
mobil yang akan menjemput Ryan, Ivan dan Tyo datang, tapi sekolah belum bubaran.
dia memilih santai di dalam mobil sambil menunggu para siswa, saat bel sekolah berbunyi, tapi semua tampak tertib di grasak-grusuk.
Ryan mengenali mobil ibunya karena di sekolah itu tak ada yang menjemput mengunakan mobil, dan hampir semua siswa menaiki sepeda sendiri.
"mama .."
"halo para pria tampan, naik ayo kita pulang," kata Wulan tersenyum ramah pada ketiga bocah itu.
saat masuk kedalam mobil, Wulan terkejut karena putranya itu sudah tak mengunakan sepatu di kakinya,
"Ryan, sepatu mu mana, tak kan sepatu mu hilang di curi kan?" tanya Wulan perlahan.
"tidak Tante, Ryan memberikan sepatunya ada teman jelas kami yang sepatunya rusak, dan di tambah lagi dia sepertinya dari keluarga tak mampu," saut Ivan.
"mama tak percaya," kata Wulan pada tiga bocah itu.
"itu Tante anaknya, dia yang terlihat lusuh itu," kata Tyo menunjuk seorang gadis kecil yang berjalan kaki sendirian.
"kalian mau ikut Tante sebentar," kata Wulan yang langsung menancap gas mobil dan berhenti tepat di samping gadis kecil itu.
Ryan membuka pintu mobil, "Ilmi ikut bareng mobil yuk, nanti mama ku antar pulang," panggil Ryan.
"apa mobilnya tak akan kotor?"
"tidak, meskipun kotor bisa di cuci, ayo masuk," kata bocah itu semangat.
Ivan membuka pintu untuk temannya itu, dan saat gadis itu masuk tampaknya ini pengalaman pertama kali.
Mereka pun berangkat, "dimana rumah mu nak?" tanya Wulan dengan lembut.
"rumah ku di ujung desa, di dekat makam ibu," jawab bocah itu sepertinya takut.
"baiklah kita antar Ilmi, terus Ivan baru Tyo, dan kamu Ryan, duduk yang baik," kata Wulan menarik sabuk putranya itu agar duduk diam di depan.
"mama... Malu,"
"karena kamu tidak bisa diam,"
__ADS_1
Akhirnya mobil pun sampai di rumah gadis kecil itu, dan terlihat ada seorang wanita yang sedang menidurkan anak kecil di teras rumah yang sangat sederhana.
"terima kasih Ryan," kata gadis itu tampak begitu senang
"wah ternyata rumahnya seperti gubuk ya," celetuk Ivan.
"aduh anak-anak tak boleh ngomong seperti itu, karena setiap orang punya takaran sendiri-sendiri untuk rezeki,"
"iya Tante," jawab ketiganya.
Setelah mengantarkan anak-anak, kini dia dan Ryan menuju ke gudang milik suaminya.
Saat sampai terlihat masih sibuk semua orang, Ryan turun dengan memakai sandal yang tadi sempat di beli di sebuah toko kelontong sebelum datang ke gudang.
"ayah!!" teriak bocah itu langsung lari dan memrluk juragan Baron
"halo nak, kamu sudah pulang," kata pria itu memeluk anaknya.
"sayang lihatlah putramu, baru juga baru juga satu hari sekolah, dia sudah memberikan sepatu miliknya pada teman wanitanya," kata Wulan mengadukan putranya itu.
"mama kok bilang bilang sih, kan sepatuku banyak kok," kata bocah itu bersembunyi di balik kaki juragan Baron.
"ya sudah tak masalah, sekarang kamu ke ruangan ayah dulu ya, biar ayah bicara dengan ibu," kata juragan Baron.
dia pun membalas senyuman suaminya, sedangkan pria itu juga tau bagaimana perangai istrinya yang pasti akan menyelidiki semua yang berhubungan dengan putra mereka.
"dia putri dari pak Yadi yang bekerja di masjid, ya kehidupan mereka ini bisa di bilang kurang ya cukup, di bilang cukup tapi serba kekurangan," kata Wulan.
"ya sudah lain kali kita main kesana, karena pria itu juga sangat sulit di beri bantuan, dia selalu bilang dia bisa menjaga keluarganya sendiri," kata juragan Baron merangkul pundak istrinya dan mengajaknya naduk kedalam rumah.
Di rumah gadis kecil itu, dia masih jekigat sepatu bagus itu yang kini berada di atas meja.
bahkan dia terus mengusapnya dengan kain agar tak kotor, karena baru kali ini ada orang yang memberikan sepatu sebagus itu.
"assalamualaikum..."salam ayah gadis itu.
"wa'alaikumussalam bapak, lihatlah Ilmi punya sepatu baru di berikan oleh teman ku, dan tadi di sekolah kami juga di berikan makan nasi ayam yang seperti di tv itu loh pak,"kata gadis itu menunjukkan sepatu pemberian Ryan.
"jangan bohong Ilmi, ini sepatu mahal kamu pasti mencurinya, bapak tidak pernah mengajari mu seperti ini, di tambah ini model untuk laki-laki," marah pria itu.
__ADS_1
"tenang pak, di adek baru tidur, dia tidak bohong, tadi ada temannya yang mengatarkan dia bahkan naik mobil," kata Bu inem.
"apa kamu tau Bu, di desa ini yang punya mobil bisa di hitung jari, tak mungkin keluarga seperti itu menyekolahkan anaknya di sekolah yang sdma dengan putri mu ini,jadi jawab Ilmi," marah pak Yadi
"Ilmi jujur pak,ini di kasih teman Ilmi," kata gadis itu sambil menangis memeluk sepatu pemberian Ryan.
Bahkan dia tak melepaskan sepatu itu agar tak jatuh ke lantai, tapi pak Yadi yang geram pun mencari kayu untuk menghajar putrinya itu.
Dia tak mau putrinya itu hafi pengemis atau orang meminta-minta, karena pantang bagi keluarga mereka memohon belas kasihan orang.
"jika kamu tak mau jujur, bapak akan memukul mu," kata pak Yadi yang akan mengayunkan kayu itu untuk melukai putrinya.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangan pria itu dan menghentikan apa yang akan di lakukan pak Yadi.
"jangan menghancurkan semua cinta putrimu pak, karena cinta pertama abak perempuan adalah ayahnya," kata juragan Baron yang datang bersama istri dan anaknya.
Ryan yang melihat Ilmi memeluk sepatu yang dia berikan sambil menangis pun seolah mengerti.
"jangan pukul lagi, Ilmi tidak salah,aku yang memaksa dia menerima sepatu itu, aku kasihan karena Ilmi di ejek teman-teman karena sepatunya sobek, jadi aku memberikan sepatuku ku, itu salah ku jangan pukul lagi, itu sangat sakit..." tangis Ryan yang seperti mengingat perlakuan buruk di masa kecilnya.
Tiba-tiba Ryan kejang dan sesak nafas, melihat itu juragan Baron dan Wulan panik.
"mas Ryan mas!!" teriak Wulan.
"kita bawa ke rumah sakit, tolong kemudikan mobil mu," jara juragan Baron mengendong putranya itu.
Tapi Wulan gemetar, dia batu kali ini melihat Ryan seperti ini, "biar saya saja, ibu juragan sedang tak baik juga sepertinya," jata pak Yadi yang langsung lari ke arah mobil.
Dia pun mengantarkan keluarga itu je rumah sakit terdekat, juragan Baron membiarkan tangannya di gigit oleh putranya agar tak menggigit lidahnya sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung melakukan tindakan, "dokter tolong putra ku," kata juragan Baron khawatir .
Wulan yang lemas melihat putranya seperti itu, tiba-tiba pingsan begitu saja.
"sayang!!" kaget juragan Baron melihat istrinya pingsan di lantai.
"suster tolong," jata pria itu yang mengendong istrinya ke atas ranjang.
"dokter tolong istri saya,dia sedang hamil tiga bulan dan tolong pastikan mereka baik-baik saja," kata juragan Baron begitu khawatir.
__ADS_1
pasalnya dia baru kali ini ntkuhat kondisi Ryan memburuk setelah beberapa waktu.
"sabar juragan, maafkan saya..." kata pak Yadi yang merasa bersalah