dari kekaisaran, apa boleh kakak membacanya?" tanya sang kakak sambil menatap surat itu


'Aku rasa tidak masalah membiarkan kakak juga membacanya, tidak ada hal yang penting di surat ini,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menyerahkan surat itu ke kakaknya


Dalbert mengambil surat yang di berikan oleh Reina dan Tanpa membaca isi surat mata Dalbert tertuju dengan nama yang mengirim suratnya kemudian meremukkan kertas itu.


'Laki-laki ini berani juga mengirimkan surat dengan atas nama kekaisaran, haruskah aku membunuhnya,' ucap Dalbert di dalam hatinya sambil tersenyum kesal


"Kakak, kenapa kakak meremukkan kertas itu? itu dari kekaisaran tau," ucap Reina dengan tatapan panik


"Reina, orang yang mengatasnamakan kekaisaran adalah laki-laki pengecut, kamu tidak perlu khawatirkan apapun," ucap Dalbert sambil menepuk kepala adiknya


"kakak pergi dulu Reina," ucap Dalbert sambil berjalan ke arah pintu kemudian keluar dari ruangan


"Kakak, kertasnya?" ucap Reina dengan panik namun Dalbert telah keluar dari ruangan dan membakar kertas itu di luar ruangan kerja Reina


'Kalau aku ingat-ingat semua kejadian yang aku tulis di novel sebagiannya terjadi namun tidak bersama dengan tokoh utama novel melainkan denganku,'


'Alur di novel sudah jelas banyak berbuah dan banyak sekali yang tidak aku ketahui perubahan alur cerita sejak aku Reinkarnasi ke dalam novel ini,'


'Takdirku menjadi dua arah kematian di muda atau mati di usia yang tua, karena alur novel sangat berbeda, dan perasan yang aku miliki ini apa sungguhan atau hanya sebuah perasaaan yang mengikuti alur novel tapi kalau aku memiliki perasaan yang mengikuti alur novel kenapa aku tidak memiliki perasaan yang sama saat aku bersama dengan Albern?'


'Aku tidak pernah berpacaran sejak kehidupanku dulu dan apalagi sekarang aku jadi tidak paham apa perasan cinta sedangkan novel yang aku tulis merupakan perasaan obsesi dibandingkan perasaan cinta antara pemeran tokoh,'


'Jika perasaan yang aku rasakan benar itu adalah cinta? Apa dewa sedang mempermainkan takdirku? Hingga seorang penulis harus merasakan yang di rasakan oleh seorang tokoh antagonis di novelnya sendiri,' ucap Reina sambil mengigit bibirnya dan kesal


'Aku harus tetap memikirkan tentang takdirku selanjutnya dan Elena sepertinya tidak senang dengan keberadaanku yang selalu dekat dengan Albern dan juga dia adalah pemilik sihir suci bahkan mungkin raja akan mendukung dia sebagai ratu kekaisaran di samping Albern, dia memiliki tampang yang polos tapi itu adalah akting yang di lakukan hanya untuk mencari perhatian dan di anggap kalau dia adalah orang yang lemah sehingga pantas untuk di kasihani,'


'Kakak juga menyembunyikan banyak hal di belakangku tanpa aku ketahui, dan perkataan Derick kemarin,'

__ADS_1


"Kamu tidak perlu banyak tau, ada sesuatu yang lebih baik tidak kamu buka untuk dirimu sendiri seperti kotak Pandora tidak selalu bagus untuk mengetahui kebenaran di balik kotak itu bukan," ucap Derick dengan tatapan dingin sambil menyeringai


'Kebenaran apa hingga aku tidak boleh mengetahui tentang yang terjadi? padahal kami berdua keluarga tapi Derick mengetahui lebih banyak dibandingkan aku,' ucap Reina sambil menatap ke arah luar jendela


'Banyak sekali potongan puzzle yang tidak tersusun begitu berantakan dan rumit,' ucapnya lagi sambil berjalan ke arah kursinya


'Aku ingin memecahkan semua puzzle ini, artinya aku harus mencari informasi ini dari dasar tapi cuma keluarga Halmiton ini saja yang memiliki kemampuan informasi, apa aku mencarinya di guild gitu ya,' ucap Reina sambil meletakkan tangannya di dagunya


"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu dari luar ruangan


"Ah... masuk," ucap Reina sambil berjalan duduk di kursinya


"Nona, saya membawakan cemilan," ucap Olivia sambil berjalan masuk membawa cemilan dan teh


"wah... tepat sekali ya, aku kebetulan ingin beristirahat," ucap Reina sambil tersenyum tipis


"Nona, anda sepertinya memiliki banyak pikiran ya, Istirahatlah dulu nona," ucap Olivia sambil meletakan cemilan itu di atas meja


"Humm... kamu ada benarnya, Olivia kamu juga duduk sini, temani aku berbincang dan makan cemilan," ucap Reina sambil menatap Olivia yang menyeduhkan teh


"Nona... orang seperti saya mana pantas untuk minum bersama nona," ucap Olivia sambil menundukkan kepalanya


"Haish... kamu dan aku itu sama terlepas dari status dan kekayaan keluargaku," ucap Reina sambil menarik Olivia untuk duduk


"Nona..." ucap Olivia dengan tatapan pasrah melihat tatapan nonanya yang begitu menyeramkan


"Baiklah saya akan duduk berbincang dan makan cemilan dengan nona," ucap Olivia sambil meminum teh


"Olivia, menurutmu apa yang harus temanku lakukan ketika laki-laki yang mencintai dirinya itu di dekatnya dan perempuannya bilang aku akan mempertimbangkan perasaanmu," ucap Reina sambil mengangkat cangkir teh


'Eh, nona bilang temannya kenapa aku merasa kalau itu adalah nona ya, aku harus menjawab apa ya?' ucap Olivia di dalam hatinya dengan kebingungan


Apakah yang akan di jawab Olivia? Apakah Reina akan pergi ke pesta teh? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


REINKARNASI REINA


__ADS_2