
Juragan Baron dan Ryan bergegas mengendong kedua gadis kecil itu, "jangan takut, ayah di sini dek," kata juragan Baron yang keluar dan ikut melihat apa yang terjadi.
Sedang pak Dikin sudah membantu pak Toni yang terpental meski tak terluka.
pria itu melihat ke arah menantunya yang tampak menunjukkan wajah marah dengan mengerasnya rahang pria yang sedang mengendong Raina
"kita ke puskesmas dulu Toni,karena kamu terluka cukup parah," kata pak Dikin
pak Toni di bawa ke puskesmas oleh pak Dikin, sedang juragan Baron sedang duduk santai di kursinya.
Dia sedang termenung sambil memikirkan bagaimana caranya untuk membalas dendam.
Dia sudah tau siapa pemilik belati itu, tapi kenapa dia berani menganggu keluarganya yang bahkan tak pernah mengusik mereka.
"kenapa kamu berulah dengan mengusikku," gumam juragan Baron yang memandangi sebuah pajangan yang juga mirip dengan belati yang di temukan oleh putranya.
__ADS_1
Dia pun menyimpan belati itu di tempat yang akan dan meminta seseorang untuk menyelidiki semuanya.
Wulan tengah duduk dengan Bu pawoh, suara ledakan tadi cukup membuatnya terkejut karena sangat keras.
Bu pawoh merasa jika putrinya itu sedang melamun tentang sesuatu, "apa kamu memikirkan kejadian tadi, tak usah begitu, karena aku yakin bapak dan suamimu pasti tau,"
"bukan begitu Bu, aku hanya kaget kenapa tiba-tiba ledakan begitu besar, bahkan kaleng parfum saja kalau terbakar tidak meledak seperti itu," kata Wulan dengan lirih.
(kalau kaleng parfum di barang itu sering author lakukan ya, jangan di tiru🤭🤭🤭)
"ya mungkin hanya ada tikus yang ingin meneror, sudah tenang saja," Jawab Bu pawoh.
karena dia tak ingin baju itu di bagikan atau di kubur lebih baik dia membakar semuanya bersama-sama.
Bahkan kasur dan lainnya juga, dia benar-benar ingin mengosongkan timah itu dan akan menempatinya mungkin nanti.
__ADS_1
Mas Andi yang melihat istrinya itu merasa sedih, dia pun memeluk sjrng dari belakang.
"jangan sedih dek,mas yakin ibu pasti mengerti," kata pria itu ingin menghibur istrinya.
"tentu saja aku tau itu mas, tapi yang tak membuatku habis pikir, kenapa ibu bisa menjadi wanita yang lebih buruk dari seorang wanita malam, apa karena cinta atau yang lainnya?" kata Ajeng sambil memandangi api yang sedang membara membakar kasur itu.
"jika menurut mas itu semua terjadi bukan karena keinginan ibu, terbukti saat pria buruk itu pergi ibu menjadi normal meski semuanya sudah terlambat," jawab mas Andi.
"ya itu yang aku sesalkan, kenapa saat semua sudah terlambat,aku baru datang saat ingin meminta maaf, tepi Tuhan malah berkehendak lain," kata Ajeng.
"sudahlah dek, setelah selesai membakar semuanya, kita pulang karena ibu sudah mengirimkan pesan katanya, menantu cantiknya ini tak boleh lagi menginap di sini karena dia sudah kangen dengan orang dan masakannya,"kata mas Andi.
"mas bohong, ibu tak akdn mengatakan itu, mungkin itu adik mu," kata Ajeng tersenyum memeluk suaminya itu.
"aku jujur dek, semenjak kamu jadi menantu ibu, dia sekarang sangat gemar memuji masakan mu dan bilang jika bobotnya naik, dan tubuhnya semakin sehat karena kamu pasti masak sayur dan menyediakan buah untuk makan juga," puji mas Andi.
__ADS_1
"aku hanya ingin membuat keluarga kita semakin sehat mas, bukankah itu baik,"
"tentu saja sayang, tentu saja..."