
Ajeng masih sangat terpukul, malam hari Rojak dan Azizah di minta ke rumah sakit untuk melihat kedua orang itu.
"selamat malam mbak, kamu bawa makanan dari mbak Wulan untuk kalian, jangan sampai kalian juga sakit saat ini," kata Azizah dengan lembut.
"ah terima kasih, dia dan juragan batin sangat memberikan bantuan besar, bahkan dokter sangat intensif dalam menjaga kondisi ibu ku," lirih Ajeng yang merasa beruntung memiliki saudara seperti Wulan
Ya roda itu berputar, dulu Wulan dan ibunya sempat hidup menderita karena status mereka yang seorang janda.
tapi lihatlah sekarang, mereka benar-benar berada di atas dengan menikahi pria pria yang sempurna dan mencintai mereka dengan tulus.
Dia juga beruntung memiliki suami seperti mas Andi yang selalu menjaganya, yang Ajeng sesali hanya satu tak bisa mengatakan dan menasehati ibunya itu saja.
"mau aku suapi,kamu gemetar karena dari tadi siang belum makan apa-apa," kata mas Andi pada Ajeng dengan suara lembut
dengan penuh kasih sayang, mas Andi menyuapi istrinya itu, sedang Rojak dan Azizah memutuskan untuk santai saja di kursi lain.
Tiba-tiba dokter dan perawat berlarian ke arah ruang ICU, Ajeng panik tapi mas Andi mencoba membuat istrinya itu tenang.
__ADS_1
"mungkin orang lain, tenang dek," kata pria itu.
Sedang di rumah,Bu pawoh masih tak percaya dengan apa yang dia dengar dari putrinya, bagaimana bisa wanita yang terkenal sangat keras kepala itu.
kini sedang tak berdaya di ruang ICU, bahkan karena penyakit yang menular juga.
"kamu menghawatirkan tun?" tanya pak Dikin
"iya mas, bagaimana pun dia tetap saudara ku meski kami tak punya ikatan darah,"
"padahal aku ingat betul jika dulu dia sangat membenci mu dan Wulan, tapi kalian begitu baiknya,"
"sudah Ryan sudah ketiduran setelah mengerjakan tugas dari gurunya, sepertinya kegiatan karate itu membantunya membuang tenaganya yang berlebihan, begitupun di kembar yang tidur di tangan ibunya," kata pak Dikin tersenyum.
"aku merasa beruntung punya suami yang bisa menemani ku, dan juga cucu-cucu yang manis," kata Bu pawoh yang menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"iya dek, dku juga beruntung," jawab pak Dikin.
__ADS_1
Wulan dan juragan Baron yang ada di ruang tamu seperti menyaksikan drama para orang tua, pasalnya mereka sedang sibuk menghitung gaji para karyawan.
Ya warga desa mulai menata hidup lagi, beberapa orang yang di jebloskan ke penjara juga sudah keluar,
Dan di desa tak ada pekerjaan untuk mereka hingga harus pergi keluar desa.
sedang di sisi lain, usaha milik juragan Baron bukannya makin surut malah makin menggurita.
Saat sedang sibuk, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari Azizah.
"iya Azizah, ada apa?" tanya Wulan yang menjawab panggilan itu.
tiba-tiba ponsel wulan terjatuh dan membuat juragan Baron menoleh, "ada apa sayang?" tanya pria itu melihat raut wajah istrinya berubah.
"mas... Bibik tun meninggal dunia," kata Wulan yang membuat juragan Baron juga terkejut
"apa dek," kagetnya
__ADS_1
pak Dikin dan Bu pawoh pun masuk dan mereka pun bagi tugas, akhirnya juragan Baron dan pak Dikin yang berangkat ke rumah sakit.
mengingat bagaimana kondisi Wulan yang sedang hamil tak baik jika harus keluyuran di malam hari.