
Rian masih mengawasi bersama seluruh pasukannya, dia menunggu waktu yang tepat untuk memberikan mereka semua.
Beberapa orang tampak sudah bersiap untuk pergi, dengan membawa barang untuk meninggalkan tempat itu.
pras memecah tim dan meminta mereka menyergap para wanita itu terlebih dahulu, dan memastikan mereka di tempatkan jauh agar tak mengganggu.
Sedang tim inti mengurus para pria yang berada di basecamp itu, terlihat Ryan dan tiga anak buahnya sudah memakai rompi anti peluru.
Tanpa menunggu lama, mereka langsung segera merangsek masuk dan menyergap semua orang, mereka semua tampak tak berdaya menghadapi tim milik ryan.
tanpa babibu dan pandang bulu Ryan membersihkan segalanya bahkan dia menghajar semuanya hingga tak berdaya.
"seret dan buat mereka tak berkutik," perintah Ryan yang selalu bermain secara rapi.
tiba-tiba kantor polisi kedatangan sebuah mobil box yang datang secara misterius.
Bahkan supirnya langsung lari setelah memarkirkan mobilnya itu, dan saat di periksa.
Pihak polisi itu kaget melihat banyaknya orang yang ada di dalam mobil box itu.
Dan saat para pria yang terikat itu di keluarkan, mereka menemukan barang haram di antara mereka.
"Kira-kira Siapa yang melakukan ini ya," kata kepala kantor polisi yang merasa bingung.
Pasalnya mereka yang ada di dalam mobil box langsung mengaku dan tak mau di maafkan, bahkan lebih memilih mati di bandingkan bebas.
"Bos, ini yang para wanita, kami harus bagaimana?" tanya Pras yang sudah mendapat laporan dari para anak buahnya.
"Biarkan dulu di tempat mereka saat ini, dan pastikan mereka tidak bisa lari, karena aku harus pulang, untuk memastikan istriku belum bangun,"jawab Ryan yang membuat para anak buahnya mengangguk mengerti.
Ryan pun bergegas pulang, dan sebelum masuk rumah, dia sudah membersihkan dirinya dan menyimpan segalanya di ruang khusus yang sengaja dia buat di rumah itu.
Baru juga keluar dari kamar Rahasianya sudah melihat Aina yang sedang duduk santai di anak tangga.
wanita itu tampak tersenyum ke arahnya, tanpa bilang apapun atau bertanya hal aneh.
"Kamu sedang apa Dek di sana? Kenapa tidak bisa tidur? Hem..." tanya Ryan dengan suara lembut seperti biasa
"Bagaimana aku bisa tidur mas, karena pasangan yang ada di samping ku saja tiba-tiba menghilang. Dan saat aku mencarinya, kok malah melihat Mas keluar dari kamar itu, padahal itu kamar tamu, apa Mas menyembunyikan sesuatu dariku," tanya Aina dengan jelas dan tenang.
"Tentu saja tidak ada yang ku sembunyikan, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu dek, jika tak percaya periksalah," kata Ryan dengan tegas.
"Entahlah mas, aku memang sedikit sensitif belakangan ini, dan aku hanya penasaran saja kenapa kamu bisa tak ada, dan keluar dari kamar itu, sudah jangan dibahas lagi, Ayo kita naik dan istirahat." ajak Aina dengan mengandeng lengan Ryan.
Ryan pun hanya bisa menghela nafas, dia tidak mungkin mengatakan jika dia punya sisi gelap seperti itu, jika sampai Aina tau, mungkin istrinya itu bisa berbahaya untuknya nanti.
Keesokan paginya, Aina sudah memasak dibantu Raina. keduanya memasak sarapan untuk satu rumah.
Bahkan bima tampak tenang dan tak rewel, saat berada di rumah Ryan dan Aina, beda dengan halnya saat di rumah sendiri, bocah itu sering menangis tanpa tahu apa yang diminta.
"Kamu hari ini kuliah berangkat sendiri, atau mas antar, kalau mas antar Nanti kita sekalian jalan-jalan, setelah kamu pulang dari kampus," tanya Ryan pada istrinya saat mereka sedang di meja makan.
__ADS_1
"Ya kalau mas mau mengantar ya Monggo, kalau gak mau nganter nggak masalah, tapi kalau mas mau mengantar, ajak adik-adik semuanya juga, karena kita mungkin akan jalan-jalan setelah jam sepuluh, apa mereka mau menunggu ya kira-kira?" kata Aina yang merasa tak enak sebenarnya
"Tentu saja akan menunggu, jika mereka tidak mau menunggu, ya tidak usah jalan-jalan saja, duduk saja di rumah dengan manis seharian, aku juga tidak mau jika aku harus membawa mereka bertiga keluar tanpa dirimu, bisa pusing aku mengawasi tiga bocah kematian ini, terutama di bocah kecil tak bisa diam itu," kata Ryan menunjuk bima.
"aku loh anak pintar dan penurut," kata Bima dengan suara mengemaskan.
"itu cuma pada mama, Aina dan Oma," ketus Ryan.
"mas gebar, jika dengan kami bertiga, jamu akan bertingkah menyebalkan," tambah Raina.
"he.... Hiks.. hiks... hiks... Mbak Aina, mereka semua jahat..." tangis bima.
"aduh sayang mbak yang ganteng, cup cup cup,jangan menangis ya," kata Aina yang memeluk bima.
Ryan yang melihat itu kesal dan membuat sendok di tangannya hingga bisa bengkok dengan ibu jarinya.
melihat itu Raisa dan Raina langsung diam, sedang bima pun langsung menunduk takut.
"mas... jangan melotot begitu, lihat ketiga adik ku jadi takut kan,"
"iya sayang, maaf," jawab Ryan tersenyum.
Tak...
Ryan sudah mematahkan sendok itu dengan tangannya, Aina yang melihat itu bergegas menghampiri suaminya.
"mas bagaimana bisa, apa kamu terluka," panik aina.
"tidak kok," jawab Ryan.
Saat sampai ternyata sudah ada Laila, yang juga diantar oleh Kevin.
Dan tampang bodoh Kevin pun membuat Ryan kesal, karena Malam tadi dia tak bisa melakukan apapun bersama istrinya.
"Ho-ho-ho-ho-ho tumben sekali, masih pagi yapi sudah bawa rombongan begitu, mas bro memang mau kemana? mas bro kenapa adiknya rentengin begitu? kata Kevin yang membuat kesal.
"kau kira adik ku sampo sachet, Menurutmu mau kemana kami, tentu saja kami mau karyawisata, tapi sayangnya nggak ada libur untuk istriku ini, jadi kami harus menunggu dia pulang dari kampus," jawab Ryan ketus
Kevin sadar jika ryan sedang tidak dalam suasana hati yang baik, "Kamu kenapa sih orangnya masih pagi kok sudah sensitif amat ya, sudah biarkan mereka masuk agar segera cepat pulang, kita mau pergi dari sini atau menunggunya disini," tawar Kevin.
"aku tak segila itu, sebaiknya kita pergi saja, dari pada menunggu disini, dan menerima pandangan aneh, aku tak suka dengan cara mereka melihat ku, dan tatapan para wanita di sini sangat menjijikkan," terang Ryan
"Baiklah aku mengerti, apa kamu punya tugas baru,"
"tugas selalu ada, tapi kamu tidak akan bisa melakukan, karena ini bisa mengancam nyawa ku, dan tentu kamu tau peraturannya, sekali sudah menikah maka tak boleh mengambil pekerjaan yang beresiko kematian," ujar Ryan.
"memang ada pekerjaan darimu yang tidak bersikap kematian kamu lucu teman," kata Kevin tertawa
"itu memang benar, tapi kamu ada satu hal yang kamu lupakan, berhenti membahas pekerjaan itu saat ada keluargaku, terutama para bocah ini, Dan selama aku bersama para bocah ini sebisa mungkin tutup mulut mu," kata Ryan yang langsung masuk kedalam mobil miliknya dan pergi dari sana.
"Baik pak bos, aku mengerti," kata Kevin yang melihat mobil mewah itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Mereka pun memilih ke sebuah cafe untuk menunggu para istri Mereka, ternyata benar tak butuh waktu lama untuk para istri ini selesai , bahkan kopi mereka hanya baru datang.
karena Laila dan Aina hanya absen dan melakukan beberapa hal, dan sedikit kegiatan fisik kemudian mereka boleh pulang.
"Kalian ini kok yo lucu yang minum kopi saja baru datang kopinya kalian sudah selesai,"
"Karena kami datang tepat waktu, dan hasil cek fisik kami juga cukup baik, makanya kami bisa pulang lebih awal, dan jika kami tidak kuat melakukan push up sebanyak sepuluh kali, maka kami akan masih ditahan di dalam, untuk membuktikan kekuatan fisik kami lagi dengan cabang olahraga yang lain," jawab Laila.
Aina sudah repot dengan ketiga adiknya, terlebih Bima yang sudah Cemong wajahnya, karena memakan cake coklat.
Setelah itu, mereka bergegas untuk pulang, tapi tiba tiba Reina dan Raisa mengusulkan untuk mereka pergi ke taman bermain yang ada di dalam ruangan saja.
mengingat ini sudah mulai musim penghujan dan tak mau jika harus main ke tempat becek.
"berarti ini tidak jadi ke kebun Ratu, tapi ke tempat permainan di keraton ya, setuju?" tanya Ryan memastikan.
"Iya mas, kami nggak mau nanti kehujanan saat naik di kebun ratu, tapi lebih aman kan jika di dalam ruangan mas, aku mah ikut anak-anak saja, kan mereka senang kita tenang,"kata Aina.
"baiklah kita ke keraton," jawab Ryan
"sudah puas kan, Kalian itu memang pintar kalau soal melobi, oh ya nanti saat kita ke Keraton, sekalian nanti beli baju baru untuk adik-adik ku ini ya mas, kalian mau kan?" tawar Aina.
"Yakin boleh nih mbak?" tanya Raisa memastikan.
"Iya beli saja, kan Mbak aina sudah bilang boleh, jadi tak usah bertanya lagi, mengerti kan," kata Ryan .
"Siap bos, kalau begitu terima kasih..." kata ketiganya dengan semangat.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud, tentu saja ketiganya, langsung lari ke arah Play Zone.
Aina membeli koin seharga seratus ribu rupiah, dan membagikannya secara rata pada ketiga orang itu.
Dia dan Rian memilih untuk duduk santai, sambil mengawasi ketiganya bermain kesana kemari.
Berapa kali Bima meminta tolong pada Aina, untuk membantunya bermain jika tidak mengerti.
Karena bosan sendirian, akhirnya Ryan memilih membeli Koin lagi, dan dia pun main sendiri.
Tanpa diduga, pria itu malah beberapa kali mendapatkan jackpot, dan memiliki tiket yang cukup banyak.
Hal itu, membuat ketiga adiknya merasa bahagia dan senang. karena pasti mereka bisa membawa hadiah besar.
Ujung-ujungnya yang dapat menukarkan hadiah adalah Bima, ya setelah mereka berunding, akhirnya di putuskan tetap yang terkecil yang menang.
Awalnya Ryan dan dua saudarinya itu tak bisa menerima itu, tapi Aina berhasil membujuk ketiganya dengan sesuatu.
dia sudah menjanjikan sesuatu pada Ryan, dan untuk kedua adik perempuannya, dia akan memberikan sepatu yang mereka inginkan, tak peduli mereknya dan modelnya.
Ryan pun yang mendengar tawaran dari istrinya itu, langsung mengiyakan, karena pasti dia yang akan sangat bahagia,
Karena setelah ketiga adiknya itu pulang ke rumah orang tuanya. Dia bisa menikmati waktu berdua dengan aina tempat ada yang mengganggu.
__ADS_1
Bahkan dia sudah memikirkan hal-hal aneh di otaknya, Aina yang melihat suaminya yang sudah tersenyum menyeringai, membuatnya merinding karena takut jika suaminya itu ingin melakukan hal aneh-aneh.
Tapi hanya itu yang bisa di tawarkan, dari iada bima yang nge-reog bikin malu, dua rela melakukan apapun permintaan suaminya itu.