
Wulan benar-benar stres saat ini, bagaimana tidak, suaminya bisa-bisanya di goda oleh banyak wanita.
padahal pria itu sudah jelas-jelas punya istri dan sebentar lagi akan jadi bapak anak dua.
"sayang ku mohon tenangkan dirimu," kata juragan Baron.
"tenang mas, bagaimana bisa aku tenang saat semua wanita itu berbondong-bondong datang untuk merayu mu, aku ini istrimu dan masih hidup, kenapa mereka semua tak ada yang punya malu sedikitpun," kata Wulan dengan air mata yang akhirnya jatuh juga.
Juragan Baron memang sering membantu orang, tapi tanpa terduga ini sekarang malah membuatnya dalam masalah.
terlebih-lebih para orang yang di tolong ini kadang kurang ajar pada keluarganya.
"sudah sayang, aku akan mengurus semuanya," jata juragan Baron.
malam itu, mereka bertiga tidur dalam satu ranjang, Ryan sepertinya mengerti kesedihan ibunya.
"sudah mama, jangan menangis terus kasihan adek di dalam perut," kata bocah itu yang membuat ibunya terharu.
juragan Baron memeluk kedua orang tercintanya, dia tak mau melihat istrinya sedih lagi.
Jadi dia menyuruh pak Sardi untuk membuat Lia sadar dan tak boleh mendekati rumah juragan Baron lebih dari sepuluh meter, jika tidak dia akan di perlakukan buruk.
Pak Sardi pun membuat keluarga pak Junaidi ini terdiam mendengar keluhan dari juragan Baron.
bahkan Mak Ijah sampai malu karena tingkah wanita yang dia tolong begitu memalukan.
"jadi saya minta tolong untuk anda mengendalikan wanita itu, karena dia benar-benar membuat juragan Baron dan istrinya marah kali ini. Aku tak peduli dia mau bagaimana, tapi tolong katakan padanya untuk tidak berulah lagi, atau juragan Baron akan bertindak tegas, terlebih ibu juragan sedang hamil dan ulah putri angkat anda ini membuatnya stress,"
"baik mas Sardi saya mengerti, saya akan membuat Lia sadar dan tak mengulangi perbuatannya lagi," jawab pria itu.
pak Sardi pun pamit undur diri karena dia harus beristirahat karena pekerjaannya juga sangat banyak.
Lia sendiri masih di atas motornya yang kini memilih duduk di pinggir sawah di kegelapan malam.
Dia tak menyangka akan di permalukan sampai separah ini, dia awalnya hanya ingin meminta tolong dengan baik-baik.
__ADS_1
Tapi saat melihat sosok Wulan yang berdiri di samping juragan Baron, bagaimana dia tak kesal, wanita itu berdiri seolah mengejeknya.
"dia begitu beruntung Tuhan, kenapa aku tak bisa sepertinya, aku hanya ingin memiliki suami yang kaya dan pengertian seperti juragan Baron, tapi dia sudah milik orang lain, kenapa nasib ku begitu buruk, kenapa!! Aku selalu berusaha jadi orang baik, tapi saat aku ingin menjadi istri dari pria itu kamu membuatku sadar, jika dia bukan untuk ku, tapi milik orang lain, tapi kenapa aku tak di berikan pria yang baik untuk ku," kata Lia menangis histeris.
Sekarang dia sudah semakin terpuruk, dengan gosip yang pasti beredar luas, tentang dirinya saat ini.
"kenapa...." tangis wanita itu
Setelah menenangkan dirinya, dia pun memutuskan untuk pulang karena putrinya itu sendirian di rumah.
Tapi baru juga sampai, dia sudah di sambut oleh tatapan tajam dari pak Junaidi.
ya dia sudah tau pasti jika juragan Baron akan membuat perhitungan tapi dia tak menyangka akan secepat ini.
"assalamualaikum..."
"wa'alaikumussalam, dari mana kamu, baru pulang jam segini, kamu lupa punya anak," ketus pak Junaidi.
"saya tidak lupa kok, saya hanya baru bertemu dengan juragan Baron," jujur wanita itu.
"kenapa anda marah, bukankah ini sudah perjanjian kita, jika aku boleh melakukan apapun yang aku inginkan," bantah Lia.
"tapi tidak dengan merendahkan dirimu seperti ini, kamu membuat ku kehilangan wajah ku di desa ini, kamu tau kamu jadi gunjingan karena tingkah mu yang terus menerus menggoda juragan Baron itu men-ji-jik-kan," kata pak Junaidi.
"terus aku harus bagaimana, aku punya suami tapi dia tak mau mengakui diriku, jawab aku harus bagaimana setidaknya aku bisa menggodanya untuk biaya putriku, karena kamu tak mau melakukan itu untuk ku ...." tangis Lia pada pria dewasa di depannya itu.
Ya pak Junaidi memang sudah berusia hampir enam puluh tahun, tapi yang tak di ketahui oleh semua orang adalah hubungan besar spa antara pria itu dan Lia.
"aku hanya berjanji pada ayah mu untuk memberikan namaku, dan kamu harus bertanggung jawab atas dirimu karena kesalahan mu, tapi tidak dengan cara mempermalukan ku,"
"terserah, aku tak peduli," marah Lia.
pak Junaidi yang marah besar, akhirnya tak tahan dan langsung menyeret Lia masuk kedalam rumahnya.
bukan rumah samping yang selama ini di gunakan oleh Lia dan putrinya, "Mak tolong jaga Asha, setidaknya dia tak sendirian,"
__ADS_1
"tapi le, jangan kamu melakukan macam-macam dengan Lia, ingat dia itu hanya is-"
"aku mengerti Mak,"kata pak Junaidi yang tak tahan lagi
Pria itu mengambil kemoceng dan langsung mendorong Lia masuk kedalam kamarnya.
"aku tak menyangka putri teman ku akan jadi wanita murahan, spa kamu mengikuti jejak ibumu itu, dia dulu bahkan lebih buruk dari mu, hingga tidak hanya satu tapi puluhan rumah tangga hancur Karena dia, dan sekarang kamu, apa kamu benar-benar mau jadi wanita seperti itu," marah pak Junaidi.
"apa peduli mu, pertolongan mu yang sesaat itu tak berguna untuk ku, karena aku tak mau tunduk pada mu pria tua," kata Lia.
tanpa perasaan, pak Junaidi langsung memukulkan kemoceng yang di pegang dari tadi.
"aku bahkan rela tak menikah setelah menolong ku, tapi kamu maiah semakin berulah seperti ini, jdngan membuat ku merasa buruk setelah menolong mu,"
"kenapa kamu begitu, jika kamu memang peduli seharusnya kamu mengurus semua kebutuhan Asha agar tak perlu dua menerima sumbangan orang lain," kata Lia yang semakin memancing Amarah pak Junaidi.
"aku melakukannya!!" bentak pak Junaidi cukup keras.
Baju yang kalian pakai, tempat kdloan tinggal, kendaraan yang kalian pakai itu dari siapa, itu dariku, hanya karena di bayari spp berapa kali oleh juragan Baron kamu mau menyerahkan dirimu, bukankah kamu sama saja dengan pelacur, atau kamu yang kegatelan ingin di jamah oleh para pria, jawab sialan!!" marah pak Junaidi yang memukul Lia dengan kasar.
Dis kemudian membuang kemoceng itu, dan mencengkram dagu lua dengan kasar.
"dari pada kamu membuat ku malu, lebih baik kamu tinggal di rumah ini dan jangan sampai membuat masalah lagi," kata pak Junaidi yang langsung mendorong Lia.
tapi Lia tak mau menurut, dia ingin lari dari kamar pria itu, dengan sekal sentak.
pakaian yang di kenakan oleh wanita itu robek, pak Junaidi pun tak bisa mengendalikan diri.
"apa yang kamu lakukan pak," marah Lia.
tanpa basa-basi, pak Junaidi menarik Lia dan mendorongnya hingga tersungkur di ranjang
Dan pria itu pun melakukan tugasnya, "kamu kegatelan kan, sekarang kamu akan duduk di rumah dan melakukan tugas mu," kata pak Junaidi yang sudah menjalankan tugasnya sebagai maha harusnya.
Malam itu pun di lewati dengan tenang, bahkan malam itu turun hujan meski tak deras tapi cukup membuat sejuk.
__ADS_1