Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
kondisi keluarga


__ADS_3

Andika pun terbangun dan lagi-lagi tak melihat wanita itu di sisinya, dia pun mengeluarkan tangannya dari bantal cinta miliknya.


Saat dia keluar ternyata Wati sedang repot dengan Aina terdengar dari suara teriakan bocah itu yang tak mau mandi.


Andika yang tak pernah tau apa yang harus di bawa untuk melamar pun bingung, dia ingat jika dulu semua di siapkan oleh mantan istrinya itu.


jadi dia memilih untuk menelpon Wulan ya setidaknya wanita itu yang berpengalaman untuk urusan seperti itu.


Dia pun menghubungi wanita itu, "assalamualaikum.." salam Wulan dari sebrang telpon terdengar sangat lembut.


"wa'alaikumussalam... Kenapa suara bidadari satu ini begitu lembut ya," goda Andika yang ternyata langsung dapat sebuah bentak kan.


"kamu mau nayi pagi-pagi sudah menelpon istri orang Cok!" suara dari juragan Baron Nada tinggi.


"sori sori bos ku, aku cuma mengatakan yang baik loh, kenapa pagi-pagi sholawat Jawa anda keluar,"


"gak usah vasa basi Cok, lapi telpon istri ku pagi-pagi gini?" tanya pria itu dengan nada ketus.


Wulan yang kesal dengan suaminya pun, langsung memukul kepa suaminya itu dengan tangannya sendiri.


"ngomong sama orang itu yang sopan," kata wulan yang tak suka.


"he-he-he aku mau tanya, kalau mau melamar wanita itu aku perlu bawa apa," tanya Andika terang-terangan.


"ya terserah dirimu, tapi kalau aku dulu bawa perhiasan, kopi gula itu adat kota kita, tetel dan ketan salak, dan kue, oh ya jangan lupa peniset,"


"hei apa itu semua, gak ada yang lebih simpel gitu yah?" tanya Andika sudah pusing sendiri.


"ya ada tinggal kasih uang beres, tapi perhiasan dan gula kopi itu wajib Bing, itu bukti keseriusan mu," kata juragan Baron.


"memang kenapa kok kayaknya buru-buru sekeli, kamu sudah gak kuat menduda," tanya pria itu.


"hei sialan, gak usah menghina ya, kamu sendiri juga tak kuat menduda," kesal Andika.


"emang," kata juragan Baron yang terus berbincang dengan pria itu.

__ADS_1


hingga tiba-tiba wati datang dan mulai memberikan obat lagi, dan suara yang di buat oleh Andika membuat juragan Baron kaget.


"ah...pelan sakit sekali, kamu mengenainya, dan jangan di gigit," kata Andika.


"lah si goblok, kenapa kamu melakukan begituan saat telpon dengan ku," marah juragan Baron yang menutup telpon dari Andika.


padahal Andika sedang di obati, dan Aina yang mengingit lengan papanya itu dengan kuat.


"dia gila ya, dan hentikan Aina papa sakit," kata pria itu yang tak tau kenapa bocah itu begitu suka mengigit tubuhnya.


Seperti saat membuatnya dulu dia tak melakukan adegan gigit mengigit deh.


akhirnya mereka sarapan bersama setelah bersiap, Seno dan istrinya di minta untuk datang ke rumah Andika.


"ini mau kemana juragan, itu tangan belum sembuh loh," kata pria itu heran.


"Sudah ikut saja, tdpi nanti kita mampir ke toko mas yang ada di pinggir jalan saja ya," kata Andika


Seno dan istrinya tak mau berburuk sangka, jadi dia pun mengikuti perintah bosnya itu


Sesampainya di tempat toko perhiasan, Seno dan istrinya di minta membeli gula dan kopi.


Setelah membayar dengan kartu debit mereka pun menunggu di mobil, dan ternyata seno membeli satu kotak dus minuman kemasan yang berisi gula, kopi dan juga ada beras dan juga beberapa hal yang lain.


"kita berangkat bos, tapi kemana?" tanya pria itu masih belum tau.


"kita ke rumah Wati, dan tolong kamu akan mewakili ku sebagai keluarga ku," kata Andika yang langsung membuat dia dan istrinya.


Mobil pun menuju ke rumah yang cukup jauh dan juga bisa di bilang pedalaman.


Bahkan mobil saja sangat ngepres untuk masuk jajan kampung yang masih masih berupa tanah.


Tapi terlihat beberapa rumah sangat bagus dan terlihat Aina trus diam dan bermain dengan Wati.


Bahkan di dalam mobil pun tak ada yang bicara atau mengetahui sesuatu semuanya diam.

__ADS_1


Hingga seno menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan bangunan Kokoh.


meskipun lantai masih berupa lantai semen tapi rumah itu sudah kayak gini, dan Andika melihat ke arah Wati.


"uang sebanyak itu hanya bisa membuat rumah seperti itu?" tanya Andika yang mengejutkan Seno dan istrinya.


"tidak mas, aku memang hanya memberikan sedikit kan aku baru bekerja, mereka bisa curiga jika aku memberikan uang sebanyak itu begitu saja," kata Wati yang membuat Andika paham.


"ya kamu hebat, ayo kita turun," kata Andika.


Mereka semua turun tapi anehnya Aina tak mau lepas dari gendongan Wati, bahkan saat adik-adik dari Wati menyambut mereka.


Terlihat sang nenek juga baru pulang dari toko kelontong dan belum terlalu tua, Andika dengan sopan menyapa mereka.


bahkan orang tua dari istri Seno juga datang melihat bos Dati menantunya yang terkenal kaya dan baik itu datang ke rumah Wati.


"ada apa ya mas, kok ini rombongan datang seperti ini, apa Wati melakukan kesalahan mas," tanya wanita sepuh itu dengan sungkan.


"tentu saja tidak Bu, saya datang kesini malah ingin mengutarakan hal baik, semoga ini bisa di terima oleh semuanya yang di sini menjadi saksi, saya ingin menikahi Wati, karena dia membuat saya sadar jika perubahan dia sudah bisa masuk kedalam hidup ku dan putri saya," kata Andika yang mengejutkan semua orang.


"apa mas... anda gak salah kan, kamu ini cuma orang miskin," kata nenek Wati.


"saya juga bukan orang kaya dari lahir Mbah, saya hanya tau jika saya dan putri saya sudah bergantung dan sangat menyukai Wati, jadi tolong terima lamaran kami," kata juragan Baron.


"saya tidak bisa menjawab, semua terserah anaknya mau atau tidak, karena saya tidak ikut menjalani, yang menjalani wati mas," kata nenek wanita itu.


mendengar itu Andika tersenyum, "bagaimana Wati kamu mau?" tanya Andika.


"sebelum aku jawab,tadi pagi mas menelpon siapa hingga terdengar sangat lembut," kata Wati bertanya tanpa sungkan.


"ah tadi kamu dengar ya, itu tadi aku menelpon istri juragan Baron untuk bertanya tentang lamaran, tapi malah tang menjawab juragan Baron jadilah kami sangat gila saat bicara, dan aku senang kamu bertanya begitu di banding ada kesalahpahaman," kata Andika yang malah menunjukkan cinta.


"baiklah aku terima, Aina mau dengan ku?"tanya wati


"ma... ma..." kata Aina memeluk gadis itu erat.

__ADS_1


Akhirnya pertunangan di lakukan, dan karena tak mau repot jadi dia langsung meminta pernikahan secara agama dulu.


Dan siang itu Seno mengurus surat milik Wati untuk bisa menikah dengan Andika, semua lancar jika ada uang 🤭🤭🤭.


__ADS_2