
Di sisi lain,sore tadi Ajeng sedang menunggu seorang pengembang yang sedang memperbaiki gorong-gorong dan juga jalan desa.
mas Andi panggilan pria itu tang kini memang sedang dekat dengan Ajeng,dan wanita itu sudah tak melakukan pekerjaannya.
"ah maaf aku telat ya dek," kata pria itu yang ternyata juga seorang duda tanpa anak.
"tak masalah mas, kita mau kemana ke pasar makan saja kan?" tanya Ajeng.
"iya tidak sebenarnya, sudah naik dulu," kata mas Andi yang langsung membawa Ajeng pergi.
Ternyata mereka menuju kesebuah desa yang cukup jauh,bahkan perjalanannya saja membutuhkan satu jam.
akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana tapi sangat luas,bahkan pekarangan rumah itu juga sangat luas hingga di buat kolam-kolam ikan.
"loh mas, ini rumah siapa?" tanya ajeng terkejut.
"ini rumah orang tua ku, ini bawalah sebagai oleh-oleh untuk ibuku," kata mas Andi dengan santai.
"mas tapi kamu Jan tau jika aku..."
"sudah kita pasti punya masa lalu, jadi aku tak mempermasalahkan hal itu, ibu juga orangnya asik kok,ayo masuk," ajak Andi.
Ajeng pun merasa malu, jadi mas Andi memberikan jaketnya pada wanita itu agar tampak sopan
benar saja, ternyata ibu dari pria itu sangat santai dan adik,bahkan Ajeng yang baru menyapa saja langsung dapat pelukan hangat.
"ayo masuk,anggap rumah sendiri, ini Ajeng ya le, wanita yang jamu ceritakan,"
"iya Bu," jawab pria itu malu-malu.
"sebelumnya saya minta maaf ya Bu, karena mas tadi gak bilang kalau mau di ajak bertemu dengan ibu,eh malah sekarang sudah sampai di sini saja," kata Ajeng.
__ADS_1
"tidak masalah, ibu tak masalah,bertemu dengan mu saja ibu sudah senang," kata wanita itu.
Ajeng merasa di terima, bahkan adik-adik Ando ini semuanya welcome, dan yang membuat Ajeng kaget adalah usia pria itu yang ternyata sudah hampir kepala empat.
tapi masih awet muda dan membuatnya mengira jika pria itu masih berusia awal tiga puluhan tahun.
mereka berbincang dan makan bersama akhirnya hari semakin malam dan mas Andi serta Ajeng harus pamit pulang.
awalnya ibu Andi ingin Ajeng menginap, tapi mas abdi putranya besok harus mengawasi pekerjaan di proyek.
Jadi dia mengizinkan keduanya pamit pulang,"wah mas Andi ini pintar cari istri, ada orang bisa bohay begitu ya Bu, depan-belakang penuh gitu," kata adik ipar mas Andi.
"itu kan memang kesukaan mas mu," kata ibu pria itu yang tersenyum.
Mereka sempat beli jagung bakar dan martabak untuk Mak tun di rumah.
"dek, sekarang jangan kerja lagi yang salah ya,mulai sekarang kamu aku penuhi jajan mu tapi ya jangan berlebihan gak baik, ya aku memang tak kaya, apa kamu mau," tanya mas Andi dengan serius.
"iya mas aku mau, asalkan mas Andi setia aku akan menerima mas," jawab Ajeng yang ingin berubah.
Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang, dan ternyata Mak tun sedang menunggu kedatangan putrinya itu.
"dari mana kalian malam-malam begini,dasar kalau pacaran ingat waktu," teguran yang di layangkan.
"sebelum menegurku yang sudah bukan remaja lagi, tuh usir dulu berondong mu, kenapa memamerkan tubuh yang krempeng begitu, bikin kesal saja," marah Ajeng yang seolah menantang ibunya.
"kaku berani dengan ibu Ajeng!!' marah Mak tun.
"cukup Bu, aku pergi untuk menemui orang tua mas Andi," kata Ajeng.
"benar Mak, maaf seharusnya saya pamit, saya sebenarnya ingin mengajak Ajeng serius," kata mas Andi.
__ADS_1
"oh begitu toh,bilang dong dan kalau bisa secepatnya ya, karena ibu juga mau menikah dengan kekasih ibu," kata wanita itu malu-malu.
"iya lusa aku menikah, tak usah lamaran mas, yang penting sah di KUA," kata Ajeng yang malu.
"siap dek, aku usahakan ya," kata mas Andi yang juga tak mau lama-lama karena sudah tak tahan dengan kemolekan Ajeng.
Setelah beberapa lama, akhirnya pria itu menelpon adiknya untuk mengantar semua surat yang di butuhkan.
Ibunya awalnya menolak, tapi mendengar alasan putranya dia pun mengiyakan setelah menghitung penanggalan Jawa hari itu juga bagus.
Wulan yang sedang makan bakso, di buat tersedak karena membaca pesan Ajeng.
"dek pelan-pelan, gak ada yang minta," kata juragan Baron
"bukan mas,uhuk... Ini Ajeng mau nikah lusa, dengan mas Andi pemborong jalan desa itu," kata Wulan.
"gak papa, aku kenal dia kok,dia itu duda istrinya mati kok, dan lagi dia orang baik," jawab juragan Baron.
"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Wulan yang mengiyakan akan datang.
Bu pawoh yang sedang tak berdaya tak bisa bangkit walau hanya untuk mengambil ponselnya.
"apa sayang..."
"keponakan mu Ajeng lusa mau menikah, dan dia meminta mu datang,hei jangan turun," kata pak Dikin.
"ok.... mmm..." jawab Bu pawoh yang tak sanggup lagi.
"aduh sayang, kamu ini duluan lagi," protes pak Dikin.
"sudah selesaikan cepat," lirih Bu pawoh.
__ADS_1
Kedua orang ini memang tak ada matinya,ya karena sudah sama-sama berumur tapi punya jiwa yang muda.
Hingga mereka sering membuat hal-hal aneh dan mencoba tempat yang baru.