
Pak Dikin tersenyum melihat kehebohan dari istrinya serta Wulan yang selesai membuat empat puluh lima hiasan kepala.
"Ryan besok biar Mbah ya yang ikut karnaval, kan mama mu nadih belum bisa?"
"tapi-" kata Ryan yang sebenarnya ingin mamanya ikut.
"sudah bantu di jamin sama Mbah pasti senang karena Mbah kung," kata pak dikin.
mendengar ucapan itu, tentu saja Ryan mau, karena dia tau jika drngdn kakeknya itu, dia bebas minta apapun nanti.
sedang Wulan merasa bersalah tapi jika dia tak menurut dan tetap ingin mengikuti karnaval itu, bisa jadi dia akan berada dalam masalah besar.
tiba-tiba ponsel wulan berbunyi, ternyata itu adalah nomor telpon dari orang tua dari Ivan.
"assalamualaikum mama Ivan, ada apa?" tanya Wulan dari sebrang telpon.
"halo iya mama Ryan, saya mau mengajak anda membuat es jus anak-anak besok, karena saya sudah dapat bocoran kemana jalan yang akan di lalui selama karnaval besok," kata wanita itu.
"benarkah, setuju deh, sekalian nanti berikan jajanan juga, besok uangnya saya antar saat ke sana karena anda tau kondisi saya kan," kata Wulan
"baiklah aku mengerti, kalau begitu siap deh Bu juragan," kata wanita itu mematikan ponselnya.
Juragan Baron pun mengerti jika semua orang tua akan heboh dengan anak mereka masing-masing.
malam itu, akhirnya semua istirahat dan saat akan merebahkan diri, pak Dikin mendapatkan sebuah pesan masuk.
itu adalah pesan dari pengacara juragan Sukoco yang baru tau jika kliennya meninggal dunia dengan cara tragis karena berita di internet.
Keduanya pun janjian ketemu untuk besok sore, akhirnya setelah menaruh ponselnya pria itu akan istirahat.
Tapi saat melihat istrinya yang tengah melihat beberapa resep dia. pun iseng dengan menggangunya.
"hentikan sayang ah... kamu ini kenapa sih," protes Bu pawoh.
"aku mau minta amunisi untuk acara besok pagi, cas!!" kata pak Dikin.
Sedang di luar kamar kedua orang itu, ada Wulan yang belum bisa tidur, ya mereka menginap lagi di rumah orang tuanya karena dia ingin besok selama acara.
Putranya ntak harus repot karena yang mengawasi adalah neneknya, tapi dia merasa lapar jam segini.
dia membuka kulkas dan melihat ada nasi sisa dan juga ada beberapa lauk yang ada di kulkas
Dia pun mengambil dua ayam, satu pokcoy dan juga satu mangkuk kecil nasi juga.
__ADS_1
Dia langsung menggeprek bawan putih dan mencincangnya. Dan tak lupa menambahkan satu cabe rawit.
Wulan tampak begitu cekatan dalam memasak, bahkan ayam yang tadinya di masak kare pun di cuci dan di masukkan kedalam nasi ayam goreng.
Setelah rasanya pas, dia pun selesai dan kini sambil menunggu dingin, dia menikmati membaca novel di aplikasi NOVELTOON.
Ya novel itu bercerita tentang seorang gadis bernama Arumi yang tak menyangka jika dia akan menjadi salah seorang penghuni sebuah Harem milik seorang pria yang terkenal sebagai juragan paling kaya di sebuah desa.
Yang dia tau awalnya dia menikahi seorang pria sederhana, tapi nyatanya dia menjadi istri ketiga pria itu.
Padahal dia menerima pinangan pria itu untuk menjadi istri yang bisa memberikan anak, karena pria itu mengaku ingin segera punya anak. Apa kedua istri dari suaminya akan diam, atau mereka akan bertindak kasar pada Arumi karena merasa kalah saing.
Dia yang membaca sambil makan pun , merasa kesal, marah dan juga tak percaya karena melihat sosok Arumi ini.
Tapi bagi Wulan sosok Arumi ini sangat hebat dia tak lemah saat di tindas oleh semua wanita yang ada di sekitar suaminya.
"jika aku jadi arumi aku akan menyingkirkan para wanita ini, terutama wanita pengganggu itu, ah tapi kemana si Yayuk kok hilang tiba-tiba ih, gak jelas banget ini mati apa gimana, nih penulisnya lupa atau mabok sih," marah Wulan sendiri.
juragan Baron yang tak mendapati istrinya di sampingnya keluar kamar dan melihat istrinya itu sedang menikmati nasi goreng sambil bermain ponsel.
"kamu sedang apa dek, kok belum tidur sih," tanya pria itu mengambil air minum dan juga mengambil sesuap nasi goreng milik istrinya.
"aku lapar mas, dan sambil makan dulu baca novel, memang pria selalu gila ingin punya anak ya, hingga dia bisa nikahi banyak wanita ituk itu," tanya Wulan yang terpengaruh dengan novel yang dia baca.
"begitu ya, pantes ya orang dulu kadang banyak anak, kalau sekarang banyak anak yang mati muda bapaknya," kata Wulan mrlugat juragan Baron.
"memang, orang ngenes mikir sekolah dan makan untuk keluarga, ya pasti pontang panting tak karuan, tapi jika mas mau ya setidaknya enam cukup deh," kata juragan Baron tersenyum.
"apa enam, orang baru hamil begini saja sudah riweh," kata Wulan.
juragan Baron tak menyangka jika istrinya itu juga merasa sulit,ya mau bagaimana lagi orang semua sudah di atur oleh Tuhan.
esok paginya, pukul lima pagi semua sudah sarapan, topi yang kemarin di buat juga sudah siap, dan kini Ryan sudah mengenakan kaos hitam lengan panjang dan juga beberapa rok rumbai dan juga mahkota karena dia dan Ilmi akan menjadi yang baris di depan.
Sekarang Wulan sedang menyuapi anaknya itu sarapan, karena juragan Baron madih sibuk membenarkan celana putranya itu yang kebesaran.
tapi semuanya akhirnya selesai dan bersiap untuk berangkat, tak lupa Wulan juga memberikan banyak jajanan untuk putranya itu, dan juga air minum juga.
Tak hanya itu, ada juga beberapa obat yang di bawa oleh Bu pawoh.
setelah itu ketiganya berangkat, sedang Wulan masih sarapan dengan suaminya.
"ada apa sayang, kamu mau sesuatu kok kayaknya tak berminat begitu?"
__ADS_1
"aku mau makan kamu deh rasanya, tapi kamu pasti gak mau," a
Kata Wulan yang membuat juragan Baron yang hanya tersenyum.
"nanti saja, sekarang kita berangkat dulu yuk," kata juragan Baron.
Akhirnya mereka berangkat ke tempat rumah Ivan yang sudah siap dan Wulan memberikan uang yang dia janjikan.
Ternyata saat dia melihat rute jalan yang di lalui ternyata ada melewati gudang milik suaminya.
Jadi dia pamit akan kesana saja karena akan lebih nyaman melihat dari sana, sekalian juragan Baron bisa tetap bekerja mengawasi anak buahnya.
Akhirnya dia pamit pergi, dan mama dari Ivan pun tak berani saat salah satu orang tua murid membujuknya.
"nanti tuh si anak juragan itu tak usah di kasih ya, orang ibunya saja seperti tak mau bantu gitu kok,"
"eh mulutnya ya Bu, meski ibu juragan tak bantu, jajan yang dari tadi kamu makan itu dari uangnya sialan, mending ibu juragan meski tak bantu uang keluar, lah situ bantu sedikit, nyocot banyak, sama makan Mulu!!" ketus mama Ivan yang terkenal sangat bermulut pedas.
saat Arumi sampai di gudang, ternyata sudah di siapkan meja untuk memberikan kue pada anak-anak yang akan karnaval.
"loh mas di sini juga?"
"Ita dek, kami selalu memberikan donat atau kue lain untuk yang karnaval, tentu kami izin pada sekolahnya juga," kata juragan Baron.
"karena hari ini yang karnaval spesial jadi kami akan membagikan kue basah tiga biji dan minuman, ini contohnya Bu juragan," kata Wawan.
Wulan mengangguk, dan akhirnya semua di tata di atas meja, jam tujuh anak-anak sekolah dasar itu mulai jalan.
Yang di awali oleh drum band,dan di ikuti oleh semua jelas tapi mulai dari kelas satu hingga kelas enam.
Ada sekitar tiga belas barisan yang akan lewat. saat melewati rumah Ivan, mereka dapat jus jambu dan kue untuk kelas Ivan saja.
Sedang saat melewati gudang milik orang tua Ryan,semua murid dapat kue dan teh botolan
Bahkan saat kelas Ryan lewat, semua orang gudang berteriak memanggil bocah itu dengan semangat yang tak di sangka adalah ibu guru dapat kue besar.
"wah .... orang tua Ryan memang beda, kita semua dapat kue dan teh botol," kata para anak kelas enam.
Ya mereka awalnya mengira jika bohong jika memang anak dari juragan kaya sekolah di tempat mereka.
Ternyata semua benar ddn terbukti saat ini, dan akhirnya karnaval sekolah itu selesai pukul dua belas siang.
Setelah selesai pak Dikin mengambil foto semua murid kelas dan mengirimkannya pada Wulan dan nanti akan mencetaknya sebagai kenang-kenangan.
__ADS_1