Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
tidak menyerah


__ADS_3

Aina sudah menghitung semua yang di beli, tapi dia lupa belum membeli semangka dan beberapa kue basah.


"mas, kue basahnya belum,"


"kura masuk yuk," ajak Ryan.


Tapi tiba-tiba seorang gadis menghentikan langkah mereka berdua, "assalamualaikum..."


"wa'alaikumussalam, kamu di sini Ilmi," kaget Ryan


"Iya, habis belanja untuk jualan di kantin, lumayan bukan untuk menambah uang jajan," kata Ilmi tersenyum ramah.


"benarkah, itu memang benar, kamu memang berjiwa bisnis dan pantang menyerah dari kecil ya," kata Ryan yang malah asik mengobrol dengan gadis itu.


Aina yang takut kehabisan pun memilih berangkat sendiri untuk belanja


dia memilih tiga semangka berukuran besar, dan juga ada Lina jenis kue basah juga.


Setelah itu, dia melihat ada penjual Klanting yang sudah jarang ada, jadi dia membelinya toh Ryan pasti sedang sibuk dengan ilmi.


Di tengah pembicaraan antara dirinya dan ilmu, Ryan ingat dengan Aina, "sudah ya kita sambung lagi, karena aku harus beli sesuatu, ayo Aina," kata Ryan yang menoleh ke belakang tapi gadis itu tak ada.


"loh Aina!" kata Ryan cukup keras.


"sepertinya dia belanja sendiri deh, kan tadi kita ngobrol dan dia gak mau ganggu sepertinya," kata Ilmi dengan santai.


"apa, tidak boleh dia bisa tersesat," kata Ryan panik.


"ayo aku temani mencarinya, aku hapal pasar ini," kata Ilmi mengajak pria itu.

__ADS_1


Keduanya mulai berjalan mencari Aina, tapi yang di cari malah sampai di mobil dan dia lupa tak bawa ponsel juga.


"ya... Aku di tinggalkan sepertinya, apa mereka pergi cari sarapan berdua tanpa aku," lirih Aina yang merasa sedih.


Karena dia membeli ongol-ongol dan lepet kesukaan dari Ryan, yang selalu beli jika ada.


Ryan dan Ilmi masih berkeliling, bahkan Ryan melewati para penjual kue basah dan buah tapi tak menemukan sosok Aina.


"bagaimana kalau kamu pulang dulu, nanti minta tolong yang lain untuk cari Aina," kata Ilmi memberikan ide.


"tidak, aku tak boleh kehilangan Aina," kata Ryan yang berlari seperti orang gila.


Setelah puas berkeliling, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi rumah.


Tapi saat dia akan sampai di mobil, dia melihat Aina yang sedang duduk di samping mobil sambil memeriksa belanjaan.


dia langsung lari dan menghampiri gadis itu, Aina yang melihat Ryan pun bangkit, "mas dari mana," tanya Aina dengan nada kesal.


"aku beli semangka, kan mas dan mbak Ilmi tampaknya sangat akrab saat berbincang jadi aku beli sendiri," jawab Aina.


"lain kali jangan lakukan itu, aku bisa gila jika kamu hilang," marah Ryan.


"iya maaf," jawab Aina.


"kamu itu gadis kok ceroboh sekali sih," tegur Ilmi yang tak suka dengan Aina.


"berhenti, kamu tak boleh memarahinya, itu kesalahan ku, sekarang kita pulang karena pasti Mbah uti sudah khawatir," kata Ryan yang tak ingin melihat Aina di hina atau di marahi seseorang.


"tapi Ryan,"

__ADS_1


"cukup Ilmi, kita menang teman, tapi bagiku Aina sudah seperti adikku, jadi jangan berani meninggikan suara mu atau mau memarahinya," kata Ryan yang langsung menyuruh Aina masuk dan mengemudikan mobil miliknya.


Ilmi hanya melihat mobil itu pergi jauh,"meski kamu begitu melindunginya, toh yang akhirnya nakan jadi istrimu adalah aku, kita lihat saja, setelah aku menikah dengan ku,aku akan membuang gadis sialan itu dari hidup kita," kata Ilmi yang benar-benar tak suka pada Aina


Selama di dalam mobil, Ryan terus diam, dan sesampainya di rumah mereka pun langsung berpencar.


Aina membantu di bagian dapur, bahkan dia membuat sate jeroan dan usus.


Dan juga sambel goreng juga, karena itu semua kesukaan dari juragan Baron dan di kembar.


bahkan Bu pawoh merasa heran bagaimana bisa gadis yang baru jelas tiga SMP bisa secepat ini dalam memasak.


Dan di tambah lagi, ada soto geromohan yang tadi di beli, dan itu adalah kesukaan dari Ryan dan mama Wulan.


"hari ini yang memasak adalah putri kesayangan ku, aduh Aina memang paling baik dan terbaik," puji Bu pawoh memrluk gadis itu.


"terima kasih Mbah uti,",


setelah selesai, Aina bersiap untuk ke sekolah, karena hari itu dia masuk jam sembilan pagi karena ada kegiatan ekstrakurikuler dan pendalaman materi saja.


Ryan pun mengantarkan Aina hingga sekolah, tentunya tak akan membiarkan gadis itu kesulitan.


"uang saku ku dek," kata Ryan memberikan uang lima puluh ribu.


"mas tau, hari ini mas itu orang nomor lima yang memberikan uang saku,"


"benarkah?"


"benar, tadi Mbah uti, kemudian Mbah Kakung, terus ayah Baron, kemudian terakhir mama, saat aku menolaknya mereka semua sedih," kata Aina.

__ADS_1


"karena kamu kesayangan semua orang, tapi ini ambillah untuk mu berjaga-jaga, jadi simpan ya dek," kata Ryan memberikan uang tiga ratus ribu.


"terima kasih ya mas," jawab Aina yang mencium tangan Ryan kemudian masuk kedalam sekolah.


__ADS_2