
Pak Dikin masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi, terlebih menantunya itu sangat di permalukan.
"jika kalian mau, lebih baik tinggalkan desa saja, karena itu lebih baik daripada kalian tetap di sana, karena warga desa di sana sudah sangat menyebalkan," kata pak Dikin.
"tidak pak, aku tak peduli mau mereka menghina ku, atau apalah itu, karena aku lahir dan besar di desa itu, jadi aku akan tetap di sana," jawab juragan Baron.
"aku juga pak, tapi ada satu hal yang mungkin akan berubah," kata Wulan yang memang skan sulit memaafkan semua orang.
"apa yang akan kamu lakukan nduk,"
"yang seharusnya," jawab Wulan yang tampak masih sangat marah.
Ya siang itu, semua orang kaget karena mereka di pecat mendadak, dan juga stok bantuan yang di berikan di hentikan.
Bahkan untuk biaya beasiswa beberapa anak, Wulan tak main-main dengan apapun, jika dulu dia selalu membujuk suaminya.
Kini dia yang bertindak, karena suaminya yang sudah mengelontorkan banyak uang malah di perlakukan buruk seperti ini.
Para kampung yang tadi pagi melakukan pengerebekan sekarang sedang duduk berkumpul di warung.
Mak Tun yang melihat para bapak-bapak itu berkumpul sedikit heran, karena ini masih jam kerja.
"ini pada di sini, tak ada yang kerja?" tanya wanita itu penasaran.
"tidak Mak, kami baru di pecat," jawab salah satu orang.
"loh bukannya kalian di peternakan ayam dan rumah pemotongannya?" tanya mak tun yang begitu mengenal warga itu.
"kamu di pecat, karena pabrik memberitahu jika kami melakukan beberapa kesalahan, dan tadi di tambah kami telat masuk kerja sebab ada pemberitahuan untuk masuk pagi tapi kami tak datang," kata yang lain.
"wah kalian kok apes banget ya, padahal sulit sekali masuk ke tempat itu loh," kata Mak tun.
Tiba-tiba salah satu pemuda ingat ucapan Wulan, "apa jangan-jangan ini semua karena kita yang tadi pagi melakukan hal buruk pada juragan Baron, kalian ingat juga kan?" tanya pria itu.
__ADS_1
Semua pun diam, mereka tak menyangka jika akan secepat ini menanggung semua yang telah mereka lakukan.
Tak lama giliran rombongan lain,bahkan suami istri yang juga mengalami hal yang sama.
Kini semua menyesali apa yang sudah terjadi, tapi tentu semua sudah terlambat untuk itu.
Karena kesalahan mereka menerima uang seratus ribu demi mempermalukan seorang yang berkuasa di desa itu.
Kini mereka yang menanggung akibatnya, bahkan di sekolah semua siswa yang mendapatkan bantuan pun malu.
Karena pihak sekolah menagih biaya pendidikan mereka, sebab sekolah tak menerima pembayaran dari Wulan dan juga wanita itu menghentikan bantuannya.
dan hari itu semua desa Keos, bahkan Bu pawoh yang di rumah pun hanya santai menjaga kedua cucu cantiknya.
"permisi, bisa kami bertemu dengan ibu juragan dan juragan Baron," tanya para warga yang tak tau malu itu.
"Azizah masuk, dan mereka tak ada, pergi saja," usir Bu pawoh
Sedang penjaga rumah juga di jaga oleh dua orang yang berbadan besar.
tiba-tiba rombongan juragan Baron datang dengan pengawalan polisi, bahkan para warga pun menyingkir karenanya.
Saat semua kendaraan masuk ke pekarangan rumah pun, warga masih ingin mencoba masuk ke dalam rumah pria itu.
Tapi tentu saja mereka langsung di gadang dan di dorong untuk mu diri, dan gerbang rumah langsung di tutup kembali.
"usir mereka semua," perintah Wulan yang langsung di laksanakan oleh Wawan, pak Sardi dan juga para anak buah juragan Baron yang sudah menjadi orangnya lama.
semua orang masuk kedalam rumah, terlihat Raisa dan Raina langsung berlarian kecil kearah ayah mereka.
"tumben sekali hari ini ayah yang di peluk dulu sebelum mama," kata juragan Baron yang kaget.
kedua balita itu benar-benar tak mau melepaskan diri dari ayah mereka. "sepertinya mereka tau jika ayahnya sedang sedih ya, jadi memilih bersama ayah untuk menghibur ayahnya," kata Wulan yang membuat juragan Baron tiba-tiba menangis sedih
__ADS_1
Dia tak menyangka akan menghadapi kasus memalukan seperti ini.
Tapi ini bukan salahnya, tapi salah semua orang yang demi uang mau melakukan hal men-ji-jik-kan itu.
"jadi ibu juragan, apa kasus ini akan terus berlanjut," tanya pihak kepolisian yang membawa surat penangkapan.
"tentu saja, suamiku terluka, dan juga anak buahnya, karena aku tak akan memaafkan siapapun lagi, aku tidak akan mentolerir siapa pun lagi sekarang," kata Wulan datar dan tegas.
Bu pawoh tak menyangka jika putrinya itu sudah muak, jadi kini dia seperti menjelma menjadi sosok dari ayah mertuanya.
"Wulan aoa tidak bisa di pertimbangkan lagi," mohon Bu pawoh.
"cukup Bu, kami selama ini selalu baik, mereka selalu mengemis saat tak bisa makan atau tak punya pekerjaan selama ini dan kami langsung memberikan pekerjaan tanpa tebang pilih, tapi lihat balasan mereka, hanya demi uang seratus ribu mereka rela membuat orang yang membantu mereka menjadi tontonan serta di permalukan separah ini," kata Wulan yang menghapus air matanya
"kaku berubah nak," bentak Bu pawoh.
"aku begini karena siapa, cukup semua orang terus menghina dan menginjak ku!! Sekarang tidak akan ku biarkan siapa pun mengusik keluarga ku, terutama anak-anak ku, karena Mereka semua hidupku," jawab Wulan yang membuat Bu pawoh terkejut.
Karena baru kali ini dia melihat sosok putrinya yang begitu keras kepala.
Para polisi pun bergerak untuk menangkap warga yang menyerang juragan Baron dan Rojak dengan batu.
Bahkan tak ada kata pandang bulu, mau itu laki-laki dan perempuan, dan semua total ada dua puluh lima orang.
Dan itu terdiri dari laki-laki dan perempuan juga, semua warga yang melihat adegan itu tak menyangka jika keluarga juragan Baron yang biasanya begitu baik.
Kini menunjukkan siapa dirinya karena ulah warga itu sendiri. Pak Dikin yang melihat istrinya sedih pun tau perasaan wanita itu.
"apa kamu rasa jika perbuatan dari Wulan ini salah?" tanya pria itu.
"tentu saja tidak mas, tapi aku tadi sempat takut, karena aku melihat sosok mertua ku di diri Wulan, jika itu terjadi, aku takut dia akan jadi orang yang tidak bisa si kendalikan setelah ini," kata Bu pawoh.
"jangan berpikiran seperti itu, dia hanya keras karena dia ingin melindungi keluarganya, lihatlah sekarang dia tetap seorang istri, dan betapa dia seperti dirimu yang sangat memanjakan pasangannya," kata pak Dikin yang membuat Bu pawoh sedikit tenang
__ADS_1
Pasalnya mereka melihat sekarang juragan Baron yang sedang di suapi oleh istrinya.
Bahkan telihat keluarga itu penuh tawa dan tak terlihat sedikitpun masalah yang mereka hadapi