
Ruangan yang awalnya dipenuhi kebahagiaan atas naik takhtanya seorang putra makhota yang akan menjadi raja sekarang malah menjadi lautan darah dan pengorbanan atas perebutan takhta yang tidak terhitung jumlah kematian.
'Absyara dan Absyuri sepertinya sudah kewalahan, semoga mereka berdua baik-baik saja,' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan khawatir dan tangan yang dingin
"Yuri, apa kamu masih sanggup?" ucap Absyara melalui telepatinya
"Aku akan kehabisan tenaga sebentar lagi tapi tenang saja aku masih sanggup menangani dua atau tiga serangan lagi," ucap Absyuri melalui telepatinya
'Ck, aku harus mengulur waktu sampai semua formasi yang di siapkan selesai, tapi pasukan mereka tidak ada habis-habisnya ini ditambah lagi laki-laki itu malah berada dengan santainya di belakang pertempuran, aku harus tetap bertahan untuk Absyuri,' ucap Absyara di dalam hatinya dengan tatapan khawatir sambil menggigit bibirnya supaya dia bisa mengeluarkan mana secara paksa.
"Sepertinya kalian sudah kewalahan, kalian tau kalau aku memiliki pasukan yang sangat besar dibandingkan kalian apa kalian kira, masih bisa mengalahkan aku?" ucap sang perdana menteri dengan sombong dan tatapan merendahkan
"Sekarang tinggal membuat kalian mati saja," ucap Sang perdana menteri sambil memberikan isyarat kepada beberapa pasukannya untuk menghabisi nyawa kedua orang yang telah tidak bisa berdiri itu
'Dari tadi aku hanya melihat orang mati terus-menerus, aku tidak bisa membiarkan hal ini lebih jauh lagi jadi aku harus bertindak,' ucap Albern di dalam hatinya yang menyaksikan darah yang telah menggenang ruangan
"Orang seperti dirimu ingin menjadi seorang raja, apa tidak terlalu tinggi?"
"Dan kalian yang menjadi tahanan apa kalian hanya akan diam dan menonton untuk menunggu kematian?" ucap seseorang dari atas kursi itu
'Apa yang dilakukan oleh putra mahkota yang tidak punya akal itu,' ucap Dalbert di dalam hatinya dengan tatapan dingin
"Puff..."
"HAHAHA..."
"Aduh... aku merasa ini sangat lucu karena orang yang dari tadi tidak berbicara atau pun berbuat sesuatu tiba-tiba berbicara seperti itu," ucap sang perdana menteri dengan tawa yang sombong
'Apa dia sedang mengulur waktu kematian kami berdua?' ucap Absyuri di dalam hatinya sambil menatap Albern yang melakukan argumen
"Jika kalian masih ingin hidup jawaban kalian cuma satu yaitu ikut aku bertarung dan mengalahkan para pemberontak jika kalian ingin mati lebih baik dia di sana saja," ucap Albern tanpa memedulikan perkataan sang perdana menteri
'Dia baru ingin turun tangan setelah banyak korban yang ada di depannya,'
'Apa dia tidak tau kalau hampir mustahil menarik hati orang-orang sekitarnya sekarang,' ucap Dalbert di dalam hatinya dengan tatapan tidak suka dan kesal
Namun tidak di sangka-sangka semua bangsawan tergerak hanya dengan perkataan sederhana dari sang putra mahkota itu langsung bertarung mempertaruhkan gelar dan nyawa mereka. Walaupun begitu itu tidak berlaku dengan Derick dan Dalbert mereka berdua hanya saling menatap dan menikmati pertarungan yang terjadi.
__ADS_1
'Sudahku duga dia bisa menjadi raja yang baik di masa depan, tapi kenapa kakak dan Derick hanya diam dan menonton pertarungan yang dilakukan oleh bangsawan lain
"Kakak, apa kakak tidak membantu mereka," ucap Reina sambil memajukan kursi rodanya
"Reina, kenapa kamu berada di dekat pertarungan ini,"
"Bukankah kakak sud-"
"Kakak, kalau kita hanya diam dan tidak melakukan apa pun,"
"Kita juga akan mati di sini,"
"Kita tidak bisa menguburkan ayah dan ibu dan membuatnya tenang,"
"Aku tidak masalah jika kakak tidak ingin ikut bertarung tapi biarkan aku yang menggantikan kakak," sela Reina dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang gemetaran
"Reina, jangan berbicara seperti itu, tenang saja kakakmu telah menyiapkan sesuatu yang luar biasa untuk mengalahkan perdana menteri," ucap Duke Derick sambil tersenyum
"Woah... sudah meriah ya, padahal kami berdua jemur-jemuran menghabisi para pemberontak di depan," ucap seorang perempuan yang berjalan masuk dengan dua orang laki-laki yang satunya laki-laki yang pendek dan satunya tinggi
"Dezria, kamu masih hidup?" ucap Derick sambil tersenyum tanpa dosa dan perasaan bersalah
"Ke mana yang lain? mereka belum selesai memasang lingkaran sihir dari tadi, tidak berguna," ucap perempuan di sebelah Dezria dengan tatapan kesal
"Ernest obati si kembar," ucap Dalbert dengan dingin
"Baik tuan pemimpin," ucap Ernest sambil berjalan ke arah si kembar yang telah di tarik secara diam-diam
'Kakak sepertinya mengenal mereka dengan baik, apa yang sebenarnya mereka hingga memiliki hubungan yang baik dengan kakak,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap orang-orang di depannya
Kemudian menatap ke arah para bangsawan yang mempertaruhkan hidup dan matinya.
Di lorong menuju aula...
"Blake, masih berapa yang belum kamu pasang lingkaran sihirnya?" tanya Asmodeus yang ikut membantu membuat lingkaran sihir itu
"Masih ada beberapa," ucap Blake dengan fokus menggambar lingkaran sihir itu
__ADS_1
"DISINI ADA PANGERAN KEDUA DAN PANGERAN KETIGA ,"
"CEPAT HABISI MEREKA, SESUAI DENGAN PERINTAH TUAN LONIA," teriak seorang prajurit sambil memberikan isyarat kepada seluruh pasukan yang dibawanya
"Ada berapa banyak sih jumlah mereka,"
"Kenapa rasanya tidak ada habis-habisnya," Gumam Asmodeus dengan tatapan kesal melihat se-gerombolan prajurit datang dari sisi kanan lorong
"Blake, cepat selesaikan," Desak Asmodeus dengan tatapan kesal
"Bisakah kamu bersabar? kamu pikir mudah membuat lingkaran sihir,"
"Dan juga bukankah kamu adalah seorang raja iblis,"
"Tidak mungkin kan kamu tidak bisa menangani hal ini," ucap Blake dengan nada yang meninggi
"Ck, kalau begitu cepat selesaikan," ucap Asmodeus dengan tatapan dingin
"Kalian berdua akan mati di sini,"
"Jadi jangan banyak berulah," ucap seorang yang merupakan pimpinan prajurit
"Hah... mortality," ucap Asmodeus sambil berjalan melewati para prajurit seketika semua jantung para prajurit berhenti dan mati seketika semua prajurit berjatuhan
"Butuh berapa lama lagi? Tidak lama dari ini pasti mereka akan mengirim pasukan lagi," ucap Asmodeus dengan emosion
"Baiklah aku sudah menyelesaikannya, sekarang kita harus ke aula," ucap Blake sambil menghela nafas panjangnya
Di ruangan dansa itu pertarungan berlangsung sengit
"Kakak, aku penasaran bagaimana bisa para prajurit itu tidak menyerang kita?" tanya Reina dengan tatapan penasaran
"Karena ini menggunakan sihir ilusi dan tidak terlihat jadinya tidak ada yang tau kalau kita berada di sini ditambah lagi aku memasang sihir pelindung mereka akan langsung terpental tanpa izin masuk ke sini," ucap Derick sambil menyentuh pelindung itu
"Aku mengerti," ucap Reina sambil menganggukkan kepalanya kemudian menoleh ke arah peperangan di depan matanya, sedikit takut namun begini lah rasanya suasana mencekam di tengah peperangan
'Dia...' ucap Reina di dalam hatinya melihat sebuah pedang yang dari jauh mengincar orang itu
__ADS_1
Siapakah orang yang akan terkena pedang? Bagaimana bisa Blake dan Asmodeus yang tidak akur bisa satu tim? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA