Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Bab 108 KAKAK MOHON JANGAN TINGGALKAN KAKAK!!


__ADS_3

"Hah... aku juga harus segera fokus dengan takhta kerajaan, James sudah lagi tidak berada di pihakku sekarang, aku harus mandiri dalam menyelesaikan masalahku dan mengembalikan beberapa ingatan yang telah hilang untuk menjawab semua pertanyaan di perasaan ini," ucap Albern dengan senyuman pahit seolah-olah semuanya adalah penyesalan yang telah dilakukan olehnya.


Keesokan harinya...


"Albern, temani aku jalan-jalan ya akhir pekan nanti?" ucap seorang gadis yang merangkul lengan laki-laki itu dengan erat tanpa niat melepaskannya


"Elena, aku sibuk tidak bisa menemanimu,"


"Kenapa kamu berbicara seperti itu kepadaku? padahal saat kamu terluka aku yang menemani dirimu tapi kamu tidak ingin menemaniku sama sekali," ucap Elena dengan tatapan kecewa dan kesal


'Kenapa dia bertindak seperti anak kecil? ini sangat menyebalkan kalau bukan katanya dia adalah orang yang mencintai aku dan memiliki hubungan asmara denganku maka aku tidak akan melakukan ini,' ucap Albern sambil memegang kepala yang terasa sedikit sakit


"Elena, dengarkan aku ini semua aku lakukan supaya kamu bisa jadi ratuku jadi tolong mengerti aku, paham?" ucap Albern sambil mengelus kepala Elena


"Baiklah aku paham, kamu harus janji setelah ini kamu harus menemani aku," ucap Elena dengan puppy eyes


"Baiklah, aku janji," ucap Albern sambil tersenyum tipis


"Aku pergi dulu," ucap Albern kemudian pergi meninggalkan Elena


'Hari ini aku harus mengerjakan semua dokumen yang ada dimeja kemudian aku harus mengerjakan tugas yang di berikan para guru akademi, belajar tentang ilmu politik dan memahami tentang perdamaian kekaisaran,'


'Hah... aku rasa aku tidak bisa beristirahat hari ini, kalau ada James mungkin memang pekerjaanku sedikit lebih ringan tapi aku telah mengatakan hal yang buruk untuknya,'


'Jadi lebih baik aku mengerjakannya tapi kenapa rasanya pandangan yang ada di depanku bergoyang-goyang ya,' ucap Albern sambil menahan rasa sakit kepalanya


'Hari ini aku harus menemui kakak untuk pelajaran tambahan kemudian ke perpustakaan,'


'Aku harap hari ini bisa berjalan lancar,' ucap Reina sambil berjalan di koridor dengan perasaan bahagia namun dari kejauhan dia merasa melihat sosok yang dia sangat kenali berjalan di depannya dengan jalan yang tidak beraturan.


'Itu... bukankah Albern? ada apa dengannya? Aku harus segera membantunya,' ucap Reina di dalam hatinya sambil berlari ke arah Albern yang telah terjatuh di koridor akademi itu saat Reina sampai ke hadapannya


Dengan mata yang sedikit terbuka dia hanya bisa melihat sosok seorang gadis yang menolongnya namun sosok gadis itu terlihat sangat buram untuk bisa terlihat. "Siapa kamu?" ucap Albern kemudian pingsan


"Albern? Apa kamu bisa mendengarkan ucapanku? Dahinya kenapa begitu panas? Dia sakit? Bagaimana bisa dia sakit?" ucap Reina dengan tatapan panik kemudian merangkul tangannya dan berusaha mencari seseorang untuk membantunya melakukan sihir teleportasi atau membantunya membawa Albern yang pingsan ke ruang perawatan. Dia yang belum mampu menggunakan sihir teleportasi ataupun mengendalikan sihir kegelapan dengan baik, memutuskan untuk berusaha mencari orang-orang di setiap lorongnya.

__ADS_1


"REINA!!" Teriak seorang laki-laki yang begitu dewasa menghampiri gadis itu dengan penasaran


"Apa yang kamu bawa itu Reina?" ucap Derick sambil menunjuk ke arah Albern


"Ah itu... Bukankah sudah jelas kalau itu adalah Albern, aku berniat menolongnya dengan membawanya ke ruang perawatan, aku menemukan dirinya pingsan saat berjalan ke arah ruang wakil kepala akademi," ucap Reina dengan tatapan datar


"Aku tau itu dia, tetapi kenapa kamu mau menolong laki-laki seperti dia?"


"Bukankah dia orang yang telah menyakiti perasaan yang kamu miliki itu begitu mudah dengan cara bersama perempuan lain?" ucap Derick dengan tatapan dingin dan tidak peduli


"Walaupun seperti itu, aku tidak ingin menolong orang karena hanya menyangkut pautkan perasaanku dengan dia pingsan,"


"Aku memang masih belum bisa menerimanya tetapi dia di masa lalu selalu berusaha ingin melindungi aku, jadi biarkan aku membantunya dalam diam," ucap Reina sambil tersenyum kecil


"Hah... kamu memang Reina Elice Halmiton ya putri yang sangat baik hati tanpa memandang perasaanmu yang telah terluka," ucap Derick setelah menghela nafas panjangnya


"Kalau begitu biar aku bantu kamu membawanya, pasti beratkan untukmu," ucap Derick sambil menjentikkan jarinya kemudian tiba-tiba mereka telah berada di depan sebuah pintu yang tidak asing untuk mereka kenali


"Terima kasih," ucap Reina sambil tersenyum


"Eh? benarkah? kalau begitu tolong ya Derick," ucap Reina sambil menatap Derick


'Kenapa gadis baik seperti dirinya bisa sekuat ini, aku yakin dia pasti berusaha tegar saja menghadapi keadaan yang menimpa dirinya,' ucap Derick di dalam hatinya dengan tatapan khawatir kemudian membawa Albern ke atas kasur


'Dia seharusnya baik-baik saja kan? setelah selesai memberikan dia obat penyembuh demam aku akan langsung pergi supaya tidak menyusahkan dirinya dan tidak di anggap buruk di matanya,'


'Lagipula semuanya akan bahagia jika dia menikah dengan Elena, dan itulah harusnya yang terbaik untuknya,' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap Albern yang dibopong oleh Derick ke atas kasur


"Kalau begitu Reina aku pergi duluan ya," ucap Derick keluar dari ruangan perawatan itu


"Iya, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membawanya Derick," ucap Reina sambil tersenyum menatap Derick yang berjalan semakin menjauhi dirinya


'Aku harus segera mengobati demam Albern,' ucap Reina sambil berjalan mengambil beberapa obat yang menurutnya bisa menurunkan panasnya dan membuatkannya kompres untuk menurunkan panasnya


"Ini... aku berada di mana? kenapa semuanya begitu banyak bunga-bunga yang indah?" ucap Albern sambil menatap sekitarnya untuk memahami yang terjadi sekitarnya

__ADS_1


"Kakak, kenapa kamu melamun?" ucap seorang anak kecil menatap ke arah Albern


"Ah... tidak ada, tapi kenapa kita di sini Deus?" ucap Albern dengan tatapan kebingungan


"Bukankah kakak sudah janji kalau kakak hari ini akan meluangkan waktu kakak untuk menemaniku hari ini?" ucap Deus dengan muka yang cemberut


"Ah... maafkan kakak, kakak hampir lupa jadi kita mau bermain apa?" ucap Albern sambil duduk di samping Deus


"Bagaimana kalau kita merangkai bunga untuk ibunda ratu?" ucap Deus sambil mengambil bunga-bunga di sekitarnya


"Baiklah," ucap Albern sambil menganggukkan kepalanya dan mulai merangkai bunga


"Kakak, kita akan selalu bersama kan?" ucap Deus sambil menatap Albern dengan penuh darah


"Tent-" ucap Albern kemudian terhenti ketika melihat adiknya yang sudah penuh darah begitu juga dengan tangan dan seluruh bunga yang ada di sekitarnya di penuhi darah


"DEUS?!!"


"DEUS KAMU KENAPA? KENAPA KAMU BERDARAH?" ucap Albern dengan tubuh yang gemetar menatap adik yang di sayanginya berlumuran darah dengan tatapan yang begitu menyedihkan


"Kakak, aku harap kakak bisa menentukan pilihan kakak dengan baik, karena aku tidak ingin kakak seperti diriku,"


"Aku yakin kakak bisa membuat kekaisaran ini menjadi lebih baik," ucap Deus sambil tersenyum dengan lembut dan sedih sedangkan Albern berusaha menggapai tangannya. "DEUS, JANGAN TINGGALKAN KAKAK, KAMU SATU-SATUNYA ORANG YANG KAKAK MILIKI SEKARANG,"


"KAKAK MOHON JANGAN TINGGALKAN KAKAK!!"


" JANGAN TINGGALKAN KAKAK."


"Kakak, kita tidak bisa bersama," ucap Deus sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Albern dan pergi perlahan


'Albern? kenapa dia menangis? apa yang membuatnya sedih?' ucap Reina di dalam hatinya sambil menatap Albern yang terbaring menangis


"Tenang saja, aku akan menemanimu, walaupun kita telah berpisah," ucap Reina sambil menggenggam tangan Albern untuk menenangkan dirinya


Kenapa Albern menangis? Kenapa Reina ingin menolong Albern? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


REINKARNASI REINA


__ADS_2