Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
gadis cantik


__ADS_3

seorang gadis tak sengaja menabrak sebuah mobil yang sedang parkir di pinggir jalan, "hei apa kamu buta!" bentak Gofar dengan suara keras.


"maaf tak sengaja," jawab gadis itu dengan suara rendah dan ketakutan.


"sudah gok, jangan jahat begitu,lagi pula dia sudah minta maaf..." kata Ryan terhenti saat melihat gadis berambut hitam panjang.


Kulit bersih dan mengenakan baju putih biru itu, "tapi dia melihat jepit rambut yang persis dengan milik si kembar,"


"Aina,"


"iya, apa anda mengenal ku?" tanya gadis itu


"kamu lupa, aku Ryan putra juragan Baron," kata Ryan


Aina langsung lari meninggalkan sepedanya dan memeluk pria kekar itu, "aku merindukan mu kakak tampan," kata Aina tang benar-benar ingin bertemu sosok itu.


dan perlahan Ryan mendengar suara Isak tangis meski lirih, "ada apa Aina, kamu kok nangis," kata Ryan yang kaget dengan apa yang dia dengar


"mas, saya sedang sakit dan usahanya juga buruk karena tak ada yang bisa menjalankan, dan ibu...." tangis Aina.


"ibu mu kemana? Bukankah Tante Wati seldlu di rumah,"


"ibu kabur dengan membawa uang ayah ku," kata Aina yang entah kenapa langsung membicarakan semua keluh kesahnya pada pemuda itu.


mendengar itu membuat hati Ryan begitu terpukul,gadis yang waktu kecil selalu mengikutinya dan terlihat begitu ceria dan aktif.


kini harus mengalami hal seburuk ini, "Gofar tolong atur semua untuk urusan peternakan, dan bilang pada Mbah Kakung aku pergi sebentar," kata Ryan.


"tapi kamu tak bawa kendaraan bung,"


"nanti jemput di rumah Aina, aku ingin bertemu dengan om Andika dulu," jawab Ryan yang memilih mengambil sepeda milik Aina.


Bahkan sepeda itu bukan keluaran terbaru, melainkan sepeda model lama yang terkenal di tahun dua ribuan.


Gofar tak menyangka akan melihat itu, pria yang selalu dingin saat di goda atau di mintai kenalan oleh para gadis.


Kini malah membonceng seorang gadis berseragam putih biru gelap itu, "apa dia punya kelainan," gumam Gofar yang memilih melanjutkan kegiatannya.


Aina terus merangkul pinggang Ryan, pria yang menjadi kesayangannya saat kecil kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa.


"ada apa Aina, kamu masih sedih,"


"iya mas, aku tak mengira jika semua ini akan menimpa keluarga kami, terlebih semua berjalan baik, tapi satu tahun ini semua memburuk," kata Aina.

__ADS_1


"tenang Aina, tapi kenapa tidak meminta tolong pada orang tua ku," tanya Ryan penasaran.


"apa om dan Tante akan percaya saat mendengarkan cerita ku," tanya Aina dengan lirih.


"tentu saja, mereka pasti akan membantu, jika mereka menang tidak mau, maka aku yang akdn membantu mu," terang Ryan yang akhirnya mereka sampai di rumah Aina


Ya... bengkel las yang beberapa tahun lalu masih ramai,kini seperti terbengkalai.


Beberapa bentuk perontok juga masih tergletak di sana, gadis itu berjalan masuk kedalam rumah mewah itu.


"ayo mas," panggil Aina.


Ryan pun menaruh sepeda itu di garasi, dan kemudian masuk kedalam rumah mewah itu.


"assalamualaikum..."salamnya saat masuk kedalam rumah.


"wa'alaikumussalam," jawab Aina yang menaruh tasnya di meja ruang tamu.


"ayah..." panggil Aina yang merasa aneh karena tak biasanya ayahnya tak menyahut seperti ini.


Ryan pun mengikuti Aina dari belakang, dan saat di area dekat kamar mandi tamu.


Aina melihat sosok ayahnya itu sudah tergeletak tak sadarkan diri di depan kamar mandi.


"ayah!!!" teriak Aina yang langsung histeris.


melihat hal itu, Ryan merasa begitu buruk karena kondisi dari pak Andika ini sangat pucat.


"kita harus membawanya ke rumah sakit," kata Ryan yang langsung lari keluar rumah.


Dia menghentikan mobil yang lewat, untung ada teman Ryan yang melihat pria itu, "kamu sedang bunuh diri," maki Kevin yang sedang membawa mobil panther milik ayahnya.


"untunglah, aku minta tolong, om ku sedang sakit tolong antar kami ke rumah sakit," panik Ryan.


"cepat bawa,sebelum terjadi yang tidak-tidak," kata Kevin.


Ryan segera masuk kedalam rumah,dan melihat Aina yang masih menangis sambil berusaha membuat ayahnya sadar.


"kita bawa om je rumah sakit Aina, bawa semua tanda pengenal om ya," kata Ryan.


"iya mas..."


Ryan mengendong pria itu dengan mudah karena kondisi tubuh pak Andika yang sangat kurus.

__ADS_1


Kevin kaget melihat sosok pak Andika yang di gendong oleh Ryan, dan di ikuti oleh putri kecilnya.


"cepat Kevin," kata Ryan yang sudah masuk kedalam mobil.


Mereka pun berangkat menuju ke rumah sakit di kota, tiba-tiba dalam perjalanan menuju tempat itu.


tak terduga Andika membuka matanya dan melihat Ryan, "om tolong bertahan,kita akan segera sampai," kata Ryan yang tampak khawatir.


"titip Aina ya, dia sendirian le,"


"iya om,tapi om harus kuat, demi Aina om," kata Ryan panik


"tutup Aina,kamu yang om percaya...." lirih pak Andika yang kembali menutup mata.


"Kevin cepat,om ku mohon tetap terjaga," panik Ryan.


mobil sampai di depan UGD, dan saat turun tubuh pak Andika sudah lemas, dan saat dokter memeriksanya.


ternyata pak Andika sudah tak tertolong dan di nyatakan sudah meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit


"ayah!!!" teriak Aina histeris mendengar itu.


Ryan terduduk lemas, dia masih tak percaya dan gemetar karena pak Andika ini meninggal di pangkuannya.


Aina masih memeluk tubuh kaku ayahnya yang akan di bersihkan, Ryan pun menarik Aina agar bisa Jenazah di bersihkan dengan seharusnya.


"ayah...." tangis Aina.


"Aina ... Aina... Ada aku disini, tolong jangan seperti ini," kata Ryan yang langsung memeluk gadis itu.


"aku bersumpah untuk menjaga mu, aku akan menjadi sandaran mu, aku akan hidup dan menjaga mu selama nafas ku ada dek," kata Ryan.


Kevin yang ada di sana bahkan kaget mendengar ucapan dari temannya itu.


Pasalnya Ryan adalah orang paling menempati janjinya, dan tak akan ada yang bisa membuatnya membatalkan janji yang sudah terucap dari mulutnya.


Aina perlahan tenang, tapi kini tatapan gadis itu kosong, Ryan menghampiri Kevin yang sedang menelpon seseorang.


"apa kamu sudah menghubungi kakek ku," tanya Ryan yang merasa terpukul.


"sudah,Mbah Dikin akan mengurus semuanya bersama yang lain," jawab Kevin.


"aku tak mengira, aku akan melihatnya untuk terakhir kali, karena sudah beberapa tahun tak melihatnya," kata Ryan yang melihat keranda hijau itu dan gadis yang tetap setia duduk di sampingnya.

__ADS_1


"kamu sadar Ryan, kamu mengucapkan janji seumur hidup untuk bersama Aina,"


"ya aku sadar itu, dan aku akan menepatinya, meski dia suatu saat nanti memiliki Keluarganya sendiri, aku akan tetap menjaganya dari jauh," jawab Ryan yang selalu menepati janjinya.


__ADS_2