
'Reina terlihat tidak enak dengan pertanyaan kakek lebih baik aku yang bicara,' ucap Albern di dalam hatinya sambil menatap Reina
"Kenapa kakek ingin tau dengan identitas gadis yang bersamaku?" tanya Albern sambil menggenggam tangannya dengan tatapan tajam dan dingin
"Baiklah, kalau tidak boleh," ucap kakeknya dengan ekspresi masam
"Sudah tua begitu, masih saja mau mengambek, aku kesini ingin 2 set alat tulis untuk persiapan ujian," ucap Albern dengan tatapan dingin
"Humm... kakek sudah siapkan kok, ah iya nona kecil kamu dari tadi menatap pembatas buku itu, jika kamu mau ambillah anggap saja sebagai hadiah kecil dariku karena mau menemani cucuku," ucapnya sambil terkekeh ke arah cucunya
"Eh? tidak perlu kakek, saya telah ditemani dari tadi," ucap Reina dengan tatapan panik dan sambil menggelengkan kepalanya
"Ambil saja Reina, karena kakek tidak suka orang yang menolak pemberiannya," ucap Albern sambil mengambil pembatas buku itu
"Pembatas itu bisa mengabulkan apa pun yang kamu inginkan," ucap kakek itu sambil tertawa dan menyerahkan alat tulis yang di inginkan oleh Albern dan Reina
"Terima kasih kakek," ucap Reina sambil tersenyum
"Kakek, kalau begitu aku dan Reina akan kembali ke akademi," ucap Albern sambil berjalan keluar dari toko itu
Di luar toko...
"Pulang yok," Ajak Albern sambil menatap Reina
"Sudah sore ya... cepat sekali ya rasanya waktu, padahal aku ingin lebih lama lagi keluar akademi," Gerutu Reina dengan tatapan
"Nanti kalau ada waktu, akan aku ajak jalan-jalan lagi jangan terlalu egois begitu nanti kamu sakit kakakmu akan marah kepadaku," ucap Albern sambil mengelus kepala Reina
"Hah..." hela nafas Reina dengan panjang
__ADS_1
"Kalau begitu sebelum pulang, kita pergi ke suatu tempat dulu," ucap Albern sambil tersenyum tipis
"Benarkah?" tanya Reina dengan tatapan tajam
"Iya, tapi tempatnya agak tinggi dari sini, pegang tanganku," ucap Albern sambil mengulurkan tangannya
"baiklah," ucap Reina
Melihat isyarat tangan yang di ulurkan Albern, dia langsung mengulurkan tangannya, layaknya seperti seperti kekasih di cerita-cerita romantis mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kota dan hingga sampailah mereka di puncak bukit.
"Woah, cantiknya pemandangan dari sini," ucap Reina sambil menatap pemandangan yang tidak bisa dia tatap dari balik rumah bertingkat
"Albern, terima kasih untuk hari ini ya," ucap Reina sambil tersenyum di lewati oleh angin-angin yang berhembus
"Cantik," gumam Albern sambil menatap Reina
"Aku tidak mengatakan apa-apa," ucap Albern dengan tatapan dingin
"Hum... Masa?" Tanya Reina dengan tatapan tajam
"Iya, kita pulang yuk sudah malam," ucap Albern sambil menarik tangan Reina
"Baiklah," ucap Reina sambil tersenyum
Mereka berdua pulang berdampingan namun berada dalam keheningan karena tidak tahu harus berbicara apa dan berbuat apa. Di keheningan ini mereka berdua sama-sama bimbang tentang yang terjadi hari ini.
'Aku mulai berpikir lagi, apa aku pantas untuk Reina? Apa aku mampu untuk melindungi dirinya? Sejak kecil aku selalu menjadi target pembunuhan dari para bangsawan yang haus kekuasaan, dengan kemampuanku ini mungkin aku belum kuat untuk bisa bersamanya,' ucap Albern di dalam hatinya sambil tersenyum pahit
'Semenjak aku masuk ke dalam novel ini, aku memang telah bertekad untuk tidak mengikuti buku novel yang aku tulis tapi entah kenapa aku selalu merasakan perasaan sakit, bahagia dan kosong'
__ADS_1
'Bagaimanapun aku membedungi dengan tembok tinggi dan tanpa perasaan, aku selalu merasa sakit berpuluh-puluh kali lipat, haruskah aku menikmati kehidupan yang singkat ini dengan kematian nantinya,' ucap Reina di dalam hatinya
"Reina, kita sudah sampai di depan asramamu," ucap Albern sambil menatap Reina
"Ah iya, terima kasih Albern telah mengantarkan aku sampai pulang ke asrama," ucap Reina sambil tersenyum
"Iya, langsung istirahat ya kalau sudah sampai kamarmu," ucap Albern sambil mengelus kepala Reina kemudian membalikkan badannya
"Iya, aku tau," ucap Reina sambil berjalan ke dalam pintu gerbang asrama
"Albern, sekali lagi terima kasih atas hari ini aku sangat senang karena di ajak ke tempat yang belum pernah aku kunjungi," ucap Reina sambil tersenyum kemudian berjalan masuk ke dalam asrama
"Wah... Wah... Bagiamana date mu dengan si dia?" Tanya James sambil tersenyum
""Biasa saja, jadi ada laporan apa?" Tanya Albern dengan tatapan dingin
"Hah... Laporannya para orang yang haus kekuasaan itu menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhmu di akademi tetapi anehnya mereka mati secara misterius sebelum mereka sampai di akademi," ucap James sambil memakai kacamatanya
"Dan juga aku baru menyelidiki kalau akademi ini, di lindungi oleh sihir tingkat tinggi. Sihir ini sama sekali tidak terlihat dengan mata telanjang," timpalnya sambil menatap Albern
"Itu saja, untuk laporan hari ini," ucap James sambil tersenyum
"James, menurutmu siapa saja orang yang bisa menggunakan sihir tingkat tinggi? Entah kenapa aku merasa kalau beberapa orang di akademi menyembunyikan kemampuan aslinya," ucap Albern dengan tatapan dingin
"Ah itu ya, kalau tidak salah humm... Mereka yang memiliki sihir tingkat tinggi dikenal dengan nine honorable national treasures atau dikenal dengan NHBNTA mereka dikenal memang jarang muncul di publik dan jarang menunjukkan identitas asli mereka, beberapa dari mereka adalah orang yang tidak suka dengan kerajaan," Ucap James sambil melipat kedua tangannya
Siapakah NHBNTA? Kenapa Albern bertanya tentang NHBNTA? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA
__ADS_1