Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
pengantin baru tapi sakit?


__ADS_3

Ryan Mengusap pelan punggung dari istrinya agar sedikit merasa nyaman.


perlahan-lahan Aina pun tertidur karena usapan itu, Rian baru pertama kali melihat Aina kesakitan seperti ini.


mungkin selama ini dia terlalu sibuk di luar, hingga kurang memperhatikan istrinya itu, dia juga sebagai seorang pria tidak pernah tahu jika kesakitan bisa membuat seseorang sampai selemah itu.


setelah melihat Aina tertidur dengan pulas, ryan pun memutuskan untuk keluar dan bertanya pada sang mama, Apa yang harus dia lakukan, untuk membantu istrinya itu meredakan rasa sakit.


"Ada apa Ryan? Kenapa mukamu pucat seperti itu? apa ada yang kamu rasakan?" tanya mama wulan melihat putranya itu sepertinya sedih.


"Aku bingung ma, aku tadi melihat Aina kesakitan, karena kram perut, seharusnya apa yang harus aku lakukan, agar bisa meringankan rasa sakitnya itu?"


"Oalah, Mama kira apa, Ya, sudah, kamu tunggu di sini, biar Mama buatkan jamu dulu, ya, ingat, jamu ini diminum saat hangat, jadi nanti pastikan dia meminumnya, ya."


"Terima kasih ya Mah, aku masih sangat merepotkan Mama, Seharusnya aku harus bisa diandalkan, tapi Terima kasih atas segalanya, Mama itu memang yang terbaik." kata Ryan yang membuat ibunya itu tersenyum senang.


Mama wulan mulai ke dapur untuk membuat jamu yang akan di berikan pada Aina.


Untungnya pon-pon di dapur masih cukup banyak, jadi dia bisa membuat jamu, tidak hanya untuk Aina, tapi juga untuk semua orang, agar tubuh mereka sedikit lebih merasa ringan, setelah kegiatan beberapa hari yang begitu rumit.


Sedang di sisi lain juragan Baron masih menerima beberapa tamu dari rekan bisnisnya, ya karena dia seorang yang cukup terkenal jadi tamu itu seperti air yang mengalir terus berdatangan tanpa ada hentinya.


Ryan menerima janu buatan ibunya itu dengan senang, kemudian membawanya ke kamar.


terlihat Aina sedang duduk bersandar di kepala ranjang,"minum dulu dek,semoga bisa meringankan ya,"


"iya mas," jawab Aina yang menerima gelas itu.


Sore hari terlihat Ajeng datang bersama mas Andi, keduanya juga mengajak putra asuh mereka juga.


"jadi kamu mau pamit pulang dulu," kata Ajeng yang pamit pada sepupunya itu.


"kenapa buru-buru, seharusnya kalian di sini dulu lah beberapa hari lagi," kata mama Wulan yang tak mau saudaranya itu pulang cepat.


"ayolah mbak, kami juga punya kegiatan di rumah, nanti kalau ada kesempatan lagi, kita bertemu ya," kata Ajeng yang memang tak terlalu lama bisa di sana karena dia juga punya pekerjaan.


Ya setelah kematian dari ibu mertuanya, kini Ajeng dan sang suami mengelola toko dan juga kolam lele yang ada di belakang rumah.


Bahkan mas Andi juga sudah membereskan semua warisan orang tuanya, karena tak ingin ada masalah nantinya.


terlebih semua adiknya itu juga membutuhkan, dan setelah di bagi rata, karena mas Andi tak mau dosa karena mengambil harta milik saudaranya.


Ajeng kaget saat nama Wulan memberikan banyak oleh-oleh untuk mereka, "tolong bagikan pada saudara-saudara mu ya, sudah...", kata mama Wulan yang melihat sepupunya itu ingin menolak.


"terima kasih ya mbak, kamu itu selalu baik padaku," kata Ajeng yang merasa tak enak.


Ajeng dan keluarganya pamit dan meninggalkan rumah sepupunya itu.


mama Wulan masuk dan melihat kondisi Aina, ternyata gadis itu sudah tidur dengan nyaman.

__ADS_1


"apa semuanya sudah membaik?" tanya mama wulan.


"iya ma, dia sudah tenang dan wajahnya tak sepucat tadi,"


"ya sudah, sekarang kamu keluar tadi sepertinya ada om Bambang yang datang bersama keluarganya, kamu harus menyapanya bagaimana pun mereka itu juga saudara kita,"


"ya saudara yang hanya datang jika butuh kan," kata Ryan yang membuat mama Wulan tersenyum singkat saja.


Ya karena yang di ucapkan oleh Ryan itu benar, bagaimana tidak pria itu dulu tak pernah mencari dirinya saat ada di bawah.


Tapi saat sekarang semuanya sudah baik, pria itu datang dan mengatasnamakan saudara, di tambah Bu pawoh yang tak bisa menolak karena pria itu adalah adiknya.


Ryan pun keluar dan sudah di sambut oleh semua orang, "wah ini dia penggantinya," tegur pria bernama pak Bambang itu


"iya kakek, lama ya kita tak bertemu,halo Bayu," kata Ryan bersalaman dengan putra pak Bambang.


"hai juga, tak ku sangka akhirnya Aina di nikahi oleh kamu sendiri ya,"


"ya mau bagaimana lagi, aku memang sudah menyukainya dari kecil," kata Ryan tegas.


Tapi di sisi lain, ada seorang gadis yang dari tadi membuang muka dari Ryan.


Ya dia adalah putri terkecil pak Bambang yang juga mencintai Ryan,tapi dia sudah kalah karena sekarang pria itu sudah menikah.


"loh kok sendirian,mana pengantin perempuannya," tanya Bu Bambang yang tak melihat Aina.


Padahal mereka datang untuk melihat gadis seperti apa hingga bisa membuat Ryan jatuh cinta.


"istriku sedang kurang enak badan,dia kelelahan," jawab Ryan yang membuat semua orang berpikiran yang aneh.


"benarkah, wah ternyata pengantin baru ini gas terus ya, sampai sakit," kata pak Bambang yang membuat semua tertawa.


"ya begitulah,maklum pengantin baru," kata Bu pawoh yang duduk di samping pak Dikin.


Mama Wulan datang bersama salah satu orang yang bekerja di rumah itu


Mereka menyuguhkan beberapa makanan yang baru matang,tak lama ternyata Aina juga keluar dengan wajah yang sudah segar.


"loh dek, kamu keluar, sebaiknya istirahat saja," kata Ryan kaget melihatnya.


"sudah mas, aku capek di suruh di kamar terus," kata Aina yang membantu sang ibu mertua


"ini dia pengantin wanitanya, masak iya kalian tak tau," kata Bu pawoh yang melihat keterkejutan dari kedua orang itu.


"loh bukankah dia harus yang mbak anggap sebagai anak,tapi kenapa malah menikahkan dia dengan Ryan,"


"memang kenapa, toh tak ada hukum yang .membuat mereka tidak boleh menikah, toh mereka tak punya hubungan saudara dan darah,"


Jawaban dari pak Dikin membungkam semua orang, bagaimana tidak, dia sudah tau segalanya.

__ADS_1


Nindy tak bisa mengatakan apapun, tentu saja dia akan kalah telak jika harus di bandingkan dengan Aina.


Pasalnya dia yang sekolah di tempat yang sama tau benar bagaimana prestasi gadis itu.


Di tambah Aina ini bisa di bilang kesayangan para guru, dan doa masuk jajaran murid terbaik di sekolah, bahkan sering mewakili sekolah mereka dalam lomba apapun.


"oh ya dek,Nindy ini sekolah di madrasah Aliyah yang sama dengan mu,apa kamu tak mengenalnya?" tanya Ryan yang ingin membuat keluarga itu sadar tempatnya.


"kalau boleh tau, mbak itu kelas apa, karena di kelas ku tak ada yang bernama Nindy," kata Aina dengan sopan.


"dia kelas D, seharusnya kalian kenal karena dia itu murid yang pintar,bahkan dia itu sering di minta untuk ikut lomba matematika," kata pak Bambang membanggakan putrinya.


"benarkah, setahuku aku tak pernah melihat mbak ini ikut bimbingan,karena sekolah selalu mengadakan bimbingan sebelum siswa atau siswi mengikuti lomba, apa mungkin aku yang tak ingat ya," kata Aina yang membuat keluarga itu melihat putri mereka.


"ya karena kamu terlalu sombong,bahkan saat istirahat saja,kamu tak pernah menyapa siswa yang lain," kata Nindy yang membuat Aina tersenyum.


"ya karena saya sebisa mungkin tidak menjawab sapaan para pria, dan saya memang jarang ke kantin karena selalu menghabiskan waktu istirahat di masjid atau perpustakaan, maaf jika itu di sebut sombong," kata Aina sopan.


tentu saja jawaban itu membuat semua orang diam, tapi mama Wulan juga tau jika gadis itu selalu berkegiatan yang manfaat.


"sudah karena mereka kelas berbeda, jadi mungkin mereka ini tidak saling kenal, nduk tolong ambilkan sovenir untuk keluarga Mbah lek kalian,"


"inggeh mama,"


Aina pun mengambilkan tiga tas sovenir pernikahannya, dan memberikannya pada mereka.


Akhirnya setelah beramah tamah,keluarga pak Bambang pun pamit pulang.


Nindy merasa kesal karena dia lagi-lagi kalah telak dari Aina, "ayah, aku ingin menjadi istri mas Ryan, ayah tolonglah..." mohon gadis itu dengan sedikit merengek.


"sudah diamlah,ayah akan mencoba untuk melakukannya," kata pak Bambang yang tau jika Aina itu yatim piatu jadi mungkin mudah baginya membuat gadis itu menyingkir dengan sedikit fitnah.


Tapi dia harus menunggu waktu yang tepat, karena tak semudah itu membuat Ryan mendatangi rumahnya.


Ryan mengajak istrinya itu untuk duduk di sampingnya, karena akhirnya para tamu ini sudah selesai


"Ryan, bukankah kalian dapat banyak kado, tidak ingin membukanya?" tanya Bu pawoh.


"bima ikut bantu buka!" kata bocah itu dengan semangatnya.


"tapi aku sudah mengantarnya ke rumah yang akan kami tinggali,jadi di sini sudah tak ada,"


"dasar kamu Ryan,bilang saja tak mau di lihat apa isi hadiahnya,"kata juragan Baron.


"menang benar, ya sudah aku akan pindah setelah selesai pendak pasar,"


"ya sudah terserah,tapi kalian akan pergi berbulan madu kemana," tanya Bu pawoh.


"kamu akan ke Jogja ya sekitar tiga malam empat hari,"

__ADS_1


"bagus, dan semoga cepat ada kabar baik ya,"


"aamiin...." saut semua orang.


__ADS_2