
Ruangan yang menjadi tempat penghakiman itu, menjadi ruangan yang dingin dan penuh dengan tekanan dari sihir kegelapan. Kalau saja orang yang dihakimi adalah orang yang tidak memiliki pelatihan dan ketahanan yang sebanding dengan calon pemimpin keluarga Halmiton saat ini maka dia pasti sudah mati.
"Kamu serius tidak ingin berbicara denganku Azazel?" ucap Dalbert dengan tatapan dinginnya itu kemudian mengarahkan pedang ke arah dagu Azazel
"Apa anda sudah ingin membunuh saya? Maka saya sudah siap,"
"Untuk menyerahkan nyawa yang merupakan harta yang tidak berharga ini lagi untuk saya,"
"Karena yang menurut saya berharga tidak berada di sini lagi,"
"Buat apa saya tetap hidup dan mengembara terus ke dunia ini tanpa arah?"
"Hanya mengejar-ngejar sesosok bayangan yang semu?" ucap Azazel dengan tatapan yang kosong dan senyuman yang begitu pasrah karena arti kehidupan bagi dirinya telah hilang meninggalkan dirinya
"Kenapa kamu tidak ingin berbicara juga? Dan kenapa kamu begitu tidak sayang dengan nyawa yang kamu miliki itu? Apa menurutmu ini hanya sebuah permainan semata?" ucap Dalbert dengan tatapan tajam dan mulai melukai dagu itu hingga membuat darah-darah itu menetes
"Aku sudah mengatakannya dengan jelas Dalbert, bahwa aku sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup jadinya dibunuh oleh dirimu tidak akan menjadi sebuah masalah untuk diriku," ucap Azazel dengan percaya diri
"Prrank...." Suara pedang yang terlempar
"AZAZEL, KAMU TERUS MENGUJI KESABARAN YANG AKU MILIKI,"
"APA YANG MEMBUAT DIRIMU TIDAK INGIN MENGATAKAN HAL YANG SEBENARNYA TERJADI?"
"AKU MOHON KATAKANLAH YANG SESUNGGUHNYA TERJADI,"
"BUKANKAH KITA ADALAH TEMAN? AKU BAHKAN TIDAK RELA UNTUK MEMBUNUH ORANG YANG TELAH BERJALAN BERSAMAKU SELAMA BERTAHUN-TAHUN, KARENA AKU INGIN MENGETAHUI YANG TERJADI TERHADAP REINA," teriak Dalbert yang kemudian berlutut sambil menarik kerah pakaian milik laki-laki yang telah tidak memiliki cahaya harapan untuk dirinya sendiri
"Reina? Reina yang mana yang kamu katakan? Bukankah Reina telah sadar sekarang? Dan hanyalah kelalaian milikku sekarang menjaga seorang putri keluarga Halmiton hingga terluka,"
"Itu saja yang membuat diriku pantas untuk mati di tangan milikmu Dalbert," ucap Azazel dengan senyuman yang pahit karena tidak tau apa lagi yang akan dia katakan mengenai orang yang telah tiada untuk dirinya
"Aku tau kalau orang yang sadar pada saat dulu berbeda dengan Reina yang aku kenal tapi aku pikir dia berubah karena dia amnesia tetapi pada saat beberapa hari yang lalu Reina sadar aku menyadari dia kembali seperti dulu,"
__ADS_1
"Namun kali ini dia bersikap waspada dan dingin kepadaku, aku tau dia berusaha menyembunyikan dariku mengenai dia yang bukan sesungguhnya tapi walaupun begitu..."
"Aku yakin dia adalah adik perempuanku satu-satunya yang sejak dulu melakukan hal yang sama,"
"Tapi di masa lalu aku selalu mengabaikan dirinya bukan hanya aku, aku yakin orang tuaku juga melakukan hal yang sama pada saat itu,"
"Hingga membuat dirinya kekurangan perhatian dan kasih sayang orang tua dan juga hal itu yang membuat dirinya mencari kasih sayang untuk dirinya sendiri,"
"Aku, ayah dan ibu merasa cukup menyesali perbuatan yang kami lakukan kepada Reina oleh karena itu kami memutuskan untuk memperlakukan Reina yang bangun dari tidur panjang seperti seorang adik sendiri,"
"Namun aku tidak menyangka bisa bertemu dengan dirinya lagi dengan sosok yang begitu kosong,"
"Azazel, aku cukup mengerti dirinya seperti orang yang kesepian pada saat aku masuk ke dalam ruangan dan pergi dari dalam ruangan itu,"
"Jadi tolong beri tau aku apa yang terjadi sebenarnya Azazel kepada dirinya,"
"Hingga dia pergi menghilang," ucap Dalbert dengan tatapan penyesalan dan air mata yang menetes
"Kalau anda menyadarinya, kenapa anda menyakiti perasaannya bersikap seolah-olah Reina adalah Reina yang palsu?" ucap Azazel dengan senyuman pahit
"Namun sepertinya aku telat menyatakan hal seperti itu," ucap Dalbert dengan menggelengkan kepalanya dengan penyesalan
Tiba-tiba ditengah pembicaraan kedua orang itu muncul sepucuk surat dengan dua tangkai bunga yang terikat di surat tersebut, sebuah bunga dengan dua jenis dan warna yang berbeda yaitu bunga Hydrangea dan bunga Serunai keduanya memiliki arti yang mendalam yaitu terima kasih dan perasaan cinta.
Ketika surat ini dibuat aku rasa aku telah berhasil di reinkarnasikan Kakak atau tuan Halmiton muda pewaris keluarga Halmiton, tolong jangan pernah menghukum atau berkeinginan menyiksa dan membunuh Azazel dia sama sekali tidak bersalah atas kematianku karena ini adalah keinginan yang aku inginkan dari diriku sendiri bukan dari keinginan Azazel.
Dan tolong berikan Azazel untuk bebas memilih yang dia inginkan, karena aku tidak ingin orang seperti dia selalu tunduk karena peraturan yang di ikat oleh keluarga Halmiton.
Untuk Azazel terima kasih untuk selalu menemaniku dan menjadi orang yang berharga di setiap *kehidupan uang aku jalani, aku selalu mengejar-ngejar bayang-bayang perhatian dari orang yang aku sayangi namun ternyata semuanya hanya menjadi ilusi semata bahkan sampai roda waktu milikku berhenti berdetik...
Tolong kalian bahagia ya dan tidak menyesali kepergianku...
^^^Tertanda Reina Elice Halmiton*^^^
__ADS_1
Sebuah surat yang tiba-tiba membuat keduanya meneteskan air mata karena mereka sadar kalau dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan perempuan itu karena roda waktu telah memutuskan untuk memberikan kehidupan terbaik untuknya...
"Karena ini adalah permintaan milik Reina maka aku juga tidak akan memaksa dirimu untuk mengatakan sesuatu yang terjadi lebih jauh," ucap Dalbert sambil menenangkan dirinya
"Kamu bebas untuk mencari sesuatu yang berharga untuk hidupmu sekarang, karena aku juga tidak berani mengekang kebebasan milikmu jika itu adalah pesan terakhir dari Reina,"
"Kamu bisa kembali kapanpun kamu inginkan ke wilayah Halmiton, aku tetap akan menyambut dirimu," ucapnya lagi dengan tatapan datar duduk di kursi itu
"Terima kasih atas semuanya tuan muda,"
"Kalau begitu saya undur diri," ucap Azazel yang kemudian berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu
"Bahagia?"
"Aku tidak mungkin bisa bahagia Reina..."
"Karena semuanya telah berakhir," gumam Azazel dengan senyuman pahit ke arah luar jendela
Beberapa hari kemudian di istana kekaisaran...
"James, apakah kamu tidak merasakan kalau setiap kali aku menjenguk Reina dia terlihat selalu menatapku dengan tatapan tajam,"
"Ini membuat diriku sedikit takut karena aku pikir aku memiliki kesalahan kepada dirinya,"
"Dan dia marah kepadaku tapi dia menyembunyikannya," ucap Albern dengan tatapan ketakutan
"Kenapa kamu tidak menanyakannya sendiri? Daripada bertanya denganku yang hanya seorang asisten pribadimu," ucap James sambil menaikkan kacamatanya dengan senyuman kesal
"Karena kalau aku menanyakan secara langsung dia pasti akan bertambah marah kepadaku," ucap Albern dengan menganggukkan kepalanya
"Dibandingkan itu, bukankah kamu harus rapat dengan saudara-saudaramu tentang dirimu yang ingin melepaskan takhta kerajaan?" ucap James dengan tatapan dingin ke arah Albern
Apakah Albern benar-benar akan melepaskan takhtanya? Siapa yang akan menggantikan dia? Apakah benar-benar telah berakhir untuk Azazel? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
REINKARNASI REINA