
Ryan sedang santai menikmati semua camilan itu di temani oleh para temannya.
"Ryan kamu gak beli belimbing, tuh anak-anak pada beli," kata Tyo.
"biarkan saja, tadi aku sudah kirim pesan ke rumah katanya gak ada yang mau, malah nitip beli getuk pisang semua," jawab Ryan.
"lah kok aneh," saut Ivan.
"tau deh, sudahlah sekarang kita ke bus yuk, dan minta teman sekelas pulang duluan, toh di sini juga gak ngapa-ngapain," kata Ryan yang langsung menuju ke meja para guru.
tentu saja Bu Lilik pun menyetujui karena dia juga sudah lelah, dan ternyata semua teman sekelas Ryan juga sudah lelah juga.
Akhirnya bisa milik rombongan dari kelas Ryan duluan, dan tentu nanti pak Edi akan memberhentikan bus di tempat oleh-oleh seperti pesan Ryan .
Setelah perjalanan sekitar satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di tempat oleh-oleh, dan yang turun giliran tim cowok.
Ryan membeli satu kresek getuk gedang, dan juga beberapa jenis keripik, entah dia memiliki uang saku berapa.
setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah, dan beberapa ada yang turun duluan karena bus melewati rumah mereka.
Begitupun Luna yang berhenti di pinggir jalan karena ayahnya yang menjemputnya di halte dekat rumah.
__ADS_1
Saat sampai di sekolah para orang tua sudah datang menjemput, bahkan Edo juga di jemput kakaknya.
"kamu beli sebanyak itu?"
"tentu ayah,kan orang yang bekerja di rumah banyak, seharusnya cukup sesuai hitungan ku," kata Ryan yang memang selalu peka terhadap sekitarnya.
"anak baik,sudah sekarang ayo pulang, dua adik mu sudah mencarinya dari tadi," kata juragan Baron yang membantu putranya memasukkan semua barang.
Dan kini pak Edi bisa istirahat lumayan karena berkat Ryan, dia pulang lebih awal.
Arena besok malam mereka harus berangkat ke Jogja, jadi dia butuh istirahat yang cukup.
Saat sampai di rumah, Ryan memilih lewat samping rumah dan segera mandi dan merendam pakaiannya yang penuh pasir.
"iya mama," jawab Ryan yang memeluk Wulan dari samping.
"kak Ian..." panggil Raina yang di ikuti Raisa.
Kedua gadis itu langsung memeluk kakaknya dengan erat, "aduh kalian sedang apa,"
"sedang main kak, bagaimana liburannya?"
__ADS_1
"sangat menyenangkan Mbah uti, tapi mana Mbah Kakung?" tanya Ryan tak melihat pak Dikin
"tanya ayah mu,"
"ah itu, Mbah Kakung sedang di peternakan karena lima sapi sepertinya mau melahirkan, ini ayah juga mau kesana," kata juragan Baron.
"kalau ayah bawa ini dan nikmati di sana, dan kripik juga, aku beli banyak," kata Ryan yang membongkar semua oleh-oleh yang dia beli.
"kakak, mama kan cuma kasih uang saku tiga ratus ribu,kenapa kamu beli oleh-oleh sebanyak itu," bingung Wulan.
"kan dari aku satu juta sayang... Mampus," kata juragan Baron keceplosan.
"ayah...."
"sudah-sudah, dari ibu dan bapak mu juga satu setengah juta, jadi tak usah marah,lagi pula Ryan pasti tak menghabiskan semua itu nak,"
"tidak habis kok, kan Ryan waktu beli nawar sambil bawa-bawa nama ayah, he-he-he,"
"dasar kamu, pasti Edi juga bantu ini, kelihatan ada tahu taqwa juga di sini," kata juragan baton mengangkat dua besek tahu.
"betul, sudah mama jangan marah,Ryan tak menghabiskan uang itu sendiri, lagi pula Ryan mengunakan uang itu untuk bersenang-senang dengan teman-teman sekelas ku,"
__ADS_1
"baiklah," jawab Wulan yang tau jika putranya itu bukan anak yang boros.
Juragan Baron berangkat setelah tahu matang di goreng dan di buatkan sambal, dan semua pegawai dapat oleh-oleh meski tak banyak.