Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
S2_pemuda tampan idaman


__ADS_3

"Raina, Raisa ayo nduk kita sarapan," panggil Bu pawoh pada dua cucunya itu


"kok cuma kami sih Mbah, memang mas Ryan kemana lagi?" tanya Raina yang duduk setelah tadi menguncir rambutnya.


"mas Ryan kan sudah berangkat ke peternakan," jawab Bu pawoh.


"lah,kenapa masih pagi sudah di peternakan?" bingung Raisa.


"ya ada beberapa sapi yang katanya sakit,"


"ya padahal kan kemarin janji mau mengantarkan kami kesekolah," kesal Raina.


"bagaimana kalau Mbah Kakung saja," kata pak Dikin yang keluar dari kamar


"gak mau, Mbah kalau antar kami pasti lama, yang ada telpon lah, yang ada panggilan alam lah," saut Raisa


"kakean dan tau gak," tambah Raina.


"aduh sedih hati Mbah," kata pak Dikin yang pura-pura menangis.


Bu pawoh tertawa saja melihat tingkah suami dan juga dua cucunya itu


"tapi Mbah, tau gak kalau semalem itu, mas Ryan sedang kirim pesan sama cewek loh," kata Raisa yang ingat.

__ADS_1


"benarkah? Apa dia cantik?" tanya pak Dikin yang merasa penasaran.


"Mbah berhenti mengorek informasi dari di kembar, gadis itu cuma mahasiswi yang menanyakan beberapa tugas padaku, dan meminta tolong," suara seorang pria yang terdengar begitu berat dan maskulin.


Ya dia adalah Ryan, saat ini dia berusia dua puluh satu tahun dan sudah menyelesaikan pendidikannya lebih awal di banding teman-teman seusianya.


"bagaimana di peternakan nak?" tanya Bu pawoh yang mendapatkan pelukan dari pemuda tampan itu


Semuanya baik Mbah uti, dan kalian berdua begitu berisik, Nurin siapa sih," kata Ryan pada dua adiknya yang sudah mengenakan seragam putih merah.


"ya mama dong!!" jawab keduanya yang membuat Ryan tersenyum.


"iya deh, jadi mau di antar siapa?"


"ya sudah cepat sarapan,karena kakak ada pekerjaan di tempat lain setelah ini," kata Ryan yang menang benar-benar tak ingin membiarkan semua masalah itu berlarut.


"nanti biar Mbah dulu yang ke pengilingan,kamu bisa ke gudang,"


"terima kasih Mbah,ya tuhan di tinggal berangkat haji seperti ini, membuat ku gila!" kata Ryan yang tak menyangka jika pekerjaan milik ayahnya begitu banyak.


"ya mau bagaimana lagi, jika tidak seperti itu tentu uang akan habis dan itu yang paling tak di inginkan karena bagi ayah kalian, kebahagiaan kalian yang utama," kata Bu pawoh.


"kami pamit dulu Mbah," kata si kembar yang selesai makan.

__ADS_1


"aku juga Mbah, nanti kita ketemu di pengilingan ya kung, saat aku selesai di gudang," kata Ryan yang mengambil kunci motor miliknya.


"oke," jawab pak Dikin.


Bu pawoh tak menyangka jika ketiga orang itu sudah tumbuh secepat ini, dan di tambah kehidupan putrinya sudah sangat baik di bandingkan dulu saat masih menjadi istri dari mantan suaminya.


Perjalanan mereka cukup jauh, dan saat sampai di sekolah si kembar,Ryan juga memberikan uang saku tambahan untuk dua adiknya.


"terima kasih sayang," kata Raina yang membuat Ryan tertawa.


Pasalnya setiap kali di beri uang Raina ini selalu membuat panggilan aneh, "hentikan rain, nanti pacar kak Ryan marah," kata Raisa.


"memang aku peduli, karena aku tak akan semudah itu membiarkan seseorang datang dan mengambil kakak ku, mengerti Rais,"


"Raisa!!"


"sudah sudah jangan berantem sama saudara kembar sendiri, sudah masuk sana," kata Ryan pada dua adiknya.


"kami berangkat kak,"


Ryan mengangguk dan melihat kedua adiknya hingga masuk ke dalam kelas baru dia pergi.


__ADS_1


__ADS_2