Si Janda Yang Menggoda

Si Janda Yang Menggoda
berpisah dulu ya


__ADS_3

Aina sedang bersama mama Wulan, "apa masih tak enak sayang," tanya mama wulan.


"Tidak mama, sudah mendingan dan terima kasih, mama jadi repot,"


"tidak ada yang repot, mama juga suka membantumu kok,tapi sepertinya ada yang kamu sembunyikan ya," tebak mama Wulan.


"sebenarnya sebelum ayah sakit parah, aku pernah ingin mondok di salah satu pesantren di Jombang, dan ayah sudah menyetujuinya dan akdn mendaftarkan aku setelah lulus sekolah menengah pertama, tapi semua berubah setelah ayah meninggal dunia mama," jawab Aina dengan sedih.


"kalau boleh tau di pondok mana sayang,"


"Tam**kb***s Jombang ma,"


"baiklah nanti mama coba bilang pada ayah Baron, siapa tau ayah punya kenalan di sana, dan bisa membantu mu,"


"terima kasih mama," jawab Aina yang merasa senang.


ya itu memang pilihan terbaik, mengingat cara Ryan memperlakukan Aina yang begitu posesif.


Dia takut jika putranya itu khilaf dan terjadi hal-hal yang tak di inginkan, dan di tambah jika Aina bisa Mondok itu akan baik untuk segi agama gadis itu.


Aina di minta istirahat, dan mama Wulan langsung membicarakan permintaan Aina.

__ADS_1


dan beruntung juragan Baron memiliki kenalan ustadz dan pemilik pondok di daerah itu, di tambah untuk sekolah dia bisa mengurus segalanya karena sekolah di sana juga terkenal sangat bagus.


"tapi mama takut,"


"kenapa ma, bukankah bagus jika Aina ingin memperdalam ilmu agamanya," kata juragan Baron yang duduk sambil menikmati kopinya.


"aku takut Ryan marah, ayah lihat sendiri bagaimana dia menjaga Aina,"


"nanti biar aku yang jelaskan, karena putra mu itu tak bisa di ajak bicara dengan buru-buru, dia harus di ajak bicara dengan baik,"


"baiklah terserah ayah saja, aku akan ikut nanti," jawab mama Wulan.


sore hari, Ryan baru pulang dari kegiatannya yang seabrek, dan dia baru juga selesai mandi sudah mencari Aina.


"kamu sedang apa dek," tanya Ryan yang langsung tidur dengan bantal paha Aina di depan tv karena lelah.


"sedang nonton," jawab Aina memijat pelan kepala Ryan.


"mas... Aku ingin bilang sesuatu,"


"ada apa?" tanya Ryan yang menutup matanya.

__ADS_1


"aku ingin mondok sesuai permintaan ku pada ayah dulu, apa mas mengizinkan," tanya Aina.


"kenapa sekarang, aku tak bisa membiarkan mu hidup seperti itu, mondok itu sulit dek, kamu tau jika semua kegiatan kita di atur,"


"tapi ayah sudah menemukan pondok yang pas, dan kamu juga mengenal siapa pemiliknya," kata juragan Baron.


"tapi ayah kenapa... Aina baik-baik saja disini, apa kalian keberatan dia tinggal di sini, aku bisa membawanya tinggal di rumah ku,"


"tidak Ryan,ya Allah le.... Bukan begitu," panik mama Wulan mendengar ucapan putranya itu.


"Aina ingin memperdalam agama, Aina ingin bisa menjadi wanita sempurna dalam agama dan kehidupan ini, Aina tak mau membuat suami masa depan Aina masuk neraka karena kebodohan ku," kata Aina mengenggam tangan Ryan.


"dimana, dan siapa ustad ya,"


"di Tam***be*** dan itu milik teman ayah," jawab juragan Baron


Ryan mengangguk dan waktunya bersama Aina tinggal beberapa bulan, karena setelah itu mereka akan berpisah.


Dan tentu saja dia tak ingin membuat Aina sedih, dan selama perpisahan nantinya.


Dia harus menjadi pribadi yang kuat dan bisa diandalkan, dan harus menjadi pria yang memperbesar usaha peninggalan orang tua Aina.

__ADS_1


__ADS_2