
Di koridor kelas...
"Hari ini makan apa ya?" Gumam Reina
"Reina," ucap seseorang yang berjalan di belakangnya dari kejauhan
"Sepertinya ada yang memanggilku dari jauh? Apa perasaan aku saja?" Gumamnya lagi dan terus berjalan
"Yuria, kenapa kamu meninggalkan aku sendirian," ucap laki-laki itu sambil menatap kesal
"Kenapa dia tidak menoleh? Masa iya suaraku tidak terdengar?" Gumam Yuria yang tenggelam dalam pikirannya
"Ah... Shun, kenapa kamu ada di sini?" tanya Yuria dengan tatapan kebingungan
"Bukankah kita akan makan siang bersama?" tanya Shun dengan tatapan cemberut
"Kamu tidak lucu Shun," ucap Yuria sambil mencubit pipi Shun
"JADI seperti itu ya, aku paham," ucap Shun dengan memejamkan matanya berusaha sabar menghadapi kekasihnya
"Iya cemberut saja terus, aku mau menemui Reina dulu dia terlihat sendiri saat aku lihat tadi, jadi Shun makan sendiri ya," ucap Yuria sambil berlari mengejar punggung Reina dari belakang
'Aku minta di hibur tapi bukan hiburan malah di tinggalkan sungguh gadis yang tidak peka,' ucap Shun di dalam hatinya sambil tersenyum kesal
"REINA..." teriak Yuria dari kejauhan
Setelah mendengarkan namanya di panggil lagi dia memutuskan untuk menoleh ke arah belakangnya
"Yuria, jangan berlari-lari di koridor," ucap Reina dengan tatapan khawatir
"Yah... mau bagaimana ya dari tadi aku memanggilmu tapi kamu tidak menoleh ke arahku sama sekali jadi aku terpaksa harus berlari ke arahmu," ucap Yuria dengan tatapan tidak berdaya
'Jadi tadi Yuria yang memanggilku, aku harus alasan apa ya,' ucap Reina di dalam hatinya dengan perasaan bersalah menatap Yuria
"Ah... maafkan aku tadi tidak mendengarkan panggilanmu," ucap Reina dengan senyuman yang kaku
"Sudahlah, kita makan siang bareng ya, kita sudah lama tidak bersama," ucap Yuria sambil menarik tangan Reina
"Ah... baiklah," ucap Reina yang tidak tega menolak Yuria
Bruk... Suara jatuh
"AKH..." ucap gadis yang di tabrak oleh Yuria
"Kamu kesini membawa temanmu untuk menindasku ya Reina, karena aku ingin berteman Albern," ucap gadis yang tidak lain adalah sang tokoh utama novel ini dengan air mata yang membasahi muka pipinya
"Kamu menabrak aku, karena tidak menyukai aku kan
__ADS_1
'Gadis ini kenapa sih sebenarnya?' ucap Yuria dengan tatapan kesal melihat Elena yang terlihat seperti korban
Semua orang yang berlalu lalang di koridor mendadak berhenti berjalan di depan mereka untuk melihat kejadian yang terjadi.
"Wah... Padahal dia hanya tunangan putra makhota, tapi kenapa dia sampai mengurusi hidup tunangannya?" bisik siswa A kepada siswa B dengan tatapan sinis
"Aku dengar dia gadis yang baik dan dia murid berprestasi, ternyata seperti ini kelakuannya dan kakaknya saja guru di akademi ini pastinya dia bisa lolos dari hukuman penindasan murid," bisik siswa C kepada siswa E
"Entah lah, mungkin dia takut tersaingi oleh Elena yang merupakan pemilik sihir suci," bisik siswa D kepada siswa A
'Ah... ternyata begini ya yang di rasakan Reina di dalam novel, dia selalu mendapatkan penghakiman,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menunduk dengan tubuh yang bergetar
"KALIAN TIDAK BERHAK BERBICARA SEPERTI ITU KEPADA REINA," teriak Yuria sambil menggenggam tangan Reina dengan erat
"Kalian bahkan tidak melihat kenyataan yang terjadi," ucap Yuria dengan tatapan marah
"Kenyataan kamu lihat nona Elena yang terduduk di lantai dan luka yang ada di kakinya," ucap siswa C dengan kesal
"KAMU..." ucap Yuria dengan nada yang tinggi
"Yuria, sudahlah biar aku yang berbicara selanjutnya," bisik Reina dengan tubuh yang bergetar
'Aku harus bisa merubah takdirku, karena aku adalah Reina sekarang,' ucap Reina di dalam hatinya sambil mengepalkan tangannya
"Aku sama sekali tidak melakukan hal-hal yang melanggar di akademi ini, setiap sisi di akademi di lengkapi dengan alat perekam sihir, apa kalian ingin melihat kenyataan dan fakta dari alat perekam sihir itu," ucap Reina dengan tatapan tajam ke arah semua orang
"Wah... wah... kalian ribut disini dan melakukan penghakiman terhadap seorang salah satu anggota dewan, kalian sudah merasa begitu hebat ya," ucap James sambil menaikkan kacamatanya
"Tuan James, lihat nona Elena terluka karena nona Reina menyakiti nona Elena bahkan dia sampai membawa temannua," ucap siswa E sambil menunjuk Reina dan Yuria
"Kami hanya berjalan dan jarak kami dan nona Elena itu jauh tapi entah kenapa dia terjatuh dan menuduh tiba-tiba," ucap Yuria sambil menggigit bibirnya
"Aku mengerti, mungkin ini hanya kesalahpahaman saja, apa di antara kalian ada yang melihat nona Reina mendorong dengan sengaja?" tanya James sambil menatap orang-orang yang berkerumun itu
Suasana di keributan itu seketika sunyi ketika mendengar ucapan James. "Eh? kami memang tidak melihatnya hanya saja tiba-tiba kami merasa kalau nona Elena menangis karena perbuatan nona Reina dan nona Yuria," ucap siswa B dengan kebingungan
"Kan? aku bilang kesalahpahaman dan nona Elena tidak baik berburuk sangka seperti ini," ucap James dengan senyuman dingin dan tatapan tajam ke arah Elena
"Ah, iya sepertinya begitu maafkan aku," ucap Elena sambil menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya dengan erat
"Dan nona Elena wajar jika seorang tunangan mencemaskan pasangannya karena jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan terlambat, hanya akan ada penyesalan yang tidak bisa di putar kembali ke waktu awal," ucap James sambil menyeringai
"Reina dan Yuria, karena aku kebetulan menemukan kalian di sini, aku akan menyampaikan pesan Ketua dewan kesiswaan yaitu setelah sepulang sekolah semua anggota dewan kesiswaan diharapkan untuk hadir dalam rapat besar kali ini," ucap James sambil menaikan kacamatanya
"Baiklah," ucap Reina dan Yuria dengan serentak
"Aku pergi dulu," ucap James sambil berjalan ke arah lain
__ADS_1
'Haish... sihirnya bisa membuat orang terpengaruh, aku harus berhati-hati,' ucap James dengan tatapan dingin
Semua orang yang berada di kerumunan itu pergi, menjauh
'Terima kasih telah membantuku James dan Yuria,' ucap Reina di dalam hatinya dengan perasaan lega
'Kenapa tubuhku terasa lemas dan kenapa penglihatanku meredup,' ucap Reina di dalam hatinya
Bruk...
"REINA, BANGUN," teriak Yuria sambil berusaha membangunkan Reina yang tumbang
James yang mendengarkannya suara teriakan Yuria dari belakangnya langsung berbalik badan dan berlari ke arah mereka.
"Yuria, kita bawa Reina ke ruangan perawatan," ucap James sambil menggendong Reina dengan tatapan khawatir
'Jangan sampai Reina kenapa-kenapa,' ucap James di dalam hatinya dengan tatapan khawatir
"Yuria, aktifkan teleportasinya," ucap James dengan tatapan khawatir dan berusaha tenang
"Iya, baiklah," ucap Yuria dengan tatapan khawatir dengan cepat dia mengaktifkan sihir teleportasinya ke depan pintu ruangan perawatan
"Permisi," ucap Yuria sambil membuka pintu ruangan
"Blake, kebetulan sekali kamu ada di ruangan perawatan," ucap James yang masuk melewati pintu itu dan meletakkan Reina di atas kasur
"Blake, periksa Reina sekarang aku takut dia kenapa-kenapa," ucap James dengan tatapan tajam
"Baiklah," ucap Blake kemudian memeriksa Reina
"Ini dimana? Apa aku mati lagi," ucap Reina sambil menatap sekelilingnya yang merupakan putih tidak berujung
"Hai... akhirnya kita bisa bertemu," ucap seorang gadis yang datang berjalan menghampiri dirinya
tiba-tiba seluruh ruangan yang putih tidak berujung menjadi pemandangan yang indah layaknya di surga.
"Ini apa aku telah mati?" tanya Reina dengan tatapan penasaran
"Humm... kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya gadis itu sambil tersenyum
"Karena aku rasa, aku berada di tempat yang tidak pernah aku datangi dan hanya ada kamu dan aku di sini," ucap Reina dengan kebingungan
"Benar juga tidak salah, tapi yang jelas kamu tidak berada di alam kematian," ucap gadis itu sambil tersenyum
"Jadi kita ada dimana?" tanya Reina dengan tatapan kebingungan
Berada dimanakah Reina? Apakah Reina berada di ambang kematiannya? Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
__ADS_1
REINKARNASI REINA