
Mendengar jawaban dari Aina, Ryan sangat senang, karena gadis yang akan dia nikahi memiliki pengetahuan agama yang sangat bagus, begitupun dengan tamu undangan yang menyaksikan mereka tadi, juga sangat Terpukau dengan gadis itu.
"Ayolah, jangan membuat kami iri, kalian berdua itu sudah akan menikah seminggu lagi," kata Ivan merasa frustasi.
"Jika kamu iri, tinggal cari Bos, jangan rusak hubungan kami yang sedang hangat-hangatnya ini," kata Tyo yang datang untuk mengucapkan selamat pada temannya itu.
Mereka pun tertawa bersama, tapi tanpa di duga ada tamu yang datang dan itu membuat semua orang kaget.
Pasalnya keluarga dari Kevin sudah meminta agar pria itu tak menunjukkan batang hidungnya selama acara pernikahan.
"sialan, Kenapa pria itu berani datang ke pernikahanku?" kesal Kevin yang langsung bangkit dari kursinya dan berdiri di sebelah Laila.
"jadi ada apa kamu datang, bukankah kalian harusnya sedang berbulan madu mas," kata Kevin yang melindungi istrinya.
"bagaimana eku bisa pergi saat adikku ini sedang dalam keadaan bahagia seperti ini," kata Vinod dengan santai
Sedang wanita di sisi pria itu menatap cemburu,karena dia tak di perlakukan sama dengan Laila.
"kita sama-sama menantu, tapi kenapa aku tak bisa mengadakan pesta," kata istri Vinod yang merasa tak suka.
"jaga bicaramu, dan cepat pergi dari sini, atau Duduk diam di kamar kalian, dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi, karena kami belum bisa memaafkan apa yang telah kalian lakukan pada keluarga ini." marah ayah Kevin.
"ayolah Ayah, aku juga putra mu, Bahkan aku Putra sulung mu, Meskipun aku hadir di luar pernikahan. Tapi kenapa kalian memperlakukan ku sedikit berbeda dengan Kevin, Apakah hanya karena Kevin hadir karena cinta di antara pernikahan ini, atau kalian lupa jika aku juga hadir karena cinta atau karena kesalahan itu semua tergantung padamu ayah, jadi Berhenti membuatku seperti orang yang luar," marah Vinod.
"jika kau sadar, tempatmu, jangan pernah membuat malu keluarga ini, jadi Tutup mulutmu, dan pergilah! atau tetap diam di dalam kamar, sesuai perintah ayah," kata Kevin.
Ryan yang melihat keributan itu pun merasa sesak, akhirnya dia memberi kode pada beberapa orang kepercayaannya, dan mereka menyingkirkan Vinod dan istrinya ke dalam rumah, dan untuk memberikan pelajaran yang seharusnya.
Akhirnya pesta pun berlanjut tanpa ada masalah, karena Vinod sudah tau tempatnya di rumah itu.
__ADS_1
Mobil Ryan pun melaju cukup santai, dan sesampainya di rumah benar saja sudah banyak yang menunggu.
"untung tadi aku dapat bingkisan dari ibu mas Kevin," kata Aina yang memberikan bawaannya pada Raisa
Sedang milik Ryan sudah di ambil Raina, dan Bima mengambil milik kedua orang tuanya.
"jika kalian tak lelah, nanti akan ada WO yang datang untuk mengurus segalanya, jadi pilih konsep apa yang kalian inginkan,"
"baik mama," jawab keduanya.
Ryan buru-buru masuk kedalam kamar miliknya dan memilih mandi karena dia harus menenangkan sesuatu yang dari tadi membuatnya tak nyaman.
Tok tok tok
"Mas, apa kamu di dalam kamar mandi, bisa tolong cepat sedikit, karena aku sudah tak nyaman, karena tubuhku lengket," suara Aina dari luar pintu.
"tunggu, tunggu sebentar dek, aku sedang dalam masalah, lebih baik kamu mencari kamar mandi lain, atau minta izin Ayah untuk memakai kamar mandi di kamar mereka! Karena aku sudah tidak bisa keluar sekarang," kata Ryan yang mengejutkan Aina
"iya dek!!" jawab Ryan yang akhirnya bisa menyelesaikan apa yang terjadi, dan ini bukan yang pertama, tapi membuatnya merasa bersalah.
"maafkan aku calon anak-anak terbaikku," lirih Ryan yang langsung mandi besar.
Setelah itu dia keluar setelah memastikan tak ada jejak, dia memilih mengambil air minum di kulkas.
Ternyata Aina juga baru selesai mandi dan terlihat segar, bahkan gadis itu tetap mengenakan jilbab saat keluar dari kamar mandi
"apa mas lapar, kan tadi hanya makan sate kambing dan lontong saja di pesta,apa perlu aku buatkan sesuatu," tanya Aina.
"Tidak perlu Dek, aku hanya haus saja, kamu lebih beristirahat, karena aku akan segera kembali ke rumah, karena pekerjaan di sana masih banyak jadi Jangan risau ya," kata Ryan merasa tak enak.
__ADS_1
"tapi Mas, Mama tadi kan sudah bilang, kalau akan ada wedding organizer yang datang, Kenapa Mas mau ke rumah dulu, bukan ke lebih baik menunggu di sini."
"Iya Dek, Mas tahu, tapi kan ini hari gajian, kan, nggak mungkin Mas harus menahan gaji mereka, hanya karena urusan kita, bahkan kita kan dianjurkan membayar upah mereka, sebelum keringat mereka kering."
"ah, benar juga, Maaf ya Mas, Seharusnya aku lebih mengerti," jawab Aina malu.
Ryan tersenyum dan mengusap jilbab Aina sebelum pergi, dia juga berpamitan pada orang tuanya dan berjanji nanti akan balik lagi.
Ryan pun menuju ke rumah yang sedang dua bangun, terlihat rumah itu sudah berdiri megah.
ya karena dia meminta segera jadi, itulah kenapa para pekerja sangat banyak.
Terlihat Ivan sedang membagikan upah kerja, dan Ryan memastikan jika semua di gaji sesuai dengan pekerjaan mereka.
Pukul delapan malam Ryan kembali ke rumah, karena tadi mendapat telepon dari mama wulan, ternyata pihak wedding organizer sudah datang, dan mereka membawakan semua contoh jenis pernikahan dari yang modern hingga yang tradisional.
Aina dibuat bingung, karena harus memilih adat mana yang akan mereka gunakan, tapi Ryan memilih untuk lebih sederhana dan islami, sesuai dengan kepribadian mereka.
Tentu saja mama wulan juga setuju dengan apa yang di inginkan keduanya.
Dan kini mereka juga memilih dan mencicipi makanan yang akan ada di pernikahan.
Karena mau sesederhana apapun, jika sudah menyangkut juragan Baron itu akan terlihat wah.
Bahkan katering saja punya ketentuan khusus, dan untuk undangan juga sudah selesai di cetak.
Karena kemungkinan besar pesta merasa akan terjadi dua hari mengingat begitu banyak rekan bisnis keluarga belum lagi teman-teman dari keluarga.
"Apa perlu kita membuat pesta tujuh hari tujuh malam?" tanya juragan Baron yang ingin merayakan pesta pernikahan putranya.
__ADS_1
"ayolah, Ayah, ini bukan pesta pernikahan anak raja, hingga Ayah harus membuat pesta selama itu?Jangan membuat kami kelelahan, hanya karena pesta, lebih baik kita menggunakan uangnya untuk keperluan yang lebih baik, atau kita santunkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Bagaimana menurut ayah?" tanya Ryan yang membuat juragan Baron diam.
"Yah, itu ide bagus juga, karena itu juga baik untuk kalian, keluarga dan juga baik untuk semua orang, bagus nak," kata pria itu tersenyum senang.