
Para warga langsung bergegas membantu, kebetulan di sana ada warung yang memang ramai oleh para warga yang sedang menikmati waktu santai.
"kamu itu bagaimana, lihat gara-gara tak becus jaga anak,sekarang kamu membuat orang lain celaka, dasar wanita tak berguna," marah suami pria itu yang memang menyaksikan semuanya.
Juragan Baron melihat istrinya yang sudah tak sadarkan diri, dan kepala Wulan berdarah.
sedang kondisinya juga tak terlalu baik, tapi dia fokus hanya pada istrinya yang tadi tidak mengenakan sabuk pengaman.
"sayang..." lirihnya mengusap wajah istrinya yang mengalir darah.
"pelan woi, korban terluka nih," teriak warga yang berusaha menyelamatkan juragan Baron dan Wulan.
Para warga langsung membawa keduanya ke puskesmas yang memiliki UGD terdekat, dan saat tau siapa yang kecelakaan.
otomatis keluarga dari anak balita itu menjadi bulan-bulanan warga dan di minta bertanggung jawab.
terlebih semua orang tau siapa juragan Baron yang banyak membantu di desa itu.
pria itu bangun karena hanya mengalami luka lebam dan sedikit lecet.
"istriku," panik pria itu.
"ibu juragan masih belum sadar karena obat bius juragan, karena kami harus menjahit luka di kepalanya, dan untungnya bukan luka parah," jawab dokter jaga.
"syukurlah..." kata juragan Baron.
Ibu pawoh, pak Dikin dan Ryan datang ke puskesmas saat mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang terjadi.
Ryan langsung menangis keras melihat mamanya terbaring di ranjang belum sadarkan diri.
"tenang Ryan, nama cina tidur karena bius, kok bisa datang bareng nenek dan Mbah?" tanya juragan Baron yang mencoba menghibur putranya itu.
__ADS_1
"tadi aku main ke rumah nganter kue dan ayam kesukaan ku, terus ada orang kenalan ku yang menelpon, katanya kamu nabrak pohon dan di bawa ke sini," jawab pak Dikin.
"ah iya, karena ada orang tua yang teledor membiarkan anaknya kendarai sepeda roda tiga di jajan," jawab juragan Baron.
"ya sudah biar aku lihat mobil ku dulu, dan dek tunggu di sini ya," kata pak Dikin.
"aku ikut, sepertinya aku meninggalkan sesuatu yang penting, terlebih tadi tas selempang milik Wulan juga ketinggalan di mobil sepertinya," kata juragan Baron.
"tidak usah, biar aku yang lihat, kalian istirahat saja," jawab pria itu.
ya pak Dikin tak mau membuat keluarga barunya kecewa, itulah kenapa dia mulai menunjukkan sikapnya yang baik.
dia sampai di desa tempat juragan Baron dan Wulan kecelakaan, ternyata mobil itu masih di sana.
Pak Dikin mengakui seorang teman di sana yang tadi mengamankan barang milik keluarga pria itu.
"jadi anak siapa yang membuat anak dan menantuku celaka," tanya pria itu yang memang terkenal tanpa ampun saat menyinggung seseorang yang menjadi tanggungjawabnya.
"ah itu pak, anak dari Ahmad, pak Dikin juga kenal," kata pak Sono.
akhirnya keduanya pergi ke rumah pria itu, Ahmad kaget melihat pris yang pernah hampir membunuhnya datang ke rumahnya.
"loh pak Dikin ada apa?" tanya pria itu yang memang tak tau masalahnya.
tanpa basa-basi pak Dikin langsung menampar pria itu hingga tersungkur,"kamu ini goblok atau gila, bagaimana bisa membiarkan anak ku main di jalanan, sekarang lihatlah karena putra mu itu, anak-anak ku itu terluka, kamu ini ternyata tak berubah sialan!" maki pak Dikin tanpa ampun.
"apa pak... Saya minta maaf, saya tak mengira jika putra saya akan main di jalan, tapi anak bapak itu.."
"ya Baron dan istrinya, aku adalah ayah sambung dari istri Baron, kamu kaget hah, sekarang putriku sedang terbaring di UGD dan kamu tak ada itikad baik!" marah pria itu mencengkram erat baju yang di jebakdn Ahmad.
"ampun psk, saya mohon maaf ... Saya tak tau jika putra saya bisa membuat kejadian separah ini, saya dkan bertanggung jawab," kata istri Ahmad yang memohon belas kasihan.
__ADS_1
pria itu takut jika istrinya akan di lecehkan oleh pak Dikin, terlebih dia pernah menjadi saksi bagaimana istri sahabatnya di jadikan jaminan dan di lecehkan saat di sekap.
"berterima kasih pada istrimu,aku ingin lihat, terserah mau datang kapan,aku ingin melihat mu meminta maaf pada Baron dan istrinya, jika tidak aku seret kalian berdua ke kantor polisi, camkanlah itu.." marah pria itu mendorong Ahmad hingga terjatuh.
Dia tak menyangka, melukai juragan Baron saja sudah membuatnya di musuhi orang satu desa, ini di tambah lagi drngdn kenyataan jika mantan anak buah juragan Sukoco yang paling kejam tanpa ampun menjadi mertuanya.
"lihat, ini karena mu yang teledor, makanya kalau jaga anak itu,jangan main ponsel terus, sialan!!" maki Ahmad pada istrinya yang hanya bisa menangis ketakutan.
pak Dikin sudah memanggil mobil derek, agar mobil itu di bawa ke bengkel untuk di perbaiki meski rusaknya tak parah.
Dia pun pamit kembali ke UGD untuk menyerahkan barang-barang milik Wulan dan juragan Baron.
bahkan dia tadi juga sempat membeli puding di minimarket sebelum sampai ke UGD.
Saat sampai ternyata putri sambungnya itu sudah bangun dan tampak istrinya itu sangat khawatir.
"Baron ini barang kalian, cek apa ada yang hilang, dan aku tak tau Wulan dan Baron boleh makan apa, tapi aku tadi sempat beli roti dan puding, dan tentunya ciki kesukaan cucu tampan ku ini," kata pak Dikin.
Wulan melihat suaminya yang tampak mengangguk, dia juga tak bisa membenci orang yang sudah menemani ibunya.
"terima kasih pak, dan aku tak sangka akan melihat senyum ibu yang sangat lebar seperti sekarang, terima kasih..." kata Wulan yang membuat Bu pawoh senang.
"sudah tak usah di pikirkan, aku yang beruntung di usia ku ini akhirnya menemukan wanita yang tepat, ya meski awal caranya salah," kata pria itu tersenyum malu.
"tapi enak kok,"
"ibu..." kata Wulan malu mendengar ucapan ibunya.
"Mbah itu baik loh, aku dulu kalau waktu istirahat terus Mbah Dikin ada di sekitar sekolah,aku sering di veti yang jajan, katanya untuk beli permen tapi tidak boleh bilang pada mama dan Mbah uti," kata bocah itu.
"apa..."
__ADS_1
"anda tak berniat mengincar istriku kan pak," kata juragan Baron tak suka mendengar itu.
"ah tidak sering kok,hanya setelah aku mulai hubungan dengan istriku," kata pria itu gagap karena kaget