
Setelah rapat itu selesai di tutup, tiga saudara itu berkumpul bersama untuk menikmati waktu malam mereka...
"Jadi Albern, kamu akan tetap menikahi Reina? Apakah kamu yakin kalau Reina tidak membenci dirimu mengingat dia selalu menatapmu dengan tajam akhir-akhir ini?" ucap Asmodeus dengan tatapan penasaran
"Kamu tau itu dari mana?" tanya Albern dengan tatapan terkejut
"Semua orang juga tau kalau Reina selalu menatapmu begitu tajam dan juga jika kamu tidak menyukai Reina maka biarkan aku menikahinya," ucap Blake sambil menuangkan wine itu ke dalam gelasnya
"Itu adalah urusanku kalian berdua tidak perlu ikut campur dalam hubunganku dengan Reina dan jangan juga mencoba-coba untuk menyalip di antara hubunganku dengannya," ucap Albern dengan tatapan yang dingin dan serius
"Hah..."
"Baiklah, kami mengerti,"
"Dibandingkan membahas masalah itu bukankah sekarang kita harus membahas masalah lain tentang rencana yang harus dilakukan setelah aku naik takhta ditambah lagi,"
"Setelah ini kita juga masih harus membuat masyarakat percaya tentang perdamaian antara iblis dan manusia mengingat perang ini telah terjadi sangat-sangat lama sehingga membuat masyarakat merasa kalau mereka adalah orang yang jahat,"
"Ini akan jadi masalah yang sedikit berat tapi aku rasa kita mungkin bisa menyelesaikannya," ucap Blake sambil menggoyangkan gelas wine yang ada di tangannya
"Apakah kita harus melakukan manipulasi publik untuk membuat mereka percaya?" ucap Albern dengan tatapan serius
"Kamu pikir itu mudah? Ditambah lagi mereka mungkin akan mengira kalau bangsa iblis yang melakukan manipulasi ini demi menguasai cahaya dunia," ucap Deus dengan tatapan dingin
"Deus, sepertinya sudah pernah mencobanya ya, hingga dia mengetahui kalau ini adalah masalah yang serius," ucap Blake dengan senyuman pasrah
"Kalau begitu kita harus menyusun rencana yang lain,"
"Kalau ini tidak selesai kita tidak akan bisa tidur," ucap Albern dengan tatapan datar
Disisi ruangan lain...
"Aku heran kenapa dia begitu menyebalkan," gumam Absyuri dengan tatapan kesal di luar balkon yang memiliki cuaca yang dingin
__ADS_1
"Siapa yang kamu katakan itu?" ucap seorang laki-laki yang berdiri di belakang perempuan itu dengan cepat Absyuri mengacungkan belati itu ke arah dagu laki-laki yang berada di belakangnya
"Absyuri, bisakah kamu melepaskan aku? belati ini sangat tajam jika tertusuk,"
"Kamu yakin ingin aku mati?" ucap laki-laki itu dengan senyuman lembut
'Aku yakin dia sudah gila tidak tertolong,' ucap Absyuri di dalam hatinya dengan tubuh yang gemetaran setelah mendengarkan ucapan laki-laki yang berada di belakangnya itu
"James, kenapa kamu ada di sini? dan bagaimana kamu tau posisi kamarku?"
"Jangan-jangan kamu mengintip aku ya setiap malam hingga kamu mengetahui posisi kamarku?" ucap Absyuri dengan tatapan tidak senang
"Karena aku merindukan dirimu dan aku tidak mungkin melakukan hal seburuk itu,"
"Kamu lupa kalau aku memiliki otak yang cerdas, untuk mengetahui posisi kamarmu itu," ucap James dengan tatapan tertusuk
"Aku memang melupakannya karena menurutku tidak penting untuk mengetahui kalau seorang penipu memiliki otak yang cerdas," ucap Absyuri dengan tatapan yang tajam dan dingin membuat James merasa tertusuk
"Tidak bisakah kamu mengatakan hal yang sedikit romantis Absyuri, padahal kamu bilang ingin membantuku mengetahui perasaan ini," ucap James dengan tatapan sedih
"Yuri, Bagaimana kalau kita akhir pekan pergi bersama?" ucap James sambil menaikan kacamatanya
"Hummm..."
"Akan aku pertimbangkan, jadi sekarang pulang lah ke kamarmu," ucap Absyuri yang kemudian dengan cepat mengunci pintu yang ada di balkon
'Hah...'
'Sejak pertama kali bertemu dia memang terlihat dingin tapi pada saat dia khawatir membuat hatiku rasanya panas hingga aku pikir aku mengalami sakit, tapi aku tidak menyangka ternyata aku adalah orang yang bodoh karena tidak mengetahui arti dari perasaan ini,' ucap James di dalam hatinya dengan senyuman tipis sambil menatap bulan itu
Keesokan harinya rapat kedua di mulai kembali dan mereka membahas berbagai macam dampak yang akan terjadi jika mereka melakukan rencana-rencana tahunan yang telah mereka rencanakan, sampai pada akhirnya mereka telah memutuskan untuk melakukan sesuai dengan yang direncanakan. Karena rapat tersebut berakhir lebih awal maka mantan putra mahkota itu memutuskan untuk berkunjung menemui perempuan yang di cintainya...
"Tok... tok... tok..." suara ketukan pintu yang kemudian Albern masuk ke dalam ruangan itu
__ADS_1
"Reina, bagaimana keadaanmu sekarang? Maafkan aku jika aku jarang berkunjung,"
"Aku baik-baik saja, aku harap kamu jangan memaksakan dirimu untuk menjenguk keadaanku karena aku yakin kamu tidak bisa beristirahat bukan?"
"Kamu adalah seorang raja negeri ini maka kamu harus banyak beristirahat supaya nantinya bisa berumur panjang," ucap Reina sambil tersenyum kecil
"Bagiamana kalau aku mengatakan aku tidak akan duduk di posisi takhta lagi? Dan bukan seorang calon raja?" ucap Albern sambil duduk di dekat Reina
'Apa yang Albern maksud? Bukankah dia adalah calon raja kenapa dia bisa berbicara seperti itu?' ucap Reina di dalam hatinya dengan tatapan kebingungan
"Apa yang kamu maksud Albern? Bukankah kamu adalah putra mahkota? tentu saja bukan kamu adalah orang yang akan menjadi raja selanjutnya?" ucap Reina dengan tatapan kebingungan
"Reina, aku bukan lagi seorang putra makhota karena aku merasa takhta kerajaan tidak cocok untukku mengingat juga aku tidak memiliki sikap yang tegas dan bijaksana dalam memerintah seluruh negeri ini jadi aku memutuskan untuk turun dari posisi takhta,"
"Dan pergi dari ibukota kekaisaran," ucap Albern sambil tersenyum
"Kenapa kamu menganggap dirimu tidak pantas di posisi raja dan kenapa kamu ingin pergi jauh dari ibukota kekaisaran?" ucap Reina dengan tatapan terkejut dan perasaan campur aduk
"Aku sudah mengatakannya tadi bukan, dan tidak ada alasan untukku tinggal di ibukota lama-lama," ucap Albern dengan gelengan kepala yang pelan
"Albern, apakah kamu berniat untuk pergi dan meninggalkan aku sendirian?" ucap Reina dengan kepala yang tertunduk
"Sendirian? Bukankah kamu juga harus pulang ke wilayah Halmiton?" ucap Albern dengan tatapan kebingungan
"Padahal kamu yang mengatakannya pertama tapi kamu tidak mengetahui apa yang sebenarnya aku katakan,"
"Aku rasa memang tidak heran kamu turun dari takhta kekaisaran," ucap Reina dengan nada kesal dan menggenggam baju Albern dengan erat
"Reina, kamu membenci diriku? Maafkan aku jika aku pernah membuat kesalahan padamu," ucap Albern dengan tatapan kebingungan dan perasaan bersalah
"Aku sama sekali tidak membenci dirimu tapi sebaliknya bodoh,"
"Aku mencintai dirimu juga dan bahkan aku sangat-sangat serius dengan perasaan ini jadi jangan permainkan aku dengan perkataanmu yang ingin meninggalkan ibukota," ucap Reina dengan air mata yang mengalir dan emosi yang meluap-luap karena Albern yang tidak peka
__ADS_1
Apakah yang akan Albern lakukan setelah ini? Apakah Absyuri menerima ajakan James? Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
REINKARNASI REINA