Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
cara didik itu berbeda.


__ADS_3

malam hari itu setelah para tamu pulang, tentu pengantin baru langsung melakukan olahraga, dan karena tangan dari Andika yang terluka.


jadilah sekarang wanita itu yang memimpin permainan beberapa kali hingga tak berdaya.


setelah beberapa lama mereka pun istirahat, sedang di sisi lain ada keluarga juragan Baron yang sedang menikmati waktu bersama mereka.


Bu pawoh sedang mengingatkan putrinya itu untuk cara mendidik seorang anak perempuan.


"ayolah ibu, tahun kura berbeda, aku tau harus bagaimana mendidik putriku jadi ibu jangan panik begitu," kata Wulan.


"apa kamu yakin, karena melihat mu seperti itu aku tak yakin akan benar," kata Bu pawoh.


"aku yakin dengan istriku Bu," kata juragan Baron yang mempercayakan penuh putrinya pada istrinya yang lebih tau segalanya


"aku punya tiga belas cara untuk mendidik putriku Bu,


Pertamanya, mengajarkan ilmu tauhid dengan benar.


Kedua mengajarkan tentang kebaikan dan tanggung jawab, bersikap baik pada semua orang.dan tentunya masih banyak yang lain,"


"baiklah aku tau memang cara didik di zaman kita itu berbeda," kata Bu pawoh.


Akhirnya mereka pun pamit pulang karena sudah seharusnya seperti itu, karena sudah terlalu lama tinggal di rumah anak dan menantunya.


Yang tak baik jika di teruskan, jadi mereka pamit karena keduanya ingin menikmati waktu bersama untuk waktu yang hanya bisa di nikmati saat di rumah.


Sedang di tempat lain, ada Ajeng yang sekarang juga sedang sangat menikmati perannya sebagai seorang menantu dan istri di rumahnya sendiri.


Ya meski tinggal di rumah mertuanya, tapi dia memiliki bagian rumahnya sendiri dan itu membuatnya nyaman.


Sedang kan mas Andi seldlu suaminya juga tak pernah membahas tentang anak karena pria itu juga tak menyukai anak kecil.


Setelah pulang kerja, mas Andi menonton tv bersama dengan istrinya.


Keduanya saling berpelukan dengan mesra, tapi semua terganggu karena keponakan mas Andi datang dengan ayah mereka


Tentu Ajeng kesal dan memilih masuk kedalam kamar tidur pribadinya karena tak nyaman dengan pria itu.

__ADS_1


setelah beberapa waktu akhirnya mereka pun pergi setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


"dasar sialan menganggu waktu ku saja,"geram pria itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


tak terasa sudah beberapa bulan berlalu, kini anak-anak dari juragan Baron sudah bisa duduk sendiri karena sudah berusia lima bulan dan Ryan sudah naik ke kelas Lima.


bocah itu melompati satu kelas bersama Ivan dan Tyo karena kepintarannya yang berhasil membawa Nama baik sekolah dalam olimpiade.


bahkan setelah semua itu mereka sudah mendapatkan banyak tawaran dari SMP yang menjadi unggulan dari jalur prestasi.


Juragan Baron ini memang benar-benar sangat bangga dengan putranya yang begitu hebat itu.


"hei kali ini tak membagikan Snack lagi?" tanya salah satu teman mereka.


"maaf aku sedang berhemat, jadi aku sudah tak akan membagikan Snack lagi, jadi silahkan membeli Snack sendiri," jawab Ryan tegas.


"wah pilih kasih sekali," kata bocah yang lain.


"hei cukup ya, jika kalian tak suka tak usah menganggu, kami juga tak suka kalian menganggu kami," kata ivan


"tutup mulut mu anak penjahat, ayah mu saja masuk penjara apa kamu tak malu," marah Tyo.


"jangan hina ayah ku!!" teriak bocah itu ingin menonjok Tyo tapi tanpa terduga Ryan langsung mendorong bocah itu hingga terjatuh.


Ya Ryan memdng mendapatkan pelatihan khusus bersama ayahnya, ya dia berlatih muathai, karena sekarang juragan Baron sedang menyukai olahraga itu.


"sialan!!" maki bocah itu yang langsung ingin menyerang Ryan, tapi Ryan menonjok bocah yang lebih besar darinya itu dengan mudah.


"berhenti di sini atau aku akan membuat mu tau siapa yang akan di bela oleh sekolah, anak juragan Baron yang terkenal di seluruh desa, atau anak seorang pria yang terkenal menjadi penjahat di seluruh desa," kata Ryan yang membuat bocah itu malu dan memilih pergi.


Pasalnya dia tak pernah mendapatkan penghinaan seperti ini, Ilmi yang sekarang jadi adik kelas Ryan pun merasa bocah itu berubah.


Ya Ryan kini terlihat menunjukkan siapa dirinya, dan tidak seperti ryan yang baik seperti dulu.


Bahkan sekarang dia tak mau di antar jemput lagi, melainkan memilih untuk berangkat sendiri dengan menggunakan sepeda miliknya.

__ADS_1


Ilmi beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara tapi tak di gubris jadi Ilmi berhenti untuk mencoba berteman dengan Ryan dan dua pria lainnya.


Ivan merasa jika perangai dari Ryan ini memang berubah, tapi hanya pada beberapa orang tertentu, sedang untuk Ilm.


Ivan tau benar alasan dari Ryan menjauhi gadis itu bukan untuk membuatnya sedih.


Melainkan agar gadis itu tak di ganggu oleh para gadis yang menyukai Ryan,karena tidak satu kali dua kali Ilmi di ganggu


Hingga pilihan untuk menjauhinya itu di pilih oleh ketiga pangeran sekolah ini.


"jadi Suang ini kita belajar di rumah Tyo?"


"kenapa tidak di rumah mu, ya setidaknya di rumah mu banyak makanan," kata Tyo heran


"kalian itu menyebalkan, jika Di rumah ku kalian tak akan fokus belajar naskah akan fokus pada adikku, bukankah itu menyebalkan, jadi tidak ini belajar kelompoknya?" tanya Ryan kesal karena kedua temannya itu seperti malas jika tak ada camilan.


"tenang camilan aku yang tanggung, karena aku ingin fokus belajar dengan baik." kata Ryan.


"itu baru bagus..." kata Ivan dan Tyo.


Akhirnya saat pulang sekolah, mereka di berikan kue oleh beberapa kakak jelas tapi mereka mengabaikannya.


Sedang saat di menuju ke perjalanan ke rumah Tyo, mereka sempat berhenti membeli jajanan, untung tadi Ryan dapat uang saku lebih dari ayahnya


Setelah memilih dan membayar, kerja pun lanjut menuju ke rumah Tyo untuk belajar kelompok, dan rumah itu punya halaman luas serta pohon yang banyak.


Belum lagi teras itu sangat nyaman karena sangat teguh, belajar pun sangat nyaman di banding di rumah bayi Ryan.


Karena suara mamanya yang begitu berisik saat bersama dengan kedua adiknya yang sangat aktif.


kadang malah dia lupa belajar karena terlalu banyak bermain dengan dua adik perempuannya.


"Ryan kamu tak mau menambah adik lagi?"


"Aha kamu gila bertanya seperti itu pada ku Ivan," tanya Ryan kesal pada temannya itu


"ya kali, ini kan baru dua perempuan, siapa tau mau dia laki-laki kan biar pas gitu," kata tyo.

__ADS_1


"wah kalian mulai berani mengejekku ya," kata Ryan itu dengan sangat kesal.


Tapi dia sebenarnya juga masih ingin, tapi mengingat bagaimana perjuangan ibunya, dia pun tak mau melihat Wulan kesulitan seperti itu lagi demi melahirkan adik-adiknya.


__ADS_2