
Di koridor sekolah...
"Reina, apa tadi kamu mendengarkan semua yang aku katakan?" tanya Albern sambil menatap Reina
"Aku mendengarnya dan aku pikir kamu adalah laki-laki yang buruk," ucap Reina tanpa rasa bersalah
"Kenapa kamu mengatakannya dengan terus terang?" tanya Albern dengan tatapan suram
"Karena kamu tidak mengerti aku jadi bagaimana ya? dan ini juga salahku karena aku terlalu egois karena aku tidak pernah memikirkan posisimu,"
"Hah... Sampai saat ini pun, aku masih menantikan kamu melupakan perasaanmu kepadaku," ucap Reina sambil tersenyum pahit
"Reina, sebenarnya aku ingin menanyakan dirimu apa sungguh kamu dari kecil menolak diriku hanya karena kamu bukanlah perempuan yang baik?" tanya Albern sambil mengepalkan tangannya
"Oh... kamu masih ingat jawabanku sewaktu kecil? alasan lain ya yah aku tidak ingin memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, serta keluargaku adalah pemilik sihir hitam murni semua orang menghindarinya, bahkan sampai hal ini merupakan salah satu hal terlarang," ucap Reina sambil menundukkan kepalanya
"Aku harap kamu memikirkannya dengan baik Albern, aku tidak ingin kamu menyesali perbuatanmu, begitu banyak perempuan yang sebanding dengan dirimu,"
"Dan aku akan tetap menunggu dirimu mengatakan "kita lebih baik mengakhiri pertunangan kita," kemudian saling menandatangani surat pemutusan pertunangan," ucapnya lagi tanpa menatap Albern
"Reina, akankah kamu mengatakan kata "cinta" kepadaku?" tanya Albern sambil menggigit bibirnya
'Kenapa dia menanyakan pertanyaan yang bodoh? aku sudah mengatakannya dengan jelas kalau aku tidak bisa memiliki perasaan kepada dirinya, apa dia tidak menyadari ucapannya sendiri?' ucap Reina di dalam hatinya sambil menggigit bibirnya
"Kenapa kamu mengalihkan topik pembicaraan ke sana?" tanya Reina dengan tatapan dingin
'Dia menghindari untuk menjawab pertanyaan dariku, apa mungkin dia benar-benar menolak diriku? Apakah hanya aku yang mencintai dirimu?' ucap Albern sambil tersenyum pahit
"Maafkan aku jika aku sudah melenceng dari pembicaraan," ucap Albern dengan tatapan dingin
"Tidak apa-apa, hubungan kita memang dari awal rumit, aku bahkan tidak tau harus melakukan apa dan aku sudah bilang kepadamu bukan?"
"Aku akan mempertimbangkan," ucap Reina sambil berjalan dengan cepat melewati langkah Albern untuk menutupi wajahnya yang telah Semerah tomat
'Eh? dia tidak benar-benar membenciku? apa dia serius dengan perkataannya? aku tidak boleh meragukan dirinya dan harus segera melakukan banyak hal pada saat liburan ini,' ucap Albern di dalam hatinya sambil menatap Reina yang telah berjalan jauh
Setelah mereka memasuki kereta kuda mereka berdua diam tidak berbicara sampai akhirnya sampailah ke kediaman Marques. Di depan pintu yang besar itu Reina telah di tunggu oleh keluarga dan pelayan yang berbaris untuk menyambut Reina pulang.
"Ayah... Ibu... kakak... dan semuanya aku pulang," ucap Reina sambil tersenyum dengan mengeluarkan air matanya memeluk keluarganya sedangkan Albern hanya memandang Reina dari kejauhan.
'Dia tersenyum begitu bebas dan sangat menyayangi keluarganya,' ucap Albern sambil menatap iri dengan keluarga Halmiton
"Yang mulia Putra mahkota, terimakasih telah mengantarkan putri saya pulang, bagaimana kalau anda mampir dulu untuk makan malam bersama kami?" tanya tuan Marques sambil tersenyum
'Laki-laki baj***an dan breng**k sepertimu seharusnya menolaknya, karena aku sangat ingin menghabiskan waktu bersama keluargaku,' ucap Dalbert di dalam hatinya dengan tatapan sinis
"Terima atas tawarannya tuan Marques, tapi aku harus segera pulang sekarang keluargaku juga menungguku pulang," ucap Albern sambil tersenyum
__ADS_1
'Aku baru selesai di pukul oleh Dalbert, hari ini aku tidak ingin bertengkar lagi di hadapan Reina,' ucap Albern di dalam hatinya sambil menatap Reina
Albern kembali ke kereta kudanya dan pergi meninggalkan kediaman Marques.
"Kalau begitu kita masuk sekarang,' ucap sang ibu sambil tersenyum
"Dan Reina, kamu bersihkan dirimu dulu, karena kamu baru pulang dari perjalanan jauh, kami akan menunggumu di ruang makan," ucap sang ibu sambil tersenyum
"Iya ibu," ucap Reina sambil tersenyum
"Nona saya merindukan nona, setiap kali ada buku datang saya pikir nona akan pulang," ucap Olivia sambil memegang tangan nonanya
"Olivia, aku juga merindukan dirimu," ucap Reina sambil tersenyum
"Kalau begitu sekarang saya harus membuat nona menjadi segar," ucap Olivia sambil tersenyum dan berjalan di samping nonanya
"Baiklah," ucap Reina
'Ah... rasanya sudah lama tidak pulang ke rumah," ucap Reina sambil membuka pintu kamarnya
"Woah... tidak banyak yang berubah ya dari kamar ini, tapi sepertinya kamarku jadi punya banyak lemari buku," ucap Reina sambil tersenyum kaku melihat rak buku yang tiba-tiba muncul selama dia tidak ada
"Karena nona selalu memesan buku dan meminta untuk mengirimnya ke rumah tentu saja bukunya jadi sangat banyak," ucap Olivia sambil menyiapkan air mandi nonanya
"Tenang saja, aku akan menyelesaikan semuanya dalam 3 bulan," ucap Reina sambil tersenyum
"Nona seperti biasa sangat antusias tentang buku ya," ucap Olivia sambil tersenyum pasrah melihat nonanya
"Nona, saatnya mandi," ucap Olivia sambil menyiapkan pakaian nonanya
"Baiklah," ucap Reina sambil berjalan ke arah ruang mandi
Tidak lama kemudian, Reina keluar dari ruangan dengan air yang menetes.
"Nona, keringkan dulu rambut anda setidaknya baru keluar dari ruangan," ucap Olivia menatap nonanya yang keluar dengan rambut basah itu
"Kalau begitu, mohon bantuannya," ucapnya sambil tersenyum
"Nona, mau di dandani seperti apa?" tanya Olivia sambil menyisir rambut nonanya
"Humm... polos saja, lagipula aku hanya akan menghabiskan waktu dengan keluargaku," ucap Reina sambil beranjak dari kursinya
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita pergi menemui nyonya, tuan dan tuan muda," ucap Olivia sambil tersenyum
Di ruang makan...
"Ayah, seperti yang kita bicarakan kita tidak bisa menyembunyikan sejarah keluarga kita kepada Reina dan juga Reina sudah tau dan menerima sihir murni keluarga kita," ucap Dalbert dengan tatapan serius
__ADS_1
"Eh? Reina menerima kenyataan bahwa keluarga kita pewaris sihir kegelapan, ibu pikir menunggu saat dia sangat dewasa untuk memberi taunya," ucap sang ibu dengan tatapan bangga
"Mau bagaimana pun artinya Reina, tidak mempermasalahkan dirinya memiliki sihir yang terlarang tetapi Dalbert kamu melewati batasmu seperti itu karena Reina pingsan juga tidak boleh, apa kamu paham?" ucap sang ibu dengan tatapan khawatir
"Iya Bu, aku paham..." ucap Dalbert sambil menundukkan kepalanya
"Untung saja, pewaris kelurga kerajaan tidak mempermasalahkan masalah ini, jika tidak keluarga kita berada dalam masalah yang genting dan posisi netral di faksi para bangsawan akan berpengaruh," ucap sang ayah sambil menatap Dalbert
"Maafkan aku ayah, aku berpikiran pendek melihat Reina yang pingsan," ucap Dalbert sambil menundukkan kepalanya dan menggigit bibirnya
"Setelah ini kita bicarakan di ruang keluarga," ucap sang ayah sambil meminum wine yang ada di atas meja
"Ayah, ibu, dan Kakak maaf membuat lama menunggu," ucap Reina sambil memberikan hormat kemudian berjalan ke kursinya
"Selamat datang Reina ke rumah, kamu sangat senang dengan kepulanganmu," ucap sang ayah dengan senyuman yang lembut
"Iya ayah, terima kasih telah menungguku dan menyambutku," ucap Reina sambil tersenyum
"Reina, setelah makan malam kita akan berkumpul di ruang keluarga membahas tentang keluarga kita," ucap Dalbert sambil menatap Reina dengan tatapan lembut
"Aku mengerti," ucap Reina sambil mulai makan malam
'Aku merasa sudah sangat lama tidak makan malam bersama seperti ini," ucap Reina di dalam hatinya sambil tersenyum menatap keluarganya
Setelah makan malam selesai dengan suasana hangat dan begitu penuh canda tawa, mereka berbicara serius tentang masalah keluarga. Pembicaraan itu membawakan hasil yang membuat keluarganya terkejut tentang putrinya yang mampu menerima semua perkataan dan kenyataan tentang begitu gelapnya fakta keluarga Halmiton. Dan keesokan harinya...
"Nona... bangun," ucap Olivia masuk ke kamar nonanya untuk membuka tirai dan membangunkan Reina
"Olivia, Sebentar lagi ya," ucap Reina sambil mengusap-usap matanya
"Sebentar lagi apanya nona, nona dapat surat dari tuan Duke Derick," ucap Olivia sambil menarik selimut Reina
"Hah? Apa?" tanya Reina dengan mata terbelalak setelah mendengar perkataan Olivia
"Bisa kamu bacakan saja isinya Olivia," ucap Reina sambil mencuci mukanya
"Itu, disini tertulis dia ingin mengajak nona pergi ke TOKO BUKU HARI INI," ucap Olivia dari nada yang biasa sampai ke nada tinggi
"APA KAMU BILANG OLIVIA? OLIVIA AKU BARU BANGUN JANGAN MENGATAKAN YANG ANEH-ANEH," teriak Reina dengan terkejut mendengar isinya
"Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu nona, yang penting nona sekarang bersiap-siap," ucap Olivia sambil menyiapkan pakaian dan barang-barang untuk nonanya dengan tatapan curiga
'Kenapa tiba-tiba ya? padahal ini hari pertama liburan,' ucap Reina di dalam hati ya dengan suram
'Lucunya takdirku selalu jadi bahan candaan para dewa,' ucap Reina dengan pasrah
"Aku harap semuanya berjalan lancar saja deh, aku ikuti saja takdir yang tidak jelas ini," Gumam Reina dengan pasrah
__ADS_1
Kenapa Derick mengirim surat kepada Reina di pagi hari? Apakah Derick memiliki perasaan kepada Reina? Apakah takdir Reina inginkan akan terkabul?
REINKARNASI REINA