Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
teman Ryan.


__ADS_3

akhirnya mereka berempat duduk di bangku belakang, "kalian berdua tidak pernah belajar hafalan?" tanya Ryan.


Ilmi juga ikut nimbrung karena gadis itu sekarang juga teman dari Ryan karena ayah gadis itu yang antar jemput bocah itu saat pulang sekolah.


"ya kami belajar, tapi sepertinya kami kurang bisa mengingat itu, dan sekarang hukumannya kami harus menulis tiga kali ayat kursi, sedang kami tidak tidak bisa menulis Arab, itupun waktunya cuma tiga hari," kata Tyo.


"emm... Bagaimana kalau kita pulang saja, kita ke rumah ku, mama ku bisa mengajari kalian, dan sepertinya kalian harus mulai mengaji juga," kata Ryan.


"bolehkah?"


"tentu saja, aku pasti akan membantu," kata bocah itu.


Akhirnya saat pulang sekolah, Tyo dan Ivan naik sepeda mengikuti pak Yadi yang menjemput Ryan serta putrinya Ilmi.


saat sampai di rumah, mereka semua turun dan pak Yadi pun pamit pulang sore nanti akan menjemput Ilmi lagi.


"assalamualaikum..."salam keempat bocah itu.


"wa'alaikumussalam... Loh mas Ryan bawa temannya, Monggo masuk," kata Azizah yang melihat para bocah itu.


"mbak mama mana?" tanya Ryan yang ingin mengutarakan keinginannya.


"mama ya, mama sedang di kamar ada apa mas," tanya Azizah.


Tiba-tiba kamar wulan terbuka dan tampaklah wanita itu, "loh mas Ryan sudah pulang, ada ilmu, Ivan dan Tyo juga," kata Wulan dengan sopan.


"mama... Apa mama sakit?" tanya Ryan khawatir melihat ibunya itu.


"mama baik kok, ada apa mas kok mencari mama?" tanya Wulan yang penasaran.


"ini ma, aku dan teman-teman ku ingin belajar menulis arab karena mereka dapat hukuman sebab tak bisa menghafalkan surat pendek," kata Ryan.


"baiklah, mama akan ajari, dan Azizah tolong siapkan semua camilan untuk mereka ya," kata Wulan.


"iya mbak, tapi mbak yakin sudah enakan," tanya Azizah.


"sudah tadi kan cuma mual karena mencium aroma parfum mu," kata Wulan tertawa ringan.


Akhirnya dia ke depan dan mulai melihat semua hukuman untuk Ivan dan Tyo, dia pun dengan telaten mengajari kedua anak itu menulis arab.

__ADS_1


meski pun sedikit sulit, setidaknya kedua bocah itu sudah hafal huruf Hijaiyah.


Akhirnya mereka pun mulai mengerjakan tugas dari gurunya itu, sedang Ryan dan Ilmi sudah fokus dengan pelajaran bahasa inggris.


Ilmi tak mengira jika ibu dari temannya itu selain baik juga seorang wanita yang sangat pintar.


Azizah datang dengan membawakan berbagai ciki dan kue yang ada di rumah, bahkan satu nampan itu penuh dengan camilan.


belum lagi ada susu yang di suguhkan juga, Ivan tak menyangkal jika temannya itu begitu di sayangi.


Dia saja yang anak tunggal tak sebaik ini perlakuannya, tapi Ryan berbeda, meski akan punya adik tapi dia tetap jadi yang utama di keluarga ini.


Azizah membantu untuk mengarahkan Ivan dan Tyo, terlihat Ilmi lebih cepat mengerti saat di ajari oleh mama dari Ryan.


"yey aku selesai," kata Ilmi.


"wah Ilmi ini pintar ya, Ryan kamu sudah selesai?" tanya Wulan yang tau jika putranya itu juga tak suka di kalahkan.


"selesai,ya Ilmi memang terkenal di kelas mama," kata Ryan menunjukkan hasil dari menjawab soal.


tak ada yang salah dari jawaban itu, "maksudnya nak?"


mendengar itu Wulan dan Azizah terkejut, "ya itulah kekejaman untuk orang tak punya," saut Tyo.


"Tyo... Tak boleh ngomong begitu," kata Wulan tak suka.


"ya sudah biar mama cek dulu, dan sempurna,kalian berdua sudah pintar, sekarang kita lihat tulisan dari Tyo dan Ivan," kata wanita itu.


Wulan mengangguk, dia tak menyangka jika dua bocah itu cukup pintar,meskipun tak sempurna


setidaknya Keduanya sudah berusahalah dan tetap bisa di baca, dan itu membuktikan kalau keduanya tak mudah menyerah.


"sekarang makan kue dulu, itu sudah di siapkan, atau mau makan saja, Mak Yem tadi mama suruh buat ayam crispy loh," kata Wulan yang membuat tiga bocah itu berbinar.


"aku mau makan!!" teriak ketiganya.


"baiklah ayo kita makan," kata Wulan mengajak keempat bocah itu ke dapur.


mereka berempat duduk di meja, Azizah yang membawa wadah rice cooker membantu para bocah itu menuangkan nasi ke piring.

__ADS_1


Dan yang mengejutkan adalah porsi keempat bocah itu seperti porsi kuli, dengan bani sangat banyak.


Tentu saja Wulan tak keberatan karena dia meminta Mak Yem untuk memasak nasi lagi untuk suaminya.


"mak tolong masak nasi ya, sebentar lagi juragan pulang, dan anak-anak ini ada delapan ayam, kalian harus bagi rata, mengerti," kata Wulan yang menaruh ayam itu di atas meja.


Dia juga memberikan saus pedas di meja dan juga ada mie goreng juga,sedang untuk juragan Baron suaminya.


Dia memasak burung dara yang semalam di bawa dari rumah Bu pawoh dan sambel yang akan di buatkan dadakan.


terlihat keempat bocah itu sangat lahap, bahkan Ryan yang kadang malas-malasan makan siang, kini tampak tak mau kalah dengan teman-temannya.


Juragan Baron baru akhirnya sampai di rumah untuk makan siang, karena ini jam istirahat.


Tapi saat dia pulang, dia kaget melihat begitu banyak sepatu di depan rumahnya.


Dia pun masuk kedalam rumah, dan melihat buku dsn tas berserakan di ruang tamu, "dek ada siapa?" tanya pria itu yang baru datang.


"ada teman-teman Ryan main sekalian belajar, aku suruh nakdn dulu kasihan," kata Wulan dengan lembut.


"wah enak nih makan apa," tanya juragan baron.


"makdn ayam crispy ayah," kata bocah itu dengan semangat.


"nikmati pelan-pelan,nanti tersedak loh," kata juragan Baron.


Tiba-tiba rice cooker pun selesai memasak nasi,"mas mau makan juga? Aku ambilkan," kata Wulan


"boleh tapi tolong bawa ke depan tv ya, aku mau melihat berita siang ini,"kata pria itu yang bergegas ke kamar dulu untuk mandi.


ya dia tak balik lagi karena semua sudah selesai di gudang dan sawah karena semua panen selesai.


Tak lama juragan Baron dan Wulan makan bersama, pria itu sengaja setiap siang pulang karena untuk memastikan istrinya itu makan.


Azizah pun mengawasi para bocah itu berjajar selama juragan Baron dan Wulan makan siang.


Bahkan keduanya sama-sama meminum suplemen vitamin untuk kesehatan.


Tak hanya berhenti di sana, mereka berempat benar-benar sangat senang bisa bermain dan belajar di rumah Ryan.

__ADS_1


bahkan saat pamit pulang mereka juga di berikan bingkisan oleh juragan Baron, dan untuk ilmu, dia di antarkan oleh Azizah karena tak kunjung di jemput oleh ayahnya.


__ADS_2