
Selama sebulan di rumah,Aina dan Ryan benar-benar dalam proses penyembuhan karena luka mereka.
bahkan Aina harus menemui psikiater untuk membantu mengurangi trauma yang di hadapinya.
"jadi apa mas ingin pergi?" tanya Aina yang takut jika jauh dari Ryan sekarang.
"ini harus di lakukan dek, dan tunggu aku pulang ya,"
"baiklah mas, dan sering-seringlah mengirimkan kabar pada kami semua," kata Aina yang akan melepaskan kepergian Ryan.
"baiklah, aku hanya pergi tiga tahun saja," jawab Ryan yang tersenyum tulus.
Sedang Bu pawoh sangat sedih melepaskan cucu kesayangannya itu, terlebih Ryan adalah cucu pertamanya.
"Mbah uti, titip Aina ya, dan singkirkan para pria yang ingin mendekatinya," bisik Ryan.
"pasti nak, dan kamu cepat pulang ya," kata bu pawoh
"iya Mbah uti, dan Mbah kung, titip semuanya ya, dan jika ayah berulah keplak saja," kata Ryan memeluk pak Dikin.
"tentu saja,"
"bocah sialan," kesal juragan baton mendengar itu dari mulut putranya.
Mama Wulan dan Juragan Baron bergantian pamitan pada Ryan,dan si kembar juga.
Ryan pun berangkat untuk membuat dirinya semakin kuat dan tak bisa tergoyahkan lagi.
Sedang semua keluarganya akan menunggu kedatangan pria itu, terlebih Aina juga tak akan memilih pria lain selain Ryan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Raisa... Raina... Ayo bangun kalian bisa telat ke sekolah, Bima cepat sarapannya,"suara itu terus mengena di rumah juragan Baron.
"iya mama!" jawab mereka bertiga.
mama Wulan heran melihat ketiganya yang sangat rapi, "tumben tidak awut-awutan," kata mama Wulan.
"ya kali di bantu mbak Aina," jawab kedua gadis itu.
"ya hari ini,hari pertama kali kalian masuk ke sekolah menengah pertama, jadi jangan berbuat ulah, dan semua yang di tugaskan ada di kota bekal,dan untuk bima kamu juga sudah harus ke tempat latihan silat bukan,"
"iya mama," jawab ketiganya bersama.
"pagi sayang," sapa juragan Baron yang memberikan ciuman pada istrinya itu.
__ADS_1
"pagi mas, tapi Nana Aina," tanya mama wulan.
"kemana lagi menurut mu," kata juragan baton tersenyum menyeruput kopi miliknya.
"ah jangan bilang dia sudah pergi ke peternakan," kata mama Wulan tak habis pikir.
"ya dia mengurusnya dengan baik," jawab juragan Baron.
Seorang gadis menaiki sepeda dengan sangat bersemangat,bahkan senyumannya sangat cerah di pagi hari ini.
"selamat pagi pak Basuni dan istri," sapanya saat berpapasan dengan warga desa.
"iya neng, mau ke peternakan," jawab sepasang suami istri yang sudah cukup sepuh itu
"iya, mau lihat anak sapi yang batu lahir semalam, kalau begitu permisi," pamitnya dengan sopan.
"iya neng, hati-hati," kata keduanya.
Dia pun melanjutkan menaiki sepedanya menuju ke peternakan keluarga juragan Baron.
baru juga masuk, tiba-tiba sepedanya di hentikan oleh Wawan dengan memegang boncengannya.
"neng Aina bisa terluka jika secepat itu," kata pria itu dengan sangat pelan.
"aku baik-baik saja, aku bawa sarapan untuk semuanya," kata Aina tersenyum ramah seperti biasanya.
Aina tumbuh dengan sangat baik, dia perlahan juga melupakan semua trauma dan kesedihannya.
"terima kasih,tau saja kalau lapar," kata Gofur yang mengambil bawaan Aina di keranjang di bagian depan sepeda gadis itu.
"hei, kami juga lapar,"
Akhirnya pagi itu semua sarapan bersama dengan Aina, setelah memastikan jika pedet itu sehat.
Aina pamit menuju ke bengkel las milik keluarganya, karena siang nanti akan ada pengambilan dua mesin yaitu perontok padi dan perontok jagung juga.
Aina tetap terlihat lincah dan sangat aktif meski mengunakan baju gamis lebar.
Bahkan kecantikan gadis itu sangat terkenal di desa, dan banyak lamaran yang datang setelah kelulusannya dari sekolah menengah atas.
Tapi semua lamaran itu di tolak, karena bagi Aina hanya satu orang yang bisa menjadi suaminya.
"assalamualaikum semuanya," salam Aina yang datang sambil membawa camilan untuk para pekerja
"wa'alaikumussalam neng Aina, kok tumben sudah datang,"
__ADS_1
"iya pak, karena tadi dari peternakan, oh ya pakde Karno bisa tolong minta laporan apa saja yang habis, karena ayah Baron akan ke pasar besok tua jadi bisa beli sesuatu jika memang di butuhkan," kata Aina yang memilih masuk kedalam ruang tamu rumahnya yang kini berubah menjadi ruangan kerja dan di gunakan untuk mengawasi semua pekerja.
"siap neng,"
Mereka pun bekerja dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya pelanggan yang di tunggu akhirnya datang.
Ternyata seorang pria berseragam coklat dengan beberapa atribut yang menunjukkan pria itu punya posisi tinggi di pemerintahan daerah.
"assalamualaikum... " salam pria tampan berseragam itu.
"wa'alaikumussalam, selamat datang," salam Aina dengan sopan.
melihat gadis cantik yang masih begitu muda yang keluar menemuinya.
pria itu terkejut karena baru ini dia bertemu dengan pemilik bengkel semuda ini, di tambah dia seorang muslimah taat sepertinya.
"mau jemput mesinnya ya, silahkan di lihat dulu, dan nanti jika ada kendala tolong beritahu kami ya, punya nomor ponsel pak Karno kan," kata Aina dengan ramah.
"iya mbak, tapi saya selalu suka hasil buatan bengkel Andika ini, dan kalau boleh tau mbak sudah menikah," tanya pria itu basa-basi.
"maaf tidak menjawab pertanyaan pribadi," kata Aina dengan sopan
Tapi di lihat sekilas saja sudah ketahuan jika gadis itu masih singel, jadi dia punya sedikit waktu untuk mengenalnya, karena dia juga sedang ingin mencari pasangan.
setelah melihat dan mencoba mesin itu, pria itu masuk kedalam ruangan Aina dan melakukan pembayaran.
tentu iak Karno tak membiarkan Aina sendiri, karena itu syarat dari Ryan.
bahkan di ruangan itu, CCTV tak hanya bisa di akses oleh Aina tapi Ryan juga bisa.
Seorang pria sedang tersenyum menyeringai di sebuah ruangan pengawas, "ternyata murahan semua, apa kalian sudah menghancurkan keluarga terakhir," kata Ryan yang benar-benar tak melepaskan semua orang yang melukai Aina.
"semua beres bos, dan tugas besar itu juga bisa di jalankan,"
"baiklah aku mengerti, jadi aku bisa pulang dengan santai karena semua belas dendam ini selesai pada akhirnya,"
"tentu, tapi apa anda skan meninggalkan kami di sini,"
"tentu saja tidak, karena kalian orang kepercayaan ku, jadi ikut aku ke desa untuk mengurus semua usaha milik ku,"
"baik bos," jawab mereka berempat.
Ryan pun akhirnya bisa tenang setelah menyingkirkan semuanya, setelah beberapa waktu dia mencoba menyalakan aplikasi CCTV yang ada di ruang kerja Aina di bengkel.
Dan dia terlihat kesal saat melihat ada seorang pria yang terlihat ada di sana, bahkan meski tidak hanya berdua, tetap tak membuat Ryan bisa tenang.
__ADS_1
"kenapa kamu selalu di kelilingi pria," marahnya melihat itu.