Reinkarnasi Reina

Reinkarnasi Reina
Bab 200 Aku tidak pernah setuju


__ADS_3

Suasana yang mencekam terjadi di ruangan itu dan lihat oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu menanti kematian perempuan itu...


"Menyedihkan katamu? kamu tidak pernah mengerti bagaimana menderitanya aku berada di posisi terbawah dan keluargaku selalu menghukum aku karena aku tidak berguna,"


"Karena itu lebih baik kamu diam untuk selama-lamanya," ucap Elena yang dengan cepat menggerakkan pisau belati itu menusuk dada Reina


"Klang...."


"Siapa di sana?" ucap Elena dengan tatapan tajam ke arah pintu


"Untunglah aku masih sempat untuk menyelamatkan dirimu dari pisau belati itu," ucap seorang laki-laki yang berdiri dengan nafas yang tersengal-sengal sambil mengeluarkan sihirnya itu


"Albern? kamu bagaimana bisa berada di sini?" ucap Elena dengan tatapan yang panik dan terkejut karena tidak seorangpun yang mungkin tau kalau katedral tua berada di tengah hutan dan tempat yang begitu terpencil di dekat akademi


"Aku tau tempat ini atau tidak itu bukanlah hal penting untuk dirimu bukan?" ucap Albern dengan tatapan yang dingin dan aura yang mampu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu gemetaran ketakutan


"Lepaskan Reina sekarang juga, kalau tidak kamu tau akan akibatnya bukan nona Elena?" ucap Albern dengan tatapan tajam dan dingin sambil mengulurkan pedangnya menunjuk ke arah Elena yang gemetaran


"Lepaskan? kamu yang harusnya bertindak baik Albern,"


"Karena Reina berada di tanganku,"


"Aku akan melepaskan Reina jika kamu mau menerima penawaran yang aku berikan," ucap Elena dengan tatapan serius sambil menggenggam leher Reina yang telah lemah


'Ck, aku sudah menduga kalau dia akan melakukan hal licik seperti ini,' ucap Albern di dalam hatinya dengan menggigit bibirnya


"Cepat beri tau aku apa yang kamu inginkan," ucap Albern dengan tatapan tidak sabaran sambil menggenggam pedangnya dengan gemetar


"Baiklah, keinginanku sangat mudah untuk kamu penuhi,"


"Jadikan aku sebagai ratumu, maka aku akan melepaskan Reina," ucap Elena sambil tersenyum tipis


"Albern, biarkan aku mati,"


"Kamu tidak perlu khawatir denganku, carilah orang yang kamu cintai,"

__ADS_1


"Aku tidak ingin kamu menderita karena menyelamatkan aku," ucap Reina dengan suara yang lemah dan tidak berdaya


"Reina, mana mungkin aku melepaskan dirimu karena kamu adalah orang yang aku cintai," ucap Albern dengan tatapan serius sambil mengigit bibirnya


"Kamu menginginkan posisi ratu bukan? Baiklah akan aku berikan," ucap Albern dengan tatapan serius sambil mengeluarkan sebuah gulungan


"Di kertas ini adalah kertas untuk calon putri makhota ketika kamu menandatangani gulungan ini maka kamu akan resmi menjadi putri makhota dan menjadi calon ratu kekaisaran ini," ucapnya lagi sambil melemparkan gulungan kertas itu namun siapa sangka ketika Elena ingin menggapai gulungan kertas itu tiba-tiba sebuah panah melesat cepat menuju jantung perempuan itu dengan cepat bukan hanya perempuan itu tapi semua orang yang merupakan penyusup dan pihak katedral jatuh ke permukaan tanah


"Reina!" teriak Albern sambil berlari ke arah Reina yang telah terbaring lemas itu


"Aku rasa aku tidak benar-benar terlambat ya datang ke sini,"


"Kalau tidak aku akan mati juga di tangan Dalbert," ucap seorang laki-laki yang berada di atas jendela katedral dengan senyuman tipis


"Albern, ini berikan kepada Reina maka beberapa lukanya akan sembuh dan rasa sakitnya tidak akan terlalu sakit," ucap laki-laki itu sambil melemparkan sebuah botol kecil ke arah Albern dengan cepat Albern memberikan Reina meminum botol kecil itu


"Kenapa kamu begitu menyukai dirinya dan begitu baik dengannya?"


"Bukankah kamu sudah tidak bertunangan lagi dengannya?"


"Tapi kenapa kamu malah mengatakan kalau kamu mencintai dirinya?"


"Dan kamu malah bertindak begitu jahat kepadaku padahal aku adalah anak kesayangan para dewa dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang putri Marques," ucap Elena dengan suara yang begitu lemah dan tatapan yang kosong


"Nona Elrick, kamu tidak akan mengerti apapun tentang sebuah perasaan,"


"Perasaan cinta tidak disadari oleh kemampuan, tidak di dasari oleh berkat dari dewa walaupun kamu adalah anak yang dianggap sebagai kesayangan para dewa,"


"Bagiku Reina Elice Halmiton adalah orang yang diberkati oleh para dewa karena tanpa dirinya aku tidak akan bisa keluar dari lingkaran ketidakpercayaan,"


"Jadi jangan menganggap kalau dirimu sendiri istimewa, aku harap di kehidupanmu selanjutnya kamu bisa mencari kebahagiaan dirimu sendiri tanpa harus merusak kebahagiaan orang lain," ucap Albern dengan tatapan yang penuh perhatian ke arah Reina


"Aku mengerti, dan terima kasih kalian telah memberikan nasehat terakhir untukku," ucap Elena dengan senyuman pahit karena tersadar kalau perbuatannya adalah perbuatan yang seharusnya tidak dia lakukan


"Aku tidak menyangka kalau kata-kata yang seperti itu keluar dari mulut dirimu Albern,"

__ADS_1


"Padahal sejak kecil kamu di anggap orang yang berhati dingin," ucap laki-laki itu sambil tersenyum kecil


"Dibandingkan berbicara seperti itu denganku bukankah kamu lebih baik mengurus mayat-mayat itu?"


"Aku telah menyelesaikan tugasku yaitu menemukan Reina dan menyelamatkan dirinya artinya aku dan James lolos dari tes yang kamu berikan bukan Derick?" ucap Albern sambil menggendong perempuan yang sangat dicintainya itu dengan lembut dan penuh perhatian


"Baiklah, kamu berhasil tetapi keputusan akhir ada di tangan Dalbert," ucap Derick sambil memegang dahinya yang tidak panas itu


Di sisi lain sebuah ruang yang gelap dan tidak berujung itu terlihat hanya ada seorang perempuan yang duduk di sebuah kursi yang entah dari mana...


"Kamu Reina Elice Halmiton, aku yakin kamu sudah lihat apa yang terjadi dan apa yang dikatakan oleh orang yang kamu anggap kalau dia tidak memiliki perasaan khusus untukmu,"


"Bukankah sudah jelas apa yang dia katakan pada saat dia menyelamatkan dirimu itu?" ucap perempuan itu dengan kaki yang menyilang dan senyuman merendahkan Reina karena tidak bisa melihat perasaan tulus seorang teman atau perasaan sebagai seorang perempuan


"Aku..."


"Hah..."


"Baiklah sesuai dengan perjanjian, aku akan menyerahkan tubuh ini kepada dirimu,"


"Dan tolong sampaikan kepada dirinya ya,"


"Aku ingin dia bahagia jadi tolong lupakan aku," ucap Reina sambil tersenyum pahit dengan perasaan yang menusuk


"Baiklah, kalau begitu kamu tidur lah selama-lamanya," ucap perempuan itu sambil menjentikkan jarinya dengan senyuman yang penuh kemenangan


"Sebenarnya, aku sangat bangga kepada perjuangan dirimu yang bertahan sampai saat ini, Reina,"


"Tapi aku tidak pernah setuju jika dirimu yang polos memiliki perasaan kembali kepada dia,"


"Karena aku tidak ingin masa lalu kembali seperti dahulu walaupun semuanya sedikit berbeda," ucap perempuan itu sambil meletakkan Reina ke dalam sebuah peti untuk menyimpan jiwa yang tertidur itu


Kenapa perempuan misterius itu begitu peduli kepada Reina? Apakah yang akan terjadi selanjutnya kepada tubuh Reina? Apakah yang akan di lakukan Albern selanjutnya?


REINKARNASI REINA

__ADS_1


__ADS_2