
"terima kasih sudah boleh duduk di sini, kalau boleh tau namanya siapa?" tanya Ajeng penasaran.
"panggil saja saya Farid, kalau mbaknya?" tanya pemuda itu dengan sopan.
"panggil saja saya Ajeng, saya putri ibu pemilik warung yang jualan di ujung desa di sana," kata wanita itu dengan jelas.
"owalah putri Mak tun toh," jawab Farid.
Ajeng mengangguk, keduanya tampak asik mengobrol di pinggir sungai berdua.
di rumah, Wulan hanya bisa menghela nafas jika ingat kejadian tadi, Bu pawoh pun sudah tau apa yang terjadi.
"kamu kenapa sih nduk, yang sabar ya... kita juga tak bisa jika harus membungkam setiap mulut orang," kata Bu pawoh.
"bukan itu Bu, tapi kenapa terus menerus dia mempermalukan diriku, apa tak pernah puas baginya setelah semua yang dia lakukan padaku, aku lelah Bu... aku lelah..." tangis wanita itu sesenggukan.
ya batin Wulan yang terus di siksa membuatnya tak sanggup lagi, jika bukan ingat tentang putranya Ryan.
dia mungkin sudah memilih jalan pintas untuk menyelesaikan semuanya.
"sabar nduk, ingat kamu masih punya ibu dan Ryan..."
Wulan hanya mengangguk, dia berharap semua yang menimpanya perlahan bisa berkurang.
__ADS_1
juragan Baron tanpa terduga sampai di rumah Wulan, dia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"assalamualaikum... ibu pawoh," panggil pria itu yang merasa begitu khawatir.
mendengar suara itu, Bu pawoh pun membuka pintu, "wa'alaikumussalam... loh juragan Baron, ada apa ya?" tanya wanita itu bingung.
"saya boleh bertemu dengan Wulan Bu? saya sangat khawatir dengan kondisinya?" kata pria itu.
Ryan keluar dan menarik juragan Baron dari luar menuju ke dalam kamar ibunya.
"bunda telus menangis," kata Ryan menunjuk sosok Wulan yang masih sesenggukan di kamarnya.
juragan Baron langsung mendekat dan memeluknya, "setelah masa Iddah mu selesai, maukah kamu menikah dengan ku, aku akan membahagiakan dirimu dan Ryan, itu janjiku,"
"jangan berjanji... aku sudah lelah, dan aku mohon pergi dari sini juragan, aku benar-benar sudah lelah!!" teriak wulan yang mendorong juragan Baron hingga keluar kamar dan kemudian mengunci dirinya sendiri.
bahkan untuk menutupnya saja perlu usaha sebesar ini, "bunda..." suara Ryan yang terus menangis.
"sudah nak, ikut ayah batin dulu,mungkin bunda mu sedang ingin sendiri, dan Wulan tolong ingat putra mu,dan jangan memilih jalan buruk," kata juragan Baron yang memilih pergi sambil membawa Ryan yang sudah sangat kasihan karena wajahnya merah karena terus menangis.
Bu pawoh akan berusaha untuk membujuk putrinya itu, karena kondisi depresi seperti itu tak baik untuk Wulan.
saat di dalam mobil Ryan tertidur karena lelah,karena tak ingin terus Farhan menganggu wanita yang dia sukai.
__ADS_1
juragan Baron pun memerintahkan beberapa preman membuat pria itu mengalami sedikit kejutan.
"karena kamu sudah membuat Ryan dan Wulan menangis, maka maafkan aku berbuat kejam, di tambah kesempatan mu dulu sudah berakhir dengan buruk itu kesalahan mu," Kata juragan Baron yang mengusap kepala Ryan yang terlelap di jok penumpang.
dia langsung mengendong bocah itu ke dalam rumah dan menidurkannya di kamarnya.
dia pun menutup mata, dia pun kembali ingat bagaimana dulu pertama kali dia jatuh cinta pada sosok Wulan yang masih berseragam putih biru.
gadis cantik yang selalu ramah pada semua orang, begitupun padanya yang dulu itu hanya pesuruh di salah satu sawah milik warga di desa.
"berangkat sekolah cantik," sapa Baron muda.
"iya mas, mas Baron sendiri mau berangkat ke sawah ya," jawab Wulan dengan sopan.
"iya nih, mau jadi istri mas Baron gak, bismillah pasti kita bisa menjadi pasangan yang sempurna bukan," kata pria itu dengan penuh harap.
"tapi Wulan tak boleh pacaran oleh ayah, memang mas Baron berani menghadapi ayah ku yang di takuti oleh semua warga desa," tanya Wulan yang ingin tertawa melihat raut pemuda itu yang sudah berubah pucat.
"berani kok, memang ayah mu tak malu punya calon menantu yang tak punya apa-apa seperti ku,"
"asal mas bisa membahagiakan aku itu yang terpenting mas," jawab Wulan yang kemudian pergi dengan sepedanya karena harus berbelok
tapi semua angan-angan itu tinggal kenangan, karena ujung-ujungnya Wulan malah harus menikah dengan pria lain yang di jodohkan oleh kakeknya.
__ADS_1
dan batin pun memilih menikahi janda kaya yang tak punya anak, jadi itulah yang semakin membuat jalan batin jadi juragan terkaya makin terbuka lebar.
dan sekarang saat Wulan sudah sendiri, wanita itu begitu sulit untuk di dekati karna perpisahan yang penuh luka.